Membaca Realitas
728×90 Ads

Sunyi di Laut Mu; Susupu

Oleh

WD Gafur

 

Akan datang,

Malam-malam yang indah,

Malam-malam yang suci,

Saat pendar bulan kian memutih;

Kian pupus terpupuk benih-benih duri,

Kian bening membersihkan diri,

Subtil dan Ganjil.

 

Tapi, percayalah pada tinta.

Karena tuhan akan gelisah,

Saat penyair menulis kata cinta,

Katanya.

 

Mari kita pergi, Kau dan Aku,

Melalui lorong-lorong berbatu,

Menemui Hantu dan Suanggi,

Dalam terang kedalaman hutan,

Dalam hening, bunyi Jangkrik.

 

Mari pergi;

Melihat kebun-kebun yang mekar,

Rumah-rumah purba,

Tempat Leluhur kita di lahirkan ke dunia,

 

Mari pergi;

Sesekali mendengar alam bernyanyi,

Dalam gelicau Cekakak murung

Yang sedang melahap Belalang,

Sambil menunggu Kelabang tertelan,

Dan anak-anak Kadal yang akan datang,

Di tepi sungai yang memisahkan Marimbati.

 

Mari pergi.

Melalui angin yang datang dari lepas pantai Lapasi,

Melewati apa-apa yang terlupakan di Ake Diri,

Kita mencari dalam rayuan kulit Kenari,

Kita menari dan menemukan mimpi,

Karena rindu akan selalu menyertai,

Doa-doa yang berpulang ke dalam Matamu,

 

Ibu.

Mari pergi,

Sekali lagi,

Kau dan Aku.

Saat pagi-pagi berlalu,

Melewati jalanan bersiku,

Menuju surga di pesisir tubuhmu,

Laut itu, Laut-mu; Susupu.

 

Di tembok-tembok sumur,

Tempat ingatan berkerumun,

Harapan-harapan terdengar kian nyaring,

Kesungguhan-kesungguhan untuk pergi,

Berani mewujudkan mimpi.

 

Sebagaimana tuhan

Yang bergembira,

Menyaksikan seorang penyair,

Mengalirkan cinta lewat

Helai-helai kertas dan tinta.

728×90 Ads