Membaca Realitas

Terkendala di Mesin Pengering, Warga Fukweu Butuh Perhatian Pemda Kepsul

SANANA (kalesang) – Desa Fukweu, Kecamatan Sanana Utara, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), selain dikenal dengan wisata Pulau Kucing, kekayaan alam yang ada di dalam laut memiliki nilai jual yang sangat tinggi.

Saat ini, warga di desa yang dalam cerita sejarah masa lalu pernah dikunjungi salah satu sultan di Maluku Utara itu, sedang memanfaatkan rumput laut sebagai bagian dari mata pencaharian.

Sampai saat ini, warga di desa setempat masih menggunakan alat seadanya untuk memproduksi budidaya rumput laut. Tentu, warga sangat berharap ada bantuan dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kepsul untuk berikan peralatan pengelolaan.

Aksan Hukul, salah satu warga Desa Fukweu mengatakan, sampai saat ini warga yang budidaya rumput laut masih menggunakan peralatan lokal. Padahal, menurut Aksan, jika masyarakat bisa dibantu dengan peralatan yang digunakan seperti kota lain, maka hal itu sangat mudah membantu untuk mendorong perekonomian.

“Alatnya seperti mesin penjemuran rumput laut usai dipanen dan berupa peralatan lain. Sehingga, bisa mempermudah kita dalam pengelolaan rumput laut.” Kata Aksan kepada kalesang.id, Kamis (28/7/2022).

Tumpukan rumput laut yang sudah dipanen, Fukweu, Kepsul

Saat ini, Aksan menambahkan, rumput laut yang miliknya sudah sebanyak 10 tali. Dari semua rumput laut itu jika dipanen, maka hasilnya bisa sampai 1 ton lebih. Kendati begitu, ia masih inginkan menambah tali untuk mengikat bibit rumput laut.

“Rumput laut milik saya secara pribadi sudah dipanen dua kali. Jadi dua kali panen dalam 10 tali bisa sampai 1 ton lebih. Hanya saja sekarang saya belum bisa panen semua.” Ungkap Aksan.

Tentu, lanjutnya, sekarang itu harga rumput laut untuk 1 kilogram dibeli dengan Rp35 ribu. Kadang harganya turun. Sementara, warga Fukweu yang kelola rumput laut sudah 50 orang.

Dari hasil panen, kata Aksan, kebanyakan mereka menjual ke pengepul di Fukweu. Tetapi kalau untuk rumput laut miliknya sendiri ia sudah berkomunikasi dengan pembeli dari kota lain.

“Jika sudah sbanyak 1 ton, saya punya rencana pengepul datang beli di Fukweu. Saya yakin rumput laut bisa bantu sejumlah warga Fukweu. Kami hanya terkendala pada saat panen kalau cuaca tidak baik.” Kata Aksan.

“Jadi kalau ada mesin pengering, saya pikir semua warga Fukweu akan berbondong-bondong membuat rumput laut.” Sambung Aksan.

Sementara itu, penyuluh dari Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kementerian KKP, Sarna Sibela mengatakan, dari hasil pengamatan, warga yang memilih untuk melakukan pencarian di laut seperti budidaya rumput laut itu masih kekurangan beberapa hal, antaranya, bibit, gudang dan pasar.

Tentu, lanjut Sarna, ia selalu berkomunikasi dengan Dinas KKP Kepulauan Sula. Hanya saja, dari dinas belum ada program seperti itu. Di tahun ini, warga yang budidaya rumput laut akan mendapat bantuan bibit.

“Jumlah bibit sepertinya ditanyakan langsung saja ke Dinas KKP Kepsul. Karena sifatnya kami hanya mengusulkan nama kelompok ke dinas.” Katanya.

Untuk keinginan dari warga, kata Sarna, mestinya diusulkan langsung ke kementerian. Tentu mereka juga harus menyiapkan beberapa persyaratan, seperti membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang sudah berbadan hukum atau koperasi.

“Bagusnya permintaan mereka itu, kita usulkan langsung saja ke Kementerian KKP, tapi harus kelompok mereka sudah berbadan hukum.” Pungkasnya.(tr-02)

 

Reporter: Karman Samuda

Redaktur: Junaidi Drakel