Membaca Realitas
728×90 Ads

Pemerkosa 13 Santri di Bandung Divonis Mati

JAKARTA (Kalesang.id) – Masih ingat Herry Wirawan, pelaku pemerkosa terhadap 13 santri di Bandung Jawa Barat.

Herry dikenal sebagai seorang ustaz sekaligus pemimpin Yayasan Manarul Huda. Yayasan itu merupakan Yayasan Yatim Piatu Manarul Huda yang  berada di kawasan Antapani, Kota Bandung. Sedangkan pondok Pesantren miliknya diberi nama Madani Boarding School berada di kawasan Cibiru, Kota Bandung.

Aksi bejatnya terungkap setelah adanya laporan salah satu wali santri yang mendapati anaknya tengah hamil.

Awalnya korban tidak mau menceritakan perlakuan keji yang dialaminya, namun setelah didesak akhirnya ia mengkapkan semuanya. Satu persatu korban lain mulai berani bicara.

Dari 13 korban pemerkosaan, 9 diantaranya hamil dan saat ini sudah melahirkan. Rata-rata korban adalah santri penerima beasiswa dari kalangan keluarga miskin.

Ia dinyatakan bersalah karena melanggar UU Perlindungan Anak dan KUHP.

Aksi bejat Herry Wirawan sudah dilakukan sejak 2016 dan baru terungkap pada 2021.

Rata-rata korban dan istrinya tidak berani melaporkan karena telah dicuci otak oleh pelaku.

Bahkan kesembilan bayi yang dilahirkan, herry memanfaatkannya untuk mendapatkan sumbangan dari masyarakat. Bayi-bayi tersebut dilabeli sebagai bayi yatim piatu. Sehingga mudah mendapatkan santunan dari para donatur.

Dalam putusan banding Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Bandung menganulir vonis hakim Pengadilan Negeri Kelas IA Khusus Bandung terhadap Herry Wirawan. Herry yang awalnya divonis penjara seumur hidup, kini mendapat vonis hukuman mati.Dilansir CNN.Com, dalam putusan banding juga Herry diwajibkan membayar restitusi alias uang pengganti kerugian terhadap korban perkosaan dalam amar putusan yang dibacakan Senin (4/4).

Adapun biaya restitusi nilainya mencapai Rp300 juta lebih. Setiap korban yang jumlahnya 13 orang akan mendapatkan restitusi dengan nominal beragam. Hakim pun memutuskan restitusi tidak dibebankan kepada negara, melainkan kepada terpidana.
Meski menganulir hukuman seumur hidup dan pembebanan biaya restitusi kepada negara, hakim tak mengabulkan banding jaksa soal pembekuan yayasan milik Herry Wirawan.
Hakim berpandangan bahwa tuntutan tersebut merupakan persoalan lain yang tak ada kaitannya dengan perbuatan biadab Herry Wirawan.
“Menimbang bahwa majelis hakim tingkat banding berkeyakinan sama dengan majelis hakim tingkat pertama. Bahwa yayasan merupakan subyek hukum tersendiri,”kata hakim.

Dalam penjelasannya, hakim menyebutkan bahwa pendirian hingga pembubaran yayasan sudah diatur sebagaimana ketentuan perundang-undangan tentang yayasan. Sehingga tidak serta merta dijatuhi hukuman tambahan dalam perkara ini.
Adapun yayasan yang dimaksud yakni yayasan yatim piatu Manarul Huda, Madani Boarding School dan Pondok Pesantren Tahfidz Madani.
Diketahui, JPU dari Kejati Jabar mengajukan banding atas vonis hukuman seumur hidup terdakwa Herry Wirawan oleh hakim Pengadilan Negeri Kelas 1A Bandung, Senin (21/2).

Selain itu, dalam putusan 9 korban perkosaan Herry diputuskan hakim agar dirawat Pemprov Jawa Barat. Kemudian Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) diwajibkan membayar restitusi kepada korban dengan total Rp331.527.186 (Rp331 juta). (tim)

Editor : Wawan Kurniawan

 

728×90 Ads