Membaca Realitas
728×90 Ads

Sebuah Kabar Pilu

 

Sebuah Kabar Pilu

Oleh: Junaidi Drakel

 

Gedung tinggi di kota itu terus berdiri kokoh. Dikeliling pagar setinggi dua meter. Lengkap dengan penjaganya. Megah. Masih selalu indah dan kebanggaan kota. Di hari-hari biasanya tak sembarang orang bisa masuk ke sana. Kecuali di hari tertentu. Wajah apa saja pasti ditemukan di halamannya.

“Sampai saat ini aku belum pernah masuk ke dalam gedung besar itu. Aku penasaran sih. Tapi kan kita tidak bisa masuk,” kata Arman kepada temannya, Rusdi.

Arman lahir di kota itu. Ia anak ketiga dari 5 bersaudara. Ayahnya seorang petani, sesekali jadi nelayan. Lantaran keterbatasan ekonomi, lelaki hitam manis itu hanya bisa sekolah hingga SMA. Sejak lulus SMA sebagian teman-temannya berangkat kuliah.

Arman sangat menginginkan itu. Tapi apa daya, lelaki berambut keriting ini hanya bisa simpan keinginannya di dalam hati. Bukan hanya temannya, tetapi pacar Arman sewaktu SMA, Anita, juga berangkat kuliah di salah satu kampus ternama. Anita memilih jurusan kesehatan.

Sejak itu, Arman lebih banyak habiskan waktunya di atas minuman keras. Ia mabuk setiap hari. Rusdi adalah anak pejabat. Namun tak punya niat untuk kuliah.

“Seandainya aku jadi kamu, pasti aku sudah kuliah. Kan bapak ibumu punya banyak uang. Kenapa kamu sia-siakan kesempatan,” kata Arman kepada Rusdi.

“Aku bukannya tak mau kuliah. Tapi aku sedikit kecewa dengan orangtuaku. Mereka terlalu sibuk tinggal di Jakarta. Kita tak punya waktu duduk bersama,” kata Rusdi sambil tersenyum.

Sudah tiga tahun Arman menganggur. Kadang-kadang ikut kerja bangunan. Hampir setiap hari ia hanya mabuk. Minum di sembarangan tempat. Orangtuanya seperti sudah pasrah. Alam telah membesarkan hidupnya. Setiap kali duduk minum Arman selalu bicara soal kuliah.

Anita wisuda. Dari kota besar ia balik ke kampung. Kulitnya putih. Bersih. Kecantikannya tak perlu diragukan. Sebagian besar para jantan bujangan di kampung tertarik padanya. Anita masih setia dengan Arman. Cinta mereka terjaga dengan doa-doa. Malam pertama Anita tiba di kampung, Arman ajak perempuan berdarah arab itu jalan-jalan dengan motor metik.

“An, aku tak yakin kita bisa bersama sejauh ini. Kamu makin cantik. Tadi siang waktu di pelabuhan aku hampir tidak mengenalmu. Aku sangat merindukanmu, An,” bisik Arman.

“Ah biasa saja. Kamu jangan berlebihan. Malam ini kita mau jalan kemana. Jangan terlalu larut, nanti ibu dan bapak mencariku. Aku juga sangat merindukanmu, Man,” kata Anita.

Sejak Anita masih duduk di bangku perguruan tinggi, perempuan hidung tinggi itu terus melarang Arman agar tidak mabuk. Lantaran jarak yang amat jauh, Arman tidak mendengarnya. Tapi setelah satu minggu Anita berada di kampung, lelaki bermata besar itu sudah tak menyentuh minuman keras. Ia dijaga ketat oleh Anita.

Hampir setiap hari dua pasangan kekasih itu terus ketemu. Di taman dekat kota tempat andalan mereka melepas rindu. Di bawah rembulan yang syahdu, Arman sampaikan niatnya yang telah dipendam sejak tahun lalu. Mata Anita melotot. Bibirnya kecilnya terbuka tanpa kata. Sekitar lima menit Anita terdiam.

“Apakah kamu serius mau melamarku, Man?. Kamu sudah ada uang simpanan?. Kemarin malam ibu dan bapak duduk di meja makan, mereka bilang ke aku jika ada laki-laki yang mau melamarmu, maka uang panainya harus 100 juta,” kata Anita.

Telinga Arman berdiri setelah dengar angka 100 juta. Ia menelan ludah. Di hadapan perempuan yang dicintainya itu Arman tak tunjukkan sikap untuk mundur. Meski dalam hati nilai sebesar itu sangat mustahil ia dapatkan.

“Jika memang itu yang diinginkan orangtuamu, demi mendapatkanmu seutuhnya, aku akan berusaha. Kasih aku waktu, An,” kata Arman.

Sebulan telah berlalu. Arman kebingungan bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan. Uang sebanyak itu tidak mungkin didapatkan sekejap mata. Butuh waktu panjang. Harus berdarah-darah. Arman mendapat informasi pekerjaan dari Rusdi. Dua sejoli itu sempat berdiskusi panjang lebar.

“Man, tadi aku sempat baca berita terkait penerimaan karyawan perusahaan tambang. Gajinya lumayan. Kalau kamu berminat, aku bantu kamu mengajukan lamaran lewat internet,” kata Rusdi.

“Okeh baik, aku setuju. Bentar malam aku bicarakan ini dengan Anita. Mudah-mudahan Anita setuju. Aku sampaikan juga ke orangtuaku,” ujar Arman.

Arman lebih dulu meminta restu kepada orangtuanya. Mereka setuju. Di malam hari Arman dan Anita janjian akan ketemu. Motor Arman sudah parkir di depan rumah pak RT, ayahnya Anita. Di taman andalan mereka menjadi perbincangan malam itu.

“An, sini kamu lihat mataku. Demi menikahimu, maukah kamu ijinkan aku mengadu nasib di perusahaan tambang? Untuk dapatkan 100 juta seperti yang orangtuamu minta, bagi aku satu-satunya jalannya dengan bekerja sebagai karyawan tambang. Gajinya lumayan. Satu tahun aku di sana,” kata Arman.

“Sebenarnya hatiku sangat keberatan. Kan kamu tahu sejak lulus SMA kita berdua sudah terpisah oleh jarak. Ya sudah, aku relakan kamu kerja. Ini demi masa depan kita. Kamu hati-hati di sana. Jaga dirimu baik-baik,” kata Anita dengan berlinang air mata.

Setiap kali ada kapal yang keluar dari dermaga kota, pasti di antara ratusan penumpang yang ada di dalamnya itu terdapat orang-orang yang mengadu nasib di kota lainnya. Kebanyakan di perusahaan tambang. Sore itu, meski sudah pukul 16:00, matahari masih sangat terbakar.

Orang-orang sibuk kesana-kemari. Truk pengangkut barang terus keluar masuk. Dari sekian penumpang yang mau berangkat, salah satunya adalah Arman. Sudah ribuan orang yang keluar dari kota demi mencari pekerjaan.

Tutttttttttt tuutttttttttt. Bunyi penanda kapal yang bakal siap berangkat dari dermaga. Tak ada keluarga yang mengantar kepergian Arman. Anita juga tak kunjung tiba. Sebagian penumpang sudah siap di ranjang mereka. Arman masih di atas dermaga. Matanya selalu melihat ke arah gunung.

Ia gelisah. Kegelisahan itu akhirnya menjadi senyum yang bahagia. Pujaan hatinya berlari menuju ke arahnya. Mereka berdua berpelukan. Tak peduli seberapa banyak orang yang melihat mereka. Suara tangisan meledak begitu saja.

“Man, aku sangat mencitaimu. Man, hatiku sangat berat berpisah denganmu. Aku tak kuat. Aku merindukanmu, selalu, Man. Jaga dirimu baik-baik. Aku doakan tuhan selalu menjagamu di sana,” bisik Anita.

Arman tak mau berkata apa-apa. Ciuman terakhir ia tempelkan bibirnya di testa Anita. Matanya merah. Dengan berat hati Arman lepaskan tangan Anita. Ia bergegas naik di atas kapal. Semua penumpang sudah ada di dalam kapal. Para ABK dan nahkoda bersiap untuk berangkat. Tangga telah ditarik. Tali telah dilepas dari posisinya. Arman berdiri di depan kapal.

Ia berusaha kuat dan tersenyum. Sedangkan Anita masih terisak. Anita berdiri sambil menatap kapal yang dengan pelan membelah lautan. Semua pengantar telah pergi. Hanya ia seorang diri. Berdiri hingga kapal hilang dipandang mata.

Lima bulan telah berlalu. Semangat mencari uang masih terus membara di hati Arman. Lantaran Arman yang sangat sibuk dengan pekerjaannya, akhirnya Anita dan Arman sangat jarang memberikan kabar. Awal bulan ke enam, Anita diterima sebagai pegawai honor di salah satu puskesmas. Mereka berdua sama-sama disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.

Ayahnya Anita sudah mulai sakit-sakit. Beberapa kali masuk keluar rumah sakit. Dengan kondisi itu Anita didesak untuk cepat menikah. Anita mencoba hubungi Arman untuk membicarakan perkawinan. Tapi Arman tak punya waktu. Satu malam setelah selesai solat Isya, Anita menelpon Arman. Mereka berbicara banyak hal. Termasuk uang yang dikumpulkan Arman belum cukup 100 juta.

“An, sampaikan ke orangtuamu, berikan sedikit waktu. Sebentar lagi uang aku sudah cukup. Aku akan pulang dan melamarmu,” kata Arman dengan nada yang sedikit lelah.

Di akhir bulan ke enam, ayah Anita terus mendesaknya. Perempuan jilbab panjang itu sudah kebingungan. Tak ada jawaban yang ia sampaikan ke ayahnya. Desakan itu mempengaruhi segala aktivitasnya. Termasuk pekerjaan.

Anita sangat kasihan dengan Arman yang siang malam banting tulang mencari uang. Ia takut menyampaikan keterdesakan ini ke Arman. Sudah pasti akan mengganggu psikologi kekasihnya.

Di puskesmas tempat Anita bekerja. Ada salah satu pegawai yang jatuh hati kepada Anita. Beberapa kali lelaki itu meminta untuk menikahinya. Tapi Anita selalu menolak. Jumat sore ketika Anita siap-siap untuk pulang, teman satu puskesmas itu langsung berlari mendekatinya.

“An, malam ini aku datang ke rumahmu. Aku akan bertemu keluargamu untuk menyampaikan niatku ini. Pukul 09 aku datang,” kata lelaki sambil pegang tangan Anita.

Anita tidak bisa berkata apa-apa. Dia bergegas pulang dengan pikiran kosong. Ingin menelpon Arman tapi tak tega. Tok tok tok lelaki yang mau melamar Anita sudah ada di depan pintu. Ia disambut baik oleh ayahnya Anita. Istri dari lelaki 67 tahun itu mengantarkan minuman buat tamu. Anita tak berani keluar dari kamarnya.

“Alhamdulillah. Kalau memang ini adalah niat baik kamu, aku sebagai ayahnya Anita dengan senang hati sangat terima. Segera ajak keluargamu datang. Kita atur waktu dan tempatnya,” kata ayah Anita kepada lelaki itu.

Satu kampung mulai heboh. Kisah cinta antara Arman dan Anita sudah tak lagi asing. Tak ada satupun yang berani sampaikan ke Arman. Termasuk keluarganya. Setiap hari Anita hanya menangis. Rasa bersalah selalu mengguruinya.

“Halo Man, apakah kamu sudah dapat kabar dari kampung? Aku dengar katanya minggu depan Anita akan menikah. Laki-laki yang menikah dengan Anita itu kamu kan, Man,” tanya Rusdi kepada Arman melalui telepon genggam.

Arman langsung tutup telepon dari Rusdi. Ia menghubungi Anita untuk menanyakan kebenarannya. Dua panggilan tak diangakat. Di panggilan ketiga baru Anita beranikan dirinya menerima teleponnya Arman.

“Maafkan aku, Man. Aku yang salah. Harusnya dari awal aku beritahu ke kamu. Minggu depan aku menikah, Man. Maafkan aku,” kata Anita sambil menangis.

Hanya itu yang Anita sampaikan. Belum sempat Arman menyampaikan sepatah kata. Anita langsung tutup teleponnya. Arman kembali memanggil, tapi nomornya Anita sudah di luar jangkauan. ###

728×90 Ads