Membaca Realitas

Keheningan Malam di Batu Angus

Oleh: Yunita Kaunar

 

(30 Oktober 2022)

“Di atas cakrawala gunung Gamalama, seberkas cahaya pelangi mencoba merayu pagi, membentang di sudut bingkai Danau Tolire.”

Ternate, Pukul 9.00 WIT

Burung besi besar melewati atap indekos amat mengganggu mimpi, hawa dingin mengamuk di sekujur tubuh. Tiba-tiba handphone terletak diatas meja menari tanpa beratauran.

Sesegera tangan lesu Indri menyentuh handphone, jelas nama tak asing lagi itu muncul dilayar kaca handphone.

“Halo ! Indri, sudah pukul sembilan ini belum bangun tidur, tidak ada mata kuliah hari ini,” kata Hawa, ibu dari Indri.

“Hmm, iya Mama ada mata kuliah, semalam kerjakan tugas makanya tidur agak telat,” ujarnya.

“Bagaimana Mama ? pagi-pagi ini sudah menelpon,” kesal Indri.

Sambil menunggu jawaban ibunya, Indri bergegas ke kamar mandi membasuh wajahnya agar jiwanya kembali normal, merapikan bantal dan buku-buku berserakan di lantai.

Sebelum menyampaikan keresahan, ibu mengingatkan amanah ayahnya bahwa orang tuanya berasal dari keluarga serba kekurangan.

Ayahnya menghabiskan seluruh hidup dari bertani hanya untuk anak semata wayang menempuh pendidikan layak. Sehingga, tak mengharapkan anaknya harus putus kuliah lantaran salah pergaulan.

“Mama semalam ada baca berita, di akhir-akhir ini Kota Ternate sering remaja kumpul kebo dan diamankan petugas,” katanya.

“Iya Mama, Indri sudah dewasa bisa membedakan mana baik dan buruk kok,” sembari menutup handphone.

Kekhawatiran orang tua Indri ini karena selain sebagai anak semata wayang, Indri baru memasuki semester III dinilai masih labil dan selalu mencoba dunia baru belum dialami sebelumnya.

Indri menuntut ilmu di salah satu perguruan di Kota Ternate, perkembangan kota cukup pesat ini memungkinkan timbul tindakan kriminalitas dan kekerasan serta berpengaruh juga pada faktor pergaulan bebas.

Pukul, 10.00 WIT

Setelah mempersiapkan diri, Indri pun bergegas menuju ke kampus dengan kendaraan roda dua untuk mengikuti perkuliahan. Usai mengikuti perkuliahan, ia bersama enam teman perempuannya yang juga tergolong kelompok pujaan hati lelaki itu mencari jajanan untuk mengisi perut di persimpangan jalan tidak jauh dari kampus.

Daun pepohonan di sepanjang jalan perlahan-lahan mulai gugur. Bunyi knalpot racing memecah kuping para pejalan kaki. Belum lagi, polusi udara mengancam kesehatan orang-orang lalu lalang tanpa disadari.

Di pojok gerbang kampus ada sosok remaja berkumis tipis menggunakan kaos oblong dan beralasan sepatu hitam sedang menatap Indri mengenakan pakaian casual dan memakai lipstik longlasting matte.

Siapa saja menatapnya selalu terpanah, bagaimana tidak Indri memiliki kulit putih, langsing, tinggi, punya rambut lurus.

Sorot mata lelaki bernama Evan tak sekalipun berkedip. Evan playboy begitu sapaan bagi teman-temanya di kampus. Ia dikenal sebagai lelaki tampan sering menggoda wanita, bahkan sebagian wanita di kampus itu pernah digodanya.

Ia lalu menghampiri Indri dan teman-teman perempuan amat dikenal itu, ia mengajak Indri untuk berkenalan bahkan memberanikan diri menukar nomor handphone.

Awalnya, Indri tak memberikan. Hanya saja, atas dorongan teman-temanya berwajah imut tersebut, sehingga atas pertimbangan itu Indri pun memberikan nomornya.

Setelah mendapatkan nomor perempuan berparas cantik itu, Evan pun pergi dan mengajak teman lelaki untuk jalan-jalan menggunakan motor gede (moge) kapasitas mesin 50 cc.

Pukul, 15.00 WIT

Usai berbasa-basi bersama teman perempuan itu, ia pun pamit kembali ke indekos yang cukup jauh dari pusat kota. Karena kebutuhan makanan mulai habis. Seperti anak-anak kuliahan lainya merengek meminta orang tuanya mengirimkan stok makanan serta uang tunai untuk kebutuhan hari-hari, ya kadang pula uang digunakan berfoya-foya bersama temannya. Ia pun mengambil handphone menghubungi ibunya.

“Mama, makanan dikirim beberapa Minggu lalu sudah habis. Boleh kirim kembali!,” pintanya

Tanpa banyak alasan, ibunya hanya mengiyakan. Walaupun kadang harus meminta belas kasihan tetangga, sesekali menerima kata-kata menyakitkan. Hal ini diterima lapang dada hanya untuk anaknya.

Bahkan, ibunya harus menerima beban atas suara-suara orang desa bahwa anaknya berpenampilan layaknya orang berduit dan berperilaku acuh tak acuh. Ketika berpapasan dengan orang-orang kampung sedang berlibur di kota Ternate.

Ibunya tak berkilah, baginya apa dilakukan anaknya dinilai tidak tepat dengan kondisi keluarga mereka. Namun, ibunya tidak bisa berbuat banyak karena cinta teramat besar kepada anak satu-satunya itu.

Pukul, 20. 00 WIT

Malam kelam, sesekali hujan menitip butir air di rerumputan hingga basah. Sedang asyik membalas chat WhatsApp dari teman perempuanya, tiba-tiba nomor tak dikenal memperkenalkan diri.

“Semoga hujan kali ini memberi senyum yang lebih. Sebab, pelangi tahu kapan akan hadir,” begitu chat, dengan nama Evan.

Indri pun terdiam sejenak, menafsirkan pertemuan singkat tadi siang di kampus dan berkelahi dengan pikiranya sendiri. Apa ini Evan, tadi siang meminta nomornya. Ia menghela nafas panjang dan membalas chat.

“Ah dasar playboy,” balasannya, sembari tersenyum dalam diam.

“Malam ini, kita bisa ketemu, kirimkan alamat kosan dan saya akan menjemput,”tukas Evan.

Indri pun membalas emoji senyum dan menutup handphone. Karena kegantengan sosok Evan tak bisa menolak ajaknya. Ia pun mengiyakan sehingga berselang beberapa menit, even dengan kendaraan kebanggan itu bersandar tepat di depan kosan Indri.

Malam pun ikut sepi, membawa kehangatan bagi Indri, tidak hanya cafe mahal disinggahi mereka berdua bahkan beberapa objek wisata seperti batu angus, landmark pernah didatangi. Bahkan, momen di Batu Agus, menjadi cerita sendiri.

Evan mengucapkan kata hati dan memberi setangkai bunga mawar dan tak lupa coklat menjadi kesukaan Indri. Ia pun larut dalam godaan cinta. Bahkan lupa segalanya.

Setelah balik dari kencan pertama, Indri tak malu mempersilahkan Evan untuk masuk ke kosan, lelaki bukan muhrimnya. Kebutulan ibu kosan lagi sibuk mengikuti acara keluarga sehingga kos-kosan terlihat sepi tanpa pantauan pemiliknya. Atas nama cinta, Indri menyerahkan segalanya pada Evan tanpa berpikir panjang.

Berselang beberapa bulan, Indri pun jarang masuk kuliah, ia lebih banyak menghabiskan waktu rebahan di kamar. Puluhan chat tak dibalas dari Evan, ia mulai tak memperhatikan penampilan lagi. Hari demi hari, ia mulai merasakan perubahan pada tubuhnya, sering sakit kepala dan mual-mual.

Ia lalu menyadari bahwa ia lagi hamil, segera ia menelpon Evan, namun tidak ada balasan. Mencoba mencari keberadaan Evan lewat teman-temannya tetapi tidak ada kepastian.

Ia memberanikan diri ke objek wisata Batu Angus. Objek wisata yang memiliki bebatuan besar ini hasil lahar Gunung Gamalama meletus masa lampau, kawasan terbilang indah panoramanya. Tempat menjadi awal cinta bersemi dua sejoli ini. Keheningan malam, wajah orang tuanya menghantui pikiran Indri.

Di ujung tebing pesisir laut, tangisnya pecah penyesalan datang menghampiri. Ia takut dengan kondisi dialami ini diketahui orang tua, bagaimana wajah mereka dibalut rasa sakit hati. Bagaimana dengan ocehan selalu bergema di kampung halamanya bahwa sosok bunga desa polos dan dibanggakan orang tuanya kini sedang hamil.

Rasa gelisah menyelimuti, memanggil nama kedua lewat angin. Tubuhnya bergetar, malam itu tak ada seorangpun menyaksikan bunga desa sedang menyerah. Ia mengumpulkan kekuatan sempat rapuh, menelpon orang tuanya bahwa ia sedang sakit dan ingin kembali ke kampung halaman untuk berobat tanpa menjelaskan bahwa ia sedang hamil.(***)