Hari Kartini, LBH Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Morotai
Morotai, Kalesang – Peringatan Hari Kartini pada 21 April menjadi momentum penting untuk melakukan introspeksi terhadap meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Pulau Morotai.
Staf Pendampingan dan Advokasi LBH Perempuan dan Anak Morotai, Julyati Muhammad, menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini tidak seharusnya berhenti pada seremoni semata, seperti penggunaan pakaian adat atau sekadar ungkapan pujian bagi perempuan.
“Hari Kartini harus menjadi momen introspeksi bersama, karena di saat yang sama kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak justru terus terjadi. Ini bukan sekadar angka kasus, tetapi gambaran kegagalan kita menghadirkan ruang aman bagi perempuan dan anak di daerah ini,” ujar Julyati.
Ia mengungkapkan, dalam banyak kasus, korban justru kerap disalahkan. Perempuan yang mengalami pelecehan, pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga eksploitasi seksual sering menghadapi stigma sosial. Sementara itu, kasus kekerasan seksual terhadap anak kerap ditutupi demi menjaga nama baik keluarga.
“Ketika korban berani bicara, mereka dihadapkan pada tekanan sosial, rasa malu, intimidasi, bahkan ancaman. Situasi ini menunjukkan bahwa yang darurat bukan hanya kasusnya, tetapi budaya diam yang melindungi pelaku. Lebih menyedihkan lagi, tidak sedikit pelaku berasal dari lingkungan terdekat korban,” katanya.
Menurutnya, semangat Kartini masa kini tidak hanya tentang emansipasi pendidikan, tetapi juga keberanian membongkar ketidakadilan yang masih terjadi. Perempuan yang berani melapor merupakan wujud nyata Kartini masa kini.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah, lembaga pendidikan, tokoh agama, tokoh adat, serta masyarakat untuk tidak lagi menganggap kekerasan seksual sebagai persoalan privat.
“Ini adalah kejahatan serius dan ancaman terhadap masa depan daerah. Dibutuhkan sistem perlindungan yang nyata, mulai dari layanan pengaduan yang aman hingga pendampingan hukum dan psikologis,” tegasnya.
Julyati menambahkan, peringatan Hari Kartini tahun ini harus menjadi alarm keras bagi Pulau Morotai agar tidak hanya bangga merayakan, tetapi juga memastikan perempuan dan anak hidup aman.
“Jangan bicara penghormatan terhadap perempuan jika korban masih dibungkam dan pelaku masih bebas berkeliaran. Harus ada keberanian untuk memastikan tidak ada lagi perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan seksual di tanah Morotai,” tutupnya.
