Membaca Realitas
728×90 Ads

Ketakutan Masa Depan

Ketakutan Masa Depan

Oleh: Rahmat Akrim

 

 

Siang itu terlalu panas, matahari tidak tanggung-tanggung menunjukan kebesarannya lewat sinar panasnya, ku paling kan pandanganku ke arah jam yang melekat pada dinding masjid, waktu menunjukan 01:26, walaupun begitu selalu saja ada manusia-manusia yang beraktivitas seperti biasanya demi menafkahi anak dan istrinya di rumah.

Dengan cuaca yang begitu panas, akhirnya ku urungkan niatku untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah sembari menyandarkan badan dan menyaksikan laju dan lambatnya kendaraan yang membelah jalan ditengah panasnya matahari.

Di depan, tepatnya disamping kanan tiang tengah masjid berdiri seorang lelaki dengan tangan dirapatkan pada dada, sesekali ia menutup matanya, sesekali juga tidak.

Kuperhatikan betul gerak-gerik lelaki yang sedang sholat itu, pada saat yang sama keluar anak muda yang mungkin seumuran denganku sambil melemparkan senyumnya dan beranjak keluar masjid.

Kembali kuperhatikan lelaki yang sedang sholat itu, sekarang ia sampai pada gerakan tahiyat (tasyahud) akhir lalu memberikan salam. Dengan cepat ia mengangkat tangannya, namun tatapannya tidak.

Beberapa saat kemudian, lelaki yang kuperhatikan ketika sholat itu duduk tepat disamping kiri, jaraknya tidak begitu jauh denganku, kira-kira satu meter, mungkin juga lebih.

Buru-buru kuperbaiki posisi dudukku, sebagaimana yang diajarkan orang tuaku sewaktu kecil bilamana berhadapan dengan orang yang lebih tua maupun berbicara dengan siapapun.

“Sudah sholat?”. Tanya lelaki tua itu sambil memperbaiki sajadah yang dipegangnya dan menaruh persis di bahu kirinya.

“Sudah om”. Jawabku pelan sambil melemparkan senyum kecil.

“Kuliah?”. Tanyanya lagi.

“Iya om”. Jawabku.

Pertanyaan demi pertanyaan lelaki tua itu dilemparkan padaku, satu pertanyaan pun tak terlewatkan.

Pertanyaannya sederhana, mulai dari tempatku berasal, orang tua berasal, dan bahkan sampai jumlah saudara. Soal perkuliahan, beliau sudah bertanya dan kujawab dengan jelas, bahkan pertanyaan-pertanyaan soal proses menjalani perkuliahan tersebut beliau sudah tanyakan sebelum mengetahui identitas ku.

Satu jam sudah saya duduk dan berbicang bersama Pak Khairul, ya nama panjang beliau adalah Khairul Azhar. Nama tersebut Pak Khairul beritahukan semenjak kami berbicang soal identitas dan beliau tak segan-segan memberitahukan namanya.

Belakangan baru kutahu ternyata orang tua beliau juga berasal dari Sulawesi Tengah, sama persis dengan kedua orang tuaku berasal. Tapi bukan itu yang membuat saya menulis tentang Pak Khairul, bukan juga tentang arti nama beliau, tapi ini tentang kepribadian beliau, bagaimana cara beliau berbicara dan menghargai orang lain, dan satu pertanyaan beliau yang membikin saya sedikit tertegun, kalau tidak salah dan khilaf, pertanyaannya begini:

“Hal apa yang paling kamu takuti terjadi dalam kehidupanmu?”

Saya menarik nafas dalam-dalam, mencerna baik-baik pertanyaan beliau, menafsirkan kata-kata yang beliau jadikan kalimat pertanyaan tersebut sambil menatap dalam-dalam mata beliau. Sangat dalam. Dengan sadar, saya memperbaiki posisi dudukku dengan pelan dan menjawab pertanyaan beliau.

“Saya takut ditinggalkan om. Takut ditinggalkan oleh kedua orang tua saya sebelum saya siap menerima semuanya terjadi”. Jawabku pelan tanpa membuang pandangan sedikitpun.

Dengan cepat beliau kembali bertanya, begini:

“Lantas apa yang membuat kamu belum siap?” belum juga saya menjawab pertanyaan itu, beliau kembali lagi dengan bertanya. “Apa masa depan yang tak bisa dirubah oleh manusia?”.

“Kematian”. Jawabku cepat.

“Ya, kematian, itulah kehendak Allah yang tak dapat diperkirakan oleh manusia. Dan jika kamu belum siap menerima jika suatu saat kedua orang tuamu pergi untuk selamanya, maka kamu sangat salah. Justru, lebih baik selama masih hidup perbaikilah kesalahan-kesalahan yang kamu lakukan pada mereka, doakan mereka.”

“Perbaikilah hatimu, jaga ucapanmu dengan orang lain, selama itu kamu jalankan pasti semua baik-baik saja, Insya Allah. Mulai sekarang berdo’alah untuk kedua orang tuamu, siapkan semuanya sebelum waktunya datang, sebab manusia tak bisa memperkirakan apalagi menentukan yang namanya kematian.” Pak Khairul menambahkan.

“Iya om, terimakasih.”

Terimakasih adalah kata terakhir yang saya keluarkan untuk Pak Khairul, sebab beliau telah pergi bersama senyum khas beliau yang terpancar di wajahnya. Hilang dengan meninggalkan seribu pesan, terimakasih Pak Khairul.

Pentanyaan dan penjelasan-pejelasan Pak Khairul di atas begitu menguras alam bawah sadar ku, menyadarkan saya untuk melihat jauh kedepan bahkan menyiapkan semuanya sebelum waktunya datang, baik untuk diri saya sendiri maupun untuk kedua orang tua saya. Saya banyak belajar dan tahu tentang kehidupan dari beliau.

Ketika menulis cerita inipun, ketakutan itu terus menghantui dalam kepala, menyisakan sebuah sesal yang mendalam bagi orang yang sudah mengalaminya. Fana, binasa, dan tidak sanggup menerima adalah perihal yang datang setelah semua sudah terjadi.

Dan waktu adalah pertanda bagi manusia yang sering lupa, lupa pada Tuhan-Nya, lupa pada yang memberikan dia hidup, dan barangkali lupa berterimakasih serta bersyukur atas apa yang dialaminya.

728×90 Ads