Membaca Realitas
728×90 Ads

Sajak Peluruh Rindu

Oleh

Abdul M. Ashab

Aku Bagai Asing di Pelupuk Matamu..

Semula Kita Pernah Tumbuh Diantara Bentang Kata Bernama Cinta

Alam Menjadi Saksi Bisu diatas Altra Lapisan Langit 99 Wujud Rindu

Sehelai Nafas Terbungkus Ayat Ragaku Tersirat Namamu

 

Matamu yang dingin Membutakan Seribu Narasi Dinding Logika Ku

Nada Rasa Tertulis Rindu Kau Terbangkan

Bersama Angin Dicerca Burung di Persimpangan KotaNona..Aku Tak Mampu Bernafas Meresapi Alam

Betapa Kau Buat Ku Tenggelam Ke Dasar Selat dan Teluk Halmahera

Masih Ingatkah Kau Akan Raut Wajahku .?

 

Nona…Di Dalam Semesta Hatiku ini..

Ada Seberkas Rindu Yang Mengguncang yang Tak Kunjung Habis dan Terpaut

Di Dalam Rentang Masa Yang Kian Memuai

Ada Segores Nama Yang Tak Jua Pupus dari Memoriku

Yang Menyayat teramat Dalam..

 

Nona…Aku Hampir Mati Menanggung Cinta,  Dan Membendung Rindu ini

Yang Berserakan Bersama Karang – Karang

Terbawa Arus Hingga Ku Jauh Berlalu Semakin Jauh..

 

Waktu Berjalan Begitu Cepat, Kaupun Hilang Dimakan Zaman

Catatan Rasa Telah Hancur Berderai Berceceran

Diatas Jalan Tangisan Cinta Bertinta Merah..

Dalam Hitungan 1 2 3 Jiwa Ini Sengit Tak Berdaya

Bila Teringat Raut Wajahmu seakan Menderu Perkasa di Benakku

 

Nona…Aku Harap Kau Dengar Ratapanku Ini..

Entah Kapan Kita Dapat Bersua dan Bercumbu Lagi

Bagai Masa – Masa yang Lalu…

 

Aku Masih Menunggumu dipersimpangan Tanjung

Yang penuh Cinta tanpa Memikirkan Duka

Dengan Penuh Pengharapan…

728×90 Ads