Membaca Realitas

Kisah Winarti, Penjual Jagung Manis di Pantai Falajawa yang Bertahan di Tengah Keterbatasan Modal

TERNATE, Kalesang – Di tengah ramainya aktivitas pengunjung di Pantai Falajawa, Kota Ternate, tersimpan kisah perjuangan seorang perempuan perantau asal Jawa Timur, yang setia berjualan jagung manis demi menghidupi keluarganya.

Sejak 2020, Winarti (42) menggantungkan penghasilan dari berjualan jagung rebus di pelataran Pantai Falajawa. Ia diketahui telah merantau ke Ternate sejak 2004 dan sebelumnya berperan sebagai ibu rumah tangga. Namun, desakan ekonomi mendorongnya untuk mulai berjualan.

Setiap hari, Winarti bersama suaminya mulai berjualan sejak pukul 16.00 WIT hingga 02.00 WIT dini hari. Ia mengaku, usaha tersebut menjadi satu-satunya sumber penghidupan keluarga hingga saat ini.

“Saya mulai jualan dari jam 4 sore sampai jam 2 malam bersama suami. Sejauh ini, rezekinya memang ada di sini,” ujar Winarti, Kamis (26/3/2026).

Jagung yang dijual Winarti didatangkan dari wilayah Jailolo dan Tobelo. Dalam sehari, ia mampu menghabiskan satu karung jagung berisi sekitar 120 buah. Dengan harga jual Rp5.000 per buah, usaha tersebut cukup membantu kebutuhan sehari-hari, meski keuntungan yang diperoleh tergolong tipis.

“Meskipun bisa untuk ke depan, tapi selisih antara modal dan harga jual itu masih terlalu kecil,” ungkapnya.

Selama enam tahun berjualan, Winarti telah menghadapi berbagai tantangan. Ia mengaku momen paling menguntungkan biasanya terjadi saat malam pergantian tahun dan hari libur, ketika jumlah pengunjung meningkat drastis.

Namun, kondisi cuaca kerap menjadi kendala utama dalam menjalankan usahanya. Hujan dan angin kencang sering kali membuat dagangannya terancam tidak laku, bahkan membuatnya harus berjualan dalam kondisi basah kuyup.

“Kalau hujan turun saat jagung masih banyak, itu yang paling berat. Apalagi kalau angin kencang, sudah pakai payung tetap saja basah,” katanya.

Selain faktor cuaca, kualitas jagung juga menjadi tantangan tersendiri. Dalam satu karung, tidak semua jagung memiliki rasa manis yang sama, sehingga memengaruhi kepuasan pembeli.

Di sisi lain, Winarti tetap berupaya menjaga kebersihan lingkungan dengan rutin membayar biaya distribusi sampah sebesar Rp3.000 per hari kepada pengelola setempat.

Ke depan, ia berharap dapat memperoleh tambahan modal agar bisa mengembangkan usahanya menjadi lebih layak dan tidak lagi bergantung pada kondisi cuaca.

“Harapannya bisa punya modal lebih besar supaya bisa buka usaha yang lebih tetap, yang penting tidak kehujanan lagi saat jualan,” tutupnya.

Reporter: Nur Imaniar Naraya
Editor : Yunita Kaunar