Membaca Realitas
728×90 Ads

Gie dan Aktivis Mahasiswa Saat Ini

Oleh: Junaidi Drakel

 

Dua tahun belakangan ini, di Indonesia ada beberapa wacana besar yang paling ‘seksi’ dibahas di semua kalangan, terutama di lingkaran mahasiswa, yakni Omnibus Law, pemindahan ibu kota negara, masa jabatan Presiden Jokowi untuk tiga periode dan kenaikan harga bahan bakar minya (BBM). Sekian wacana ini, hampir menjadi pembahasan hangat di semua daerah.

Pada Jumat, 26 Oktober 2020, hampir seluruh mahasiswa Indonesia turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi Omnibus Law. Selain itu, pada 11 April 2022 kembali terjadi aksi besar-besaran terkait dengan kenaikan harga BBM.

Tentu dengan gerakan yang luar biasa berskala besar ini, akan menjadi pukulan keras bagi petinggi negara yang saat ini bersama Jokowi. Selain wacana di atas, ada turunan isu yang dibawa oleh mahasiswa terkait dengan tuntutan turunkan Joko Widodo dari jabatan presiden. Itu bukan sesuatu yang tidak dianggap remeh oleh pemerintah. Sudah pasti menjadi pembahasan serius di tubuh para konglomerat.

Saat ini, dari sekian tokoh aktivis mahasiswa yang tersebar di seluruh Indonesia, tentu yang paling diperhitungkan oleh pejabat negara adalah aktivis yang berada di ibu kota. Maka dari itu, berbicara pergerakan besar-besaran yang dilakukan oleh kalangan mahasiswa, sangat penting untuk dikenang kembali tentang pergerakan yang pernah terjadi pada tokoh aktivis mahasiswa tahun 1965 yang menumbangkan Presiden Soekarno dari jabatannya.

Di dalam tulisan ini, ada satu tokoh mahasiswa angkatan 66 yang akan menjadi tandingan dengan perlawanan saat ini. Namanya Soe Hok Gie, ia lahir di Jakarta pada 17 Desember 1942. Lelaki yang biasa disapa dengan sebutan Gie ini tentu tidak asing lagi di Indonesia. Sejak tahun 1961 dia masuk di Universitas Indonesia dengan Fakultas Sastra, Jurusan Sejarah. Sejak kecil, Gie yang berdarah Tionghoa-Indonesia itu sudah sering membaca berbagai buku. Hal tersebut membentuk kepribadiannya yang gemar berpikir kritis dan pemberani.

Semasa kuliah, pemilik puisi berjudul “Sebuah Tanya” itu pernah bergabung dengan organisasi Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos). Di Gemsos dia bertemu dengan teman yang berpikir kritis. Selain aktif dalam organisasi, hampir setiap malam dia menulis berbagai macam persoalan. Tulisan-tulisannya itu selalu dimuat di beberapa media ternama di jaman itu.

Dikutip dari Tribunnews.com dengan judul “Profil Soe HokGie, Aktivis dan Demonstran Indonesia yang Lantang Menentang Orde Lama dan Orde Baru”, yang terbit pada Jumat, 17 Desember 2021, peran Soe Hok Gie dalam dunia demonstran adalah saat koneksinya meluas. Gemsos saat itu berafiliasi dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan militer, untuk meruntuhkan Orde Lama. Keadaan politik Indonesia saa itu sedang rumit. Soe Hok Gie berpendapat sistem Demokrasi Terpimpin tidak jauh berbeda dengan kepemimpinan diktator.

Ia dan teman-temannya sering turun ke jalan untuk melancarkan protes pada pemerintah. Puncaknya yaitu setelah tragedi Gerakan 30 September (G30S) 1965. Pada 1966, demo besar-besaran dilakukan oleh para mahasiswa karena harga naik bus dari Rp 200 menjadi Rp 1000. Soe Hok Gie berpendapat hal itu adalah pengalihan isu kemanusiaan G30S menjadi isu ekonomi. Protes mahasiswa menghasilkan keputusan pembubaran PKI dan lengsernya Soekarno kemudian digantikan oleh Soeharto.

Pada saat itu, Gie bersama-sama dengan kawan seperjuangannya sangat serius untuk melakukan gerakan menumbangkan Orde Lama. Tentu jika tidak hati-hati membaca politik Negara, maka sudah pasti nyawa akan terancam. Atas dasar rakyat dia rela melakukan apa saja. Akan tetapi, di saat bersama kawan-kawan aktivis mahasiswa yang berhasil menumbangkan sang Proklamator Bangsa, dari gerakan itu ternyata Gie hanya mengalami kekecewaan yang sangat luar biasa. Karena sebagian besar tokoh mahasiswa tersebut ditarik masuk ke dalam lingkaran pemerintahan dan mendapat jabatan-jabatan strategis.

Melihat itu, anak keempat dari lima bersaudara ini merasa bahwa perjuangannya yang mengorbankan tenaga, pikiran dan juga nyawa, akhirnya hanya sia-sia. Anak muda yang meninggal dunia di usia 26 tahun itu, setiap hari hanya melontarkan kritik-kritik pedas kepada kawan-kawannya yang telah santap nikmatnya kekuasaan.

Dari sekian kritik yang dilontarkan oleh pendiri Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UI untuk kawan seperjuangannya itu, ada yang paling menarik yang tidak bisa dilupakan sampai saat ini, dia mengirim paket yang isinya adalah perlengkapan kosmetik seperti lipstik, bedak, cermin, jarum, benang, serta surat dan sejumlah kumpulan tanda tangan.

Dikutip dari artikel Historia.id yang berjudul “Sang Demonstrandan Politikus Berkatu Mahasiswa”, pada Januari 1967, sebanyak 13 mahasiswa ditunjuk menjadi perwakilan mahasiswa di DPR-GR atau Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong.

Tentu, dari kisah yang dialami lelaki pemilik buku ‘Catatan Seorang Demonstran’ itu, semoga saja tidak dialami oleh tokoh aktivis mahasiswa yang saat ini sedang berjuang di jalanan untuk melawan tirani kekuasaan. Untuk persoalan perut, tidak harus dengan cara-cara kemunafikan maupun pengkhianatan. Seorang intelektual yang cerdas, tidak serta-merta menjadi penjilat yang selalu membawa nama rakyat demi kepentingan diri sendiri.*

 

Pesan 

Hari aku lihat kembali 

Wajah-wajah halus yang keras 

Yang berbicara tentang kemerdekaan 

Dan demokrasi

Dan bercita-cita

Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka

Yang tanpa tentara

Mau berperang melawan diktaktor 

Dan yang tanpa uang

Mau memberantas korupsi 

Kawan-kawan

Kuberikan padamu cintaku

Dan maukah kau berjabat tangan 

Selalu dalam hidup ini?

 

Soe Hok Gie

728×90 Ads