Diduga Rasis ke Pedagang Asal Tobelo, Begini Klarifikasi dari Kepala Disperindag Ternate
Muchlis: Niat Saya untuk Menata Pasar
TERNATE (kalesang) – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Ternate, Maluku Utara, Muchlis Djumadil viral di media sosial.
Ini lantaran Muchlis turun ke pasar pada Sabtu (27/5/2023) untuk melakukan penertiban ke pedagang, di saat penertiban, Muchlis sempat berbicara di depan sejumlah pedagang, kemudian direkam oleh orang-orang sekitar.
Dari rekaman video yang berdurasi 15 menit itu, ada kalimat yang menyebut pedagang asal Tobelo yang berjualan di Ternate. Video itu kemudian tersebar luas di media sosial. Dan tidak diterima oleh sejumlah pihak karena diduga hal tersebut adalah rasis.
“Pedagang di sini wajib tinggal di sini. Kalau KTP nya Tobelo tapi dia (pedagang) harus tinggal di sini.” Kata Muchlis dalam video tersebut.
“Kalau dia tidak tinggal di sini, terus hanya datang ke sini pulang berjualan di kampung. Balik ulang di daerah masing-masing, kami punya pasar ini hanya cukup disini.” Tambahnya seperti di dalam video tersebut.
Kemudian, Muchlis menyampaikan klarifikasinya. Menurutnya, dia tidak mempunyai tujuan buruk terkait dengan salah satu suku, yakni Tobelo sebagaimana video yang tersebar. Hal ini karena dirinya juga memberikan ruang kepada para pedagang Tobelo berjualan di depan Pasar Sabi-Sabi.
“Saya sampaikan itu bukan hanya suku Tobelo, tapi semua. Kalaupun ada yang saya sampaikan bilang Tobelo, mungkin hanya potongan dari video itu.” Ucap Muchlis, Minggu (28/5/2023)
Jadi, lanjut Muchlis, pihaknya ingin menata pasar, sehingga sudah tidak diizinkan para pedagang untuk berjualan di jalanan. Hal yang sama juga terjadi di belakang Mall Ternate, agar tidak diperbolehkan berjualan di bahu jalan.
“Sekarang ini sudah tidak bisa berjualan di jalan. Ini imbasnya karena pedagang berjualan di belakang Mall, karena di situ jadi pusat kawasan kuliner.” Ungkap Muchlis.
Meski begitu, ia meminta kepada pihak-pihak yang sudah tersinggung. Muchlis mengaku tidak punya niat buruk untuk melakukan kepada salah satu suku.
“Saya meminta permohonan maaf, saya tidak punya niat untuk mendiskriminasi, niat saya untuk menata pasar.” Tandasnya.
Reporter: Rahmat Akrim
Redaktur: Junaidi Drakel
