TERNATE (kalesang) – Tidak semua orang berani meninggalkan keluarga dan memilih bertahan hidup di Jakarta. Hal itu, dilakukan oleh lelaki yang berasal dari Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara, Irman Teapon.
Keputusan yang diambil lelaki 29 tahun itu, dengan alasan untuk membesar serta mengharumkan nama daerah. Sehingga, di tahun 2017 anak keempat dari enam orang bersaudara itu datang di Jakarta. Lewat bakat dan semangat, Irman bergabung dengan Ra Training Cam Indonesia.
Ra Training Camp Indonesia merupakan satu tempat yang mendidik orang-orang yang memiliki bakat di olahraga Muai Thay atau Tinju Thai. Lewat Ra Training Camp Indonesia, Irman akhirnya bisa ikut bertanding sebanyak enam kali di Jakarta.
“Dari enam kali bertanding itu, saya menang lima kali dan satu kali kalah.” Kata Irman Teapon kepada kalesang.id, Selasa (27/9/2022).
Irman menceritakan, pertama kali ke Jakarta dia sangat sulit beradaptasi. Terutama dengan lingkungan dan cara berbicara.
“Untungnya ada teman saya yang sama-sama dari Sanana yang sering membantu saya untuk beradaptasi.” Ujarnya.
Selama beberapa tahun di Jakarta, Irman mengaku tiada hari tanpa latihan. Namun, di tahun 2020 dia memilih pulang ke kampung halaman, yakni Desa Fagudu.
Sesampai di Desa Fagudu, lanjut Irman, dia berinisiatif dan mengajak beberapa teman-teman untuk kembangkan Muai Thay.

“Kami sempat bangun ring atau tempat latihan dengan alat seadanya. Anak-anak cukup bersemangat. Saya berusaha menjadi pelatih untuk mengajar hal-hal dasar.” Ungkapnya.
Seiring berjalannya waktu, dia menambahkan, perkumpulan itu kemudian diberi nama, yaitu Sula Moluccan Fighter. Hanya saja, kata Irman, aktivtas itu tidak bertahan lama karena sangat kekurangan perlengakapan untuk latihan.
“Jadi di tahun 2021 saya kembali lagi ke Jakarta.” Bebernya.
Di Jakarta, Irman menyampaikan, dia dengan sangat percaya diri membawa nama Sula Moluccan Fighter itu untuk mengikuti setiap pertandingan.
Kemarin, kata Irman, Minggu 25 September 2022, ada delapan orang yang di bawah bimbingan Ra Training Camp dengan membawa nama Sula Moluccan Fighter ikut event yang diselanggarakan Muay Thai Institut Indonesia (MTII).
“Alhamdulillah, delapan orang itu semuanya memborong delapan medali emas tanpa kekalahan.” Ucapnya.
Tentu, Irman berharap agar Pemda Kepsul tidak melihat olahraga Muay Thay hanya dengan sebelah mata. Paling tidak, ada perhatian dari Pemda Kepsul untuk melihat anak Sula yang memiliki bakat di olahraga Muay Thai.
“Jangan Pemda Kepsul anggap Muay Thai adalaholahraga yang tidak ada apa-apanya. Justru dengan begini bisa mengharumkan nama Kepulauan Sula di tingkat nasional dan Internasional.” Pungkas Irman.(red)
Editor: Junaidi Drakel
