TERNATE, Kalesang – Festival Ela-ela merupakan salah satu ekspresi budaya tradisional masyarakat Maluku Utara yang turut dirayakan oleh Kesultanan Ternate dalam menyambut malam Lailatul Qadar atau yang dikenal sebagai malam seribu bulan pada bulan Ramadan.
Tradisi Ela-ela biasanya diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an disertai doa bersama. Setelah itu, masyarakat menyalakan obor atau pelita yang terbuat dari bambu. Cahaya obor tersebut kemudian dipajang di depan rumah, sepanjang jalan, hingga di sekitar tempat ibadah sebagai simbol penyambutan malam penuh kemuliaan.
Menariknya, tradisi Ela-ela kini telah terdaftar sebagai Kekayaan Intelektual (KI) komunal dalam kategori ekspresi budaya tradisional dari Maluku Utara. Pencatatan tersebut tercantum dalam pangkalan data Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum, sehingga mendapatkan perlindungan negara sekaligus menjadi upaya pelestarian budaya.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Maluku Utara, Budi Argap Situngkir, mengatakan pencatatan kekayaan intelektual komunal memiliki sejumlah manfaat penting, salah satunya untuk mencegah klaim dari daerah lain.
“Selain itu, perlindungan kekayaan intelektual komunal merupakan bagian dari menjaga warisan budaya leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Hal ini juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan daerah,” ujar Argap, Senin (16/3/2026).
Berdasarkan keterangan dalam laman DJKI, Ela-ela atau tradisi menyalakan obor merupakan kebiasaan masyarakat Muslim Ternate dalam menyambut malam Lailatul Qadar. Sebelum obor dinyalakan, masyarakat biasanya membaca ayat-ayat Al-Qur’an, terutama Surah Al-Qadr.
Obor-obor Ela-ela kemudian dipasang di depan rumah, sepanjang jalan, maupun di sekitar masjid. Lampu dan pelita tersebut kerap dihiasi berbagai ornamen yang menarik sehingga menciptakan suasana malam Ramadan yang meriah dan penuh makna spiritual.
Tradisi ini juga membawa dampak ekonomi bagi pelaku usaha mikro di Kota Ternate. Rusdi, seorang pedagang di Pasar Gamalama, mengaku penjualan obor dan lampu Ela-ela meningkat pesat menjelang 10 malam terakhir Ramadan.
“Alhamdulillah, bisa mendapat rezeki dari penjualan obor Ela-ela,” katanya.
Ia menyebutkan, permintaan masyarakat terhadap obor Ela-ela terus meningkat setiap tahun, terutama menjelang malam-malam ganjil di akhir Ramadan yang diyakini sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar.
Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, perguruan tinggi, dan komunitas dinilai penting dalam upaya melindungi serta melestarikan kekayaan intelektual komunal yang dimiliki masyarakat Maluku Utara. Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.
