Membaca Realitas

Sebut Ekonomi Malut Tertinggi Dunia, Dosen Unkhair Ternate Sindir Presiden Jokowi

TERNATE (Kalesang) – Penyampaian Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) terkait pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku Utara (Malut) tertinggi di dunia mendapat tanggapan dari Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Mochtar Adam.

Sebelumnya, di acara pertemuan tahunan Bank Indonesia yang diselenggarakan secara serentak di Indonesia, Presiden Jokowi yang berkesempatan hadir dan memberikan sambutan bahwa pertumbuhan ekonomi Malut tahun 2022 mencapai 27 persen lebih tinggi dari nasional yang hanya mencapai 5,27 persen.

“Maluku Utara ini pertumbuhan ekonomi paling tinggi di dunia. Gak percaya cek, mana ada pertumbuhan ekonomi 27 persen.” Kata Jokowi.

Lompatan tersebut, lanjut presiden dua periode itu, karena hilirisasi. Di situ ada industri semelter, nantinya akan tumbuh lagi jika ada tambahan semelter dan turunan-turunannya.

“Semua akan bisa dikerjakan di Maluku Utara. Jadi hati-hati, bukan hati-hati gak baik. Tapi hati-hati yang baik menjadi gak baik.” Ujarnya.

Bulan lalu, kata Jokowi, waktu dia ke Ternate dan turun ke pasar, seluruh harga kebutuhan sangat stabil.

“Saya cek ke BI, berapa inflasi Malut, 3,3 persen. Gimana gak senang rakyatnya, inflasi hanya 3,3 persen.” Bebernya.

Sementara data dari Badan Pusat Statistik (BPS) terkait jumlah penduduk miskin di Maluku Utara pada tahun 2020 mencapai 86,37 ribu jiwa.

Untuk data kemiskinan di tahun 2021, di Maluku Utara telah mencapai 87,16 ribu jiwa. Di tahun 2022, penduduk miskin mencapai 79,88 ribu jiwa.

Kemudian, persentase tingkat pengangguran terbuka Malut pada semester satu tahun 2022 tercatat sebesar 4,98 persen, meningkat sebesar 0,27.

Basis poin dibandingkan periode pencatatan semester dua tahun 2021 yang tercatat sebesar 4,71 persen. Namun lebih baik dibandingkan posisi semester satu 2021 yang tercatat sebesar 5,06 persen.

Dosen Fakultas Ekonomi Unkhair Ternate, Mochtar Adam mengatakan, pertumbuhan ekonomi Malut tinggi 27 persen. Di saat Covid-19 dan di saat dunia lagi mengalami resesi, tidak mungkin mencapai 27 persen.

“Hanya kami pak Maluku Utara, tetapi mesti diingat pak 27 persen itu yang tumbuh hanya sektor pertambangan dan isndustri pak presiden. Kami tidak menikmati itu, uangnya keluar semua pak presiden, yang menikmati itu hanya Tiongkok.” Katanya, Jumat (2/12/22).

Tentu, lanjutnya, dari envestasi ekspor Malut meningkat, impor meningkat yang bergerak di Halmahera hanyalah mereka-mereka yang bergerak di sektor tambang.

“Sehingga pak presiden bilang perekonomian yang tinggi penikmatnya tidak dari Maluku Utara. Kalua bapak presiden datang ke Ternate berkunjung ke Bank Indonesia lalu Bank Indonesia menyebut 3,3 persen inflasinya, pak presiden juga mengecek konsumsi rumah tangga kami hanya 2,1 persen.” Bebernya.

Bahkan, Mochtar menambahkan, konsumsi Malut di quartal 3, malah minus  0.48 persen. Artinya daya beli di Malut menurun. Petani Malut tidak ada yang kaya, harga kopra anjlok, dari Rp12.500 per kuartal satu, turun menjadi Rp3 ribu per kilogram per kuartal tiga.

“Artinya daya beli kami turun, sehingga inflasi tidak meningkat, karena banyak yang tidak bisa membeli barangnnya. Kami sudah cukup menjaga pak presiden, karena seluruh pengusaha datang dari Jakarta. Pelaku UMKM kami tidak ada satupun yang masuk ke industri dan tidak jadi pemain di dalam idustri tambang.”ungkapnya.

Jadi, lanjutnya, saking menjaga industri upah minimum regional untuk sektor pertambangan walaupun ekonominya tumbuh 27 persen disumbang oleh sektor pertambangan, UMR tidak naik.

“Yang naik 4 persen hanya UMKM agar UMKM membayar gaji lebih banyak dan tambangnnya tidak perlu bayar gaji, yang banyak ini cara kami menjaga, kami tetap menjaga pertumbuhan kami meskipun kami miskin dalam bahagia.” Pungkasnya.(red)

 

Editor: Junaidi Drakel dan Yunita Kaunar