Membaca Realitas
728×90 Ads

Tips Cegah Kekerasan Seksual pada Anak Ala Dokter Yazzit untuk Orang Tua di Malut

Kalesang – Angka kekerasan Seksual kepada anak menurut data Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sepanjang 2021 sebanyak 207 Kasus. Dimana untuk Provinsi Maluku Utara sendiri tercatat sekitar 59 Kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Hal tersebut, menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan orang tua. Dengan memberikan edukasi kepada anak. Agar pencegahan terjadinya kekerasan seksual terhadap anak dapat dimulai dari lingkungan keluarga.

Berikut Tips yang dianjurkan oleh Dokter Ahli Jiwa, dr. Yazzit Mahri. Dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sofifi, kepada orang tua di Maluku Utara, agar dapat mencegah anak dari kekerasan seksual.

Menurutnya hal pertama yang dilakukan Orang Tua kepada Anak yakni dengan Menjalin Komunikasi dan Kehangatan dengan Anak.

Komunikasi dapat menjadi upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak. Dengan komunikasi, orang tua akan memberikan informasi kepada anak terkait edukasi seksual. Sebaliknya, komunikasi juga dapat memberikan gambaran kepada orang tua mengenai dengan siapa anaknya berinteraksi dan apa saja yang dialami olehnya.

“Topik yang didiskusikan beragam, tetapi dalam konteks kekerasan seksual, orang tua bisa menanyakan, seperti Apa yang kamu rasakan kalau ada orang lain menyentuhmu tanpa izin?. Apabila anak memberikan pendapatnya mengenai topik tersebut, orang tua dapat melanjutkan diskusi dengan edukasi mengenai seks.” Jelasnya,

Selain Menjalin Komunikasi dan Kehangatan dengan Anak, Orang Tua juga harus rutin memberikan Edukasi atau Pendidikan Seks kepada Anak.

Meskipun edukasi seks masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat, hal ini dapat menjadi langkah utama dalam mencegah kekerasan seksual pada anak. Edukasi seks ini dapat memberikan pengertian bagi anak bahwa tubuhnya merupakan ranah privat yang tidak bisa disentuh oleh orang lain tanpa persetujuannya dan mereka berhak merasa tidak nyaman apabila ada orang lain yang menyentuh tubuhnya.

Dokter Ahli Jiwa di RSJ Sofifi tersebut menekan pentingnya edukasi seks kepada anak. Edukasi seks harus berdasarkan usia anak. Dimana untuk anak usia 18 bulan ajarkan anak mengenai nama-nama bagian tubuh dengan tepat, Usia 3 sampai 5 tahun ajarkan anak mengenai bagian-bagian tubuh privasi serta cara berkata “tidak” untuk tindakan seksual.

Untuk anak yang sudah berusian 5 sampai 8 tahun ajarkan perbedaan antara sentuhan baik dan sentuhan buruk agar anak dapat menjaga diri ketika berada di luar rumah. Nah untuk  anak dengan usian 8 sampai dengan 12 tahun, mulailah diskusikan mengenai keamanan diri dan aturan perilaku seksual yang diterima oleh keluarga.

“jadi untuk pendidikan seks itu harus diterapkan sejak anak masih berusia 18 bulan, agar mereka dapat memahami tentang seks memang hal tersebut, masih tabu untuk masyrakat. Tapi, itu penting.” Tuturnya.

Yazzit juga meminta agar Orang Tua harus melakukan deteksi dini terhadap sikap Anak.

Anak-anak yang mengalami kekerasan seksual tidak selalu memiliki tanda yang jelas. Beberapa anak mungkin akan berusaha menutupi apa yang dialaminya dengan tidak menceritakan kekerasan tersebut kepada orang tua. Namun, orang tua perlu mewaspadai hal-hal yang mencurigakan tampak pada anak dan terlihat terus-menerus dalam jangka waktu panjang, diantaranya:

Anak mengalami perubahan sikap yang drastis. Hal ini bisa dilihat apabila anak yang semula ceria dan ramah tiba-tiba menjadi murung dan menghindari orang lain, Anak mengeluhkan rasa sakit pada bagian tubuhnya, terutama pada bagian alat kelaminnya, Anak mengompol, padahal sebelumnya tidak pernah mengompol lagi,  Anak mengalami penurunan dalam prestasi belajar dan Anak meminta untuk tidak ditinggalkan sendiri.

“Apabila orang tua mendapati tanda-tanda tersebut pada anak, jangan ragu untuk langsung membawa anak menuju dokter anak atau psikolog anak untuk memeriksakan kondisi fisik dan psikologisnya.” Ungkapnya.

Yang terakhir menurutnya Orang Tua harus mengajarkan Anak untuk membuat batasan.

Kenapa ini sangat penting diterapkan oleh orang tua, dikarenakan dengan membatasi kedekatan atau sentuhan anak dengan orang lain atau orang yang tidak dikenal dapat membantu agar anak terhindar dari kekerasan seksual.

“Batasan atau boundaries perlu dibicarakan dengan anak. Dalam konteks ini, anak perlu diajarkan untuk mengatakan tidak atau menolak secara tegas apabila ada orang lain yang ingin menyentuh tubuhnya. Anak juga perlu diajari untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan.” Tutup Dokter Yazzit.

Dokter Yazzit, juga sampaikan bulan maret 2022 nantinya Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sofifi Maluku Utara, sudah tersedia tenaga Dokter spesialis Anak. Sehingga para orang tua nantinya sudah bisa melakukan konsultasi terkait dengan anak di RSJ Sofifi.

Penulis:  dr. Yazzit Mahri, M.Kes,Sp.Kej (Dokter Ahli Jiwa RSJ Sofifi)

 

728×90 Ads