Membaca Realitas
728×90 Ads

JPU KPK Cecar Muhaimin Syarif Terkait Kepemilikan Saham Pada PT Prisma

TERNATE (kalesang) – Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pengadilan Negeri Ternate kembali menggelar sidang ketiga empat terdakwa dugaan kasus suap pengadaan proyek dan ijin pertambangan di Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Rabu (20/3/2024).

Mantan Ketua Gerindra Maluku Utara, Muhaimin Syarif salah satu saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk terdakwa adalah Stevi Thomas.

Muhaimin Syarif ketika ditanya mengatakan, tidak mengenal dan tidak pernah berhubungan dengan terdakwa Stevi Thomas.

“Saya juga tidak pernah ada urusan dengan yang namanya perizinan tambang di Maluku Utara.” Ungkapnya.

Meskipun begitu, Muhaimin mengaku, dirinya sering duduk berdiskusi dengan AGK sewaktu masih menjabat DPRD, tetapi hanya berdiskusi terkait dugaan izin bodong di Maluku utara.

Mantan anggota  DPRD Provinsi Maluku Utara itu juga mengungkapkan kedekatannya dengan mantan Gubernur Maluku Utara, Abdul Gani Kasuba (AGK).

“Saya juga adalah menantu dari mantan gubernur, tapi tidak pernah menerima apapun dari beliau.” Ungkapnya.

JPU juga mempertanyakan keterlibatan Muhaimin dalam PT Prisma yang merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di pertambangan.

Muhaimin kemudian menceritakan, sekitar tiga tahun lalu, dirinya didatangi seorang pengusaha yang namanya Maizon. Ia kemudian ditawarkan membeli sebagaian saham di PT. Prisma.

“Maijon meminta saya ambil sebagain saham dan saya membantunya uang. Kemudian saya beli saham itu. Izinnya saya tidak tahu. Direkturnya yang mengurus itu.” Katanya.

Atas kesepakatan itulah, Muhaimin mulai memberikan uang dan membeli saham sebesar 10 persen di PT. Prisma. Namun kata dia, setelah dua tahun kemudian, tidak ada perkembangan sehingga sahamnya dijual.

“Saya jual saham saya karena dua tahun itu tidak ada perkembangannya.” Tandasnya.

Reporter: Juanda Umaternate

Editor: Wendi Wambes

728×90 Ads