TERNATE (kalesang) – Ternyata kegelisahan seseorang seniman bisa menciptakan satu karya yang luar biasa. Hal ini dirasakan oleh Fadriah Syuaib, yang kemudian melahirkan satu komunitas diberi nama Kampung Warna.
Komunitas Kampung Warna, lahir dari ide dan gagasan dari Fadriah yang akrab disapa Kak Iyah.
Perempuan berpenampilan sederhana dengan khas kacamatanya, mampu membawa Kampung Warna masuk Database Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
“Sebenarnya hal ini berawal dari kegelisahan, ketika diundang menjadi juri menggambar dan mewarnai di sekolah. Waktu dari sekolah biasanya mengambil gambar dari internet untuk diwarnai oleh anak-anak.”Ungkapnya, Sabtu (3/12/2022).
“Menurut saya ini tidak kreatif, akhirnya saya desain sendiri gambar, kemudian saya buat masternya dan fotocopy beberapa lembar, untuk bagikan di TK yang ada disamping rumah. Alhamdulillah pihak sekolah menerima karya saya tersebut.”Jelasnya.
Jadi menurutnya, kampung warna lahir dari keinginan untuk berkarya.
“Kenapa kampung Warna, karena saya berfikir komunitas ini harus lebih mengekspresikan background yang lebih ke seni rupa.”Katanya.
Untuk belajar, Ka Iyah mengaku bersama teman-temannya ikut residensi di Depok. Ketika kembali ke Ternate, mereka memproduksi film dokumenter adaptasi cerita anak yang diangkat dari buku karya penulis Nukila Amal dan Hanafi Muhammad yang merupakan seorang pelukis.
Ia menuturkan, kampung warna ini sebenarnya tidak hanya melibatkan anak-anak saja, namun mulai bertransformasi ke jenjang dewasa.
Sebagai seorang perempuan, ia juga tertarik pada isu-isu perempuan kemudian dituangkan dalam bentuk karya lukisnya.
“Saya pernah membuat mural bertema perempuan, jadi gerakan perempuan dengan tema perempuan bicara perempuan.”Tambahnya.
Jadi, konsep ini kata dia, mengangkat hak-hak perempuan untuk melalui berpikir, berpendapat. Perempuan juga punya hak untuk melakukan apa saja, termasuk dia harus bangga dengan dirinya sebagai perempuan.
“Ada satu konsep yang saya pakai yaitu Filantropi konsep ini merupakan salah satu sikap atau tindakan tanpa harus dibayar, misalnya melihat potensi apa yang ada di kampung, saya terus mendorong dan mengembangkan potensi mereka.”Jelasnya.
Ia juga menambahkan, di kampung warna sebenarnya dirinya hanya memfasilitasi secara pikiran, ide dan gagasan. Dan yang terlibat bukan hanya dirinya, tapi masyarakat juga turut terlibat, inilah caranya berkomunitas.
“Tidak hanya peluang yang kita lihat tapi kita harus menciptakan karena itu akan terus berkembang karena dari ide-ide tersebut.”Katanya.
Selain dari kampung warna, tahun 2020, Iyah juga membuka pameran tunggal di Benteng Orange bertajuk Magazin Art Space.
Hal ini dilakukan agar orang-orang tidak memandang seni dengan sebelah mata, seni punya nilai estetika yang sangat luar biasa.
“Saya mau menyampaikan pada anak muda agar terus kreatif, lakukan apa saja yang bisa dilakukan, terus berproses. Karena di Benteng Orange kita diberi ruang untuk berekspresi maka jadikan benteng sebagai pertahanan kita dengan karya terbaik.” Harapnya. (tr-04)
Reporter: Siti Halima Duwila
Redaktur: Wawan Kurniawan
