Membaca Realitas
728×90 Ads

Arab Saudi Kian Bebas, Bagaimana dengan Kota Mekah & Madinah?

JAKARTA (kalesang) – Arab Saudi mengalami transformasi besar menuju negara yang semakin bebas menyerap budaya dari luar.

Dua tahun belakangan ini, Pemerintah Arab Saudi mulai mengizinkan perayaan seperti Natal, Tahun Baru, Valentine, hingga Imlek. Perayaan-perayaan itu tampak semarak di sejumlah kota di Saudi tahun ini.

Bahkan amendemen peraturan kesopanan di ruang publik yang tidak lagi ketat. Para pria kini boleh memakai celana pendek kecuali di masjid dan kantor pemerintah.

Pertanyaan pun muncul, bagaimana dengan status dua Kota Suci yakni Mekah dan Madinah di tengah semangat keterbukaan Saudi terhadap budaya luar? Apakah Natal hingga Valentine juga boleh dirayakan di sana?

Dilansir dari cnnindonesia.com Senin (28/2/2022), Duta Besar Kerajaan Arab Saudi, Syekh Essam bin Abed Al-Taqafi mengatakan, perayaan-perayaan tahun baru masehi dan lain sebagainya, itu dipastikan dirayakan di luar Kota Suci, Mekah dan Madinah.

Ia seraya menegaskan perubahan besar Saudi yang semakin terbuka tetap tak akan berlaku di dua kota yang disakralkan umat Islam seluruh dunia.

“Kedua Kota Suci ini akan tetap dijaga kesakralannya. Sebagai bentuk menjaga kesucian masjid di Mekah (Masijdil Haram) dan Madinah (Masjid Nabawi).” Katanya di Kedubes Saudi, Kuningan Jakarta Selatan.

Syekh Essam sebelumnya secara blak-blakan mengungkapkan alasan Saudi kini menjadi lebih terbuka, termasuk mengubah peraturan-peraturan yang dinilai terlalu konservatif.

“Pengaruh dari luar tidak dapat ditolak sama sekali. Itu sebuah keniscayaan karena Saudi merupakan bagian dari dunia yang terus mengalami perubahan karena pengaruh dari luar. Begitu pula Saudi.” Kata Syekh Essam.

“Perayaan-perayaan tersebut adalah bagian dari budaya dunia. Saudi pun bagian dari dunia sehingga tidak bisa mencegah masuk karena sekarang informasi begitu mudah diterima oleh siapapun juga.” Sambungnya.(red)

728×90 Ads