Membaca Realitas

PEKA Bangun Literasi Perempuan Melalui Seni dan Budaya

TERNATE (kalesang) – Perempuan Kabaya Literat (PEKA), mungkin tidak asing lagi dikalangan penggiat organisasi perempuan di Maluku Utara. Memilih nama PEKA, empat orang anak muda dengan latar belakang yang berbeda membentuk sebuah komunitas bergerak dibidang isu perempuan, seni dan budaya.

Tepatnya 5 Desember 2021. Rifka Halim, Kadarusman Balasteng, Ulan Isna dan Fatmawati Araie, bersepakat membentuk komunitas PEKA. Dimana dengan secara kekeluargaan memilih Rifka Halim sebagai kordinator.

Kemudian, mereka bersepakat membentuk empat departemen yang menjadi tongkat penggerak komunitas. Diantaranya Kordinator PEKA Rifka Halim, Sekretaris Resti Umamit, Bendahara Fatmawati Araie dan Penasehat PEKA Kadarusman Balasteng.

Nah, sekarang kita juga perlu tahu asal mula nama PEKA yang dipilih menjadi nama komunitas. Menurut kordinator Rifka Halim nama komunitas terinspirasi untuk membangun literasi khususnya lembaga perempuan dan bagaimana mengembalikan budaya-budaya yang telah hilang.

“PEKA, terbentuk didasari semangat perempuan-perempuan hebat yang memiliki kemampuan literat untuk membuka ruang-ruang perempuan yang memiliki rasa kepedulian terhadap seni dan budaya”. Ungkapnya, Jum’at (30/12/2022).

“Lalu terpikirlah untuk membentuk wadah ini, dengan alasan agar perempuan-perempuan dapat menyalurkan bakat dalam bidang kesenian dan mempelajari tentang budaya-budaya kita di Maluku Utara.” Kata Rifka.

Sejak berjalan komunitas PEKA, bergerak pada setiap kegiatan dengan mengisi acara membaca puisi maupun teatrikal.

Selain itu sambung Rifka, mereka juga bergerak di media sosial untuk mengkampanyekan terkait dengan isu perempuan, seni dan budaya. Seperti di Facebook dan Youtube dengan nama Perempuan Kabaya Literat.

Lanjut Rifka, PEKA selain berfokus pada seni dan budaya, mereka juga berfokus pada isu-isu perempuan dengan menulis opini, cerpen maupun puisi.

Saat ini PEKA mengadakan Tour ke beberapa Benteng seperti Benten Kastela dan pemakaman Sultan Babullah Ternate.

“Tour yang kami lakukan saat ini  adalah mencari tau sejarah-sejarah benteng yang ada di Kota Ternate dan menjelajah Makam Sultan.” Kata Rifka.

Rifka bilang, PEKA saat ini beranggotakan 19 orang. Dalam setiap tahun mereka akan melakukan perekrutan anggota. Terbuka untuk umum bagi perempuan yang ingin berproses meski belum mempunyai sekretariat yang tetap.

“Walaupun tidak ada sekretariat, dimana saja tempat kami bisa belajar, bisa menyalurkan ide-ide kreatif. Kami jadikan setiap sudut sebagai sekolah. Yang terpenting adalah kreativitas tidak mati.” Tambahnya.

Untuk membentuk karakter anggota agar tidak ketergantungan terhadap hal yang instan, Rifka bilang mereka juga membuat kreativitas seperti merajut tas dan gantungan tas dari benang wol. Hal ini dibuat agar setiap kali membuat kegiatan mereka bisa menjual kembali denga karya sendiri.

“Harapannya kedepan semoga PEKA bisa mengembalikan budaya Maluku Utara yg telah hilang. Dan membangun minat dan bakat perempuan agar tetap berliterasi. Dan menjadikan PEKA sebagai wadah berkumpul perempuan yg kokoh secara mental.”Tandasnya. (tr-04).

 

 

Reporter: Siti Halima Duwila
Redaktur: Wawan Kurniawan