Membaca Realitas
728×90 Ads

Migrasi Orang Menui ke Desa Pancoran

Opini: Rahmat Akrim

 

Desa Pancoran adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Taliabu Barat, Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara. Sebelum dimekarkan menjadi desa defenitif, Desa Pancoran merupakan anak desa dari Desa Talo.

Nama Desa Pancoran diambil dari nama air “๐˜—๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ”. Sumber air yang dialirkan melalui bambu yang di sambung-sambung hingga mengalir sampai ke rumah-rumah warga yang tidak jauh dari sumber mata air tersebut.

Masyarakat Pancoran pada umumnya memiliki dua mata pencaharian yaitu petani dan nelayan. Hal ini bisa dilihat dari masyarakatnya yang hampir secara keseluruhan memiliki tanah perkebunan serta profesi nelayan yang ditinjau dari pola pemukiman warga yang berada tepat di pesisir pantai.

Orang Menui yang berada di Desa Pancoran berasal dari Sulawesi Tengah, tepatnya di Menui Kepulauan, Kabupaten Morowali. Dari hasil penelitian yang dilakukan, latar belakang terjadinya migrasi orang Menui ke Desa Pancoran diakibatkan karena geografis pulau Menui yang berbatu yang tidak memungkinkan untuk bercocok tanam, meskipun di Pulau Menui sendiri terdapat beberapa tempat yang dijadikan untuk bercocok tanam seperti; ๐˜๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜Œ๐˜ต๐˜ฆ, ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฐ, ๐˜“๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฐ, ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข, ๐˜๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช๐˜ต๐˜ช, dan ๐˜›๐˜ถ๐˜ง๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฐ.

Dari faktor geografis di atas masyarakat Pulau Menui memanfaatkan potensi laut sebagai profesi penunjang ekonomi, profesi-profesi tersebut termasuk nelayan dan pelayaran perdagangan. Tidak bisa dipungkiri bahwa pada tahun 1960-an dan 1970-an terjadi pelayaran perdagangan yang dilakukan oleh orang Menui yang berlayar sampai Pulau Jawa, Sumatera, Ternate, dan bahkan ada yang sampai ke Malaysia.

Foto: Air Pancuran. Tempat yang menjadi asal-usul nama Desa Pancoran

Pelayaran perdagangan seperti yang disebutkan di atas membuat orang Menui sampai ke Pulau Taliabu, Desa Pancoran. Diperkirakan orang Menui pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Kano (Sebutan untuk Pulau Pancoran) pada tahun 1970. Migrasi terbesar yang dilakukan oleh orang Menui ke Desa Pancoran terjadi pada tahun 1971 dan 1972. Meskipun begitu, sebelum kedatangan orang Menui dan orang Buton (๐˜‰๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด) di Pulau Kano telah ada lebih dulu yaitu Daeng Saleh yang berasal dari Selayar.

Pada tahun 1972/1973 terjadi pertemuan antara orang Menui, Buton dan Selayar (Daeng Saleh), pertemuan ini bertujuan untuk mendudukkan letak kampung Pancoran, sebab pada awal terjadinya migrasi, pola pemukiman orang Menui dan Buton berbeda-beda atau dengan kata lain berpisah. Orang Menui terdapat di dua tempat yakni, ๐˜๐˜ฐ๐˜ญ ๐˜‰๐˜ถ๐˜จ๐˜ช๐˜ด danย  ๐˜๐˜ฐ๐˜ญ ๐˜š๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ. Sementara orang Buton berada di bagian utara Pulau Kano yang disebut ๐˜๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข. Sehingga pada pertemuan tersebut disetujui bahwa Desa Pancoran di tempatkan pada posisinya yang sekarang dengan alasan air yang tidak jauh dari pemukiman warga serta Daeng Saleh menghibahkan sebagian tanahnya untuk kepentingan warga.

Selain faktor geografis dan pelayaran perdagangan, perusahaan juga tidak kalah penting dalam terjadinya migrasi orang Menui ke Desa Pancoran, adapun nama perusahaan tersebut adalah PT. Taliabu Luna Timber, dari wawancara dengan beberapa mantan karyawan perusahaan tersebut menyebutkan bahwa setelah mereka bekerja di perusahaan tersebut kondisi ekonomi semakin membaik.

Secara umum masyarakat yang mendiami Pulau Kano berasal dari dua suku besar yakni Menui dan Buton (๐˜‰๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด). Kedua suku di atas telah hidup berdampingan semenjak mereka menginjakkan kaki di atas tanah Desa Pancoran. Meskipun orang Menui dan orang Buton (๐˜‰๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด) memiliki kebudayaan yang berbeda, namun pola interaksi yang dilakukan antar kedua suku tersebut terjalin erat hingga sekarang ini.

Kondisi di atas didasari karena baik orang Menui maupun orang Buton memiliki pemikiran terbuka dan menerima serta mempelajari budaya baru, meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama. Pemikiran yang terbuka serta menerima kebudayaan baru tersebut melahirkan kondisi masyarakat yang beragam serta saling tolong menolong.

Adaptasi yang dilakukan oleh kedua suku tersebut melahirkan dampak positif hingga sekarang ini, dengan keadaan tidak sadar sebagian masyarakat Menui telah mengetahui bahasa Buton (๐˜‰๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด) dan sebaliknya orang Buton (๐˜‰๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด) telah memahami bahasa Menui tanpa mendiskreditkan satu dengan yang lain.***

728×90 Ads