TERNATE (kalesang) – Menjadi petani bukanlah hal yang mudah, hal ini dirasakan oleh Wati salah satu petani kemangi di Kelurahan Sasa, Ternate Selatan, Maluku Utara.
Pagi pukul 06:00 WIT kalesang,id disuguhi hijaunya daun dengan khas aroma kemangi yang tercium, beberapa sayur seperti kangkung, bayam, cabai, maupun tanaman holtikultura lainnya, tertata rapi disetiap bedengan milik warga Sasa.
Dari kejauhan terlihat salah satu wanita mengandeng keranjang biru berukuran sedang duduk diantara tanaman kemangi.
Krreek, kreek, bunyi gunting yang digunakan saat memotong tanaman kemangi miliknya saat hendak dipanen.
Wasarawati nama lengkap perempuan itu. Ia berasal dari Namlea, sebuah kecamatan di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, yang hijrah ke Ternate usai menikah dengan pria idamannya tahun 2010 silam, yang berasal dari Kelurahan Sasa.
“Setelah menikah, saya ikut suami ke Ternate dan menetap disini sudah lebih dari 10 tahun.”Ungkapnya, saat ditemui kalesang.id. Selasa (15/11/2022).
Perempuan 29 tahun ini bersama suaminya kini dikaruniai 2 anak. Yang pertama perempuan berumur 11 tahun duduk di bangku kelas 6 SD, anak kedua laki-laki berumur 6 tahun sudah masuk di Taman kanak-kanak (TK).
Perempuan berkulit sawo matang ini mengaku, pekerjaan sehari-harinya hanya dengan menanam dan merawat Kemangi miliknya.
Ia mengisahkan, sebelumnya Ia pernah menanam sayur jenis lainnya seperti bayam, sawi, dan kangkung, namun gagal, karena nutrisi tanah yang sudah tidak baik, diakibatkan penggunaan pupuk yang berlebihan, akhirnya tanah tidak lagi subur.
“Saya pernah gagal panen, Sudah mengeluarkan modal banyak, namun kerugian yang saya dapat. Akhirnya saya memilih menanam kemangi, karena tidak terlalu repot.”Katanya.
Ada 7 bedengan miliknya, dengan ukuran panjang 8 meter dan lebar 1 meter ia tanami kemangi yang menjadi salah satu tanaman braroma khas untuk bahan masakan.
Ia mengaku, untuk perawatan tanaman satu ini sering menggunakan pupuk untuk percepatan pertumbuhan dan untuk kesuburan daun namun yang tidak merusak tanah.
“Dalam sebulan saya bisa panen 6 kali, ketika dipotong nanti tunas baru muncul lagi, tapi harus menggunakan gunting atau benda tajam agar tidak rusak, karena pakai kuku kadang daunnya juga tidak lagi bagus.”Tambahnya.
Untuk pasaran, ia sudah punya langganan tetap di pasar. Biasanya diambil 3 ikat Rp5 ribu, bahkan ada yang sudah membayar kemangi miliknya sebelum dipanen, jadi ketika dipanen langsung diantar ke orang tersebut.
“Menanam kemangi ini tidak sama dengan menanam tanaman lain, untung dan rugi, malah banyak rugi, tidak sama dengan menanam kelapa, pala, cengkeh.” Guraunya tersenyum.
“Sekali panen, untuk ukuran keranjang sedang ia bisa mendapatkan keuntungan sebanyak Rp100 hingga Rp200 ribu, itupun kalau terjual semua.”Tambahnya.
Berkebun katanya hanya untuk memproleh tambahan penghasilan, karna untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya anak-anak sekolah, suaminya kembali ke Namlea untuk kerja tambang disana, tiap bulan dikirim walaupun tidak banyak.
“Kalau cuma berharap dengan menanam seperti ini, tidak akan ada perkembangan. Tapi Alhamdulillah, yang penting kebutuhan perut masih dipenuhi, masih bisa bersyukur.” Tutupnya tertawa kecil. (TR-04)
Reporter: Siti Halima Duwila
Redaktur: Wawan Kurniawan
