Membaca Realitas
728×90 Ads

Bay Guna Tobona

Syahdan,
Kata-kata itu berkelahi di dalam kepala
Awan putih memeluk lara di puncak Tabona
Mengingat wajah Limau Gapi Ma Tubu yang murung tiap kali Kolano pulang
Bandar Rua Akerica suram wajahnya

Jogugu Hidayat,
Menghadap teluk Gam Lamo, lalu heningkan kalbu
Kiemalaha yang disegani Kaicil dan Bobato bersilah diatas tikar bambu
Matanya mengawasi sesudah Babullah Pulang ke asal

Kapal-kapal itu, tempat kuasa asing nan licik berpesta
900 purnama lebih,
sejak Antonio de Abreu dan Fransesco Serrao datang,
hingga Lopez de Mesquita dan Antonio Pimental
membunuh Kapita Khairun

Invasores Datang dan pergi,
Satu kapiten ganti satu kapiten memukul gendang huru-hara,
meniup fitnah ke dalam istana, dan
menyanyikan requiem bagi para kolano
di Castella Nuenstra Senhora Del Rosario.

Kata-kata itu masih berkelahi di kepala
Mengapa janji Foramadiahi hingga Bab Mashur Malamo tinggal cerita?
Bukankah melawan kolonialisme dan monopoli rempah-rempah adalah jihad?

Sio,

Lara ini karena cinta kepada Bay Guna Tobona,
Boki Moloku Ternate moyangmu.
Rindu pada yang sentosa.

Ternate, 1 Agustu 2019
Nasarudin Amin

728×90 Ads