Oleh: Wawan Ilyas
Pasca babak 16 besar World Cup Qatar, tim nasional Maroko menjadi “trending topik”. Setelah laga melawan Spanyol yang digadai-gadai sebagai “derby Andalusia” itu, pendukung Hakim Ziyech dan Achraf Hakimi di Ternate meningkat tajam. Juara Dunia Spanyol tumbang. Pemain Maroko tampil elegan sebagai wakil benua Afrika, sekaligus representasi negara muslim di Dunia.
World Cup Qatar membuka pikiran dunia berkecamuk. Rasisme, orientasi seksual, geo-politik, hubungan bilateral, keyakinan agama, ideologi negara hingga nasionalisme saling berbenturan. Isu krisis energi di Eropa mengisi jejaring sumber daya di tanah Arab. Qatar menjadi lokomotif politik energi Eropa dan lakon syiar Islam dalam peta dunia modern.
Dari semua opini dan fakta pikiran dunia di atas, World Cup Qatar berhasil memediasi gerak sosial politis yang disebut Manuel Castlle sebagai “Networking Society” (Masyarakat Jejaring). Teknologi membuka partisipasi warga dunia terhadap World Cup dengan perilaku yang tak biasanya dilakukan kaum perempuan. Paling tidak, yang saya lihat di Maluku Utara. Dunia tak lagi memiliki batas-batas negara.
Orang (perempuan) Malut pendukung (terutama Jerman dan Spanyol) kembali menggemari tim nasional Maroko. Belakangan tatkala Brasil kalah, kebanyakan “mamud-mamud” dan para “singel” kaum hawa “beralih fans”. Mereka menyampaikan kegemaran dengan meng-upload foto-foto pemain Maroko, terutama Ziyech, sesekali mereka membubuhi kata-kata manis pujangga seksis seperti; “idola”, “ganteng ku”, “idaman”, kembaran ku”, “sayang ku”, “suami idaman”, “kesayangan ku” dan macam-macam. Mereka semua yang awalnya baku hujat, saling singgung dengan bekal timnas andalan masing-masing. Bersatu karena Ziyech, Maroko.
Ini bukti dekontrusksi ruang publik. “Oposisi biner” dalam ruang publik yang teridentifikasi melalui hujatan “kalah-menang”, “tim kuat-tim lemah”, benar-benar hilang, tenggelam bersama wacana kegantengan pemain secara bersama, selain tanda-tanda itu disatukan oleh satu fakta kesadaran–meskipun agak naif: Maroko adalah negara Islam.
Hibriditas dan Identitas
Ibu-ibu beranak dan cewek-cewek jomblo ini melebur bersama alibi merubah wacana olahraga di ruang publik menjadi lelucon seksualitas, tetapi juga sarkasme. Mengapa perilaku digital ini mudah terjadi dalam satu kondisi dunia? Teori pascakolonial menyebut ini momen “hibridas”, ketika perbedaan tak sepenuhnya menimbulkan sikap, mental dan pikiran yang “terkotak-kotak”. Tak ada batas antara perempuan menikah dan belum menikah. Lalu lintas pikiran dan perasaan menelanjangi betul hal-hal “tabu” dan seks, atau batas-batas kepentingan.
Nasionalisme yang selama ini dinarasikan negara sebagai “harga mati” mengutamakan tekanan negara (state driven), telah mati oleh produk imajinatif dunia maya. Tak ada tapal batas negara. Yang ada adalah penyatuan emosi dan gerak imajinatif warga dunia melewati tapal batas. Jika nasionalisme diukur dari menggemar tim nasional sepak bola, maka ibu-ibu dan cewek-cewek Ternate lebih Maroko daripada menjadi Indonesia. Saya juga lebih Brasil daripada Indonesia. Anda juga demikian.
Hibriditas berarti keragaman yang tak berujung. Tidak selamanya orang berbangga atas apa yang disebut miliknya sendiri (identitas, hasrat, budaya, gaya hidup), demikian sebaliknya, “dunia luar” tak sepenuhnya memengaruhi atau menghilangkan keunikan setiap orang. Homi Bhaba menyebut lebih lanjut sebagai proses “mimikri”. Menerima nilai-nilai yang lain tanpa meninggalkan nilai dasar kita. Situasi ini secara radikal menegaskan tak ada relasi yang lebih “superior,” tak ada yang lebih “inferior” dalam situasi pasca penjajahan. Keduanya melebur, menyatu, saling bergantian dalam suatu kondisi sosial melalui wacana ruang publik (sekarang Facebook, WatsApp, Twitter, Tik-tok). Boleh jadi perilaku itu bahwa sebetulnya tak ada identitas yang murni. Identitas bukan milik (self property). Sebab identitas saling berubah mengikuti jejaring, kepentingan dan kebutuhan sosial.
Di tengah politik identitas yang tak jarang menyulut api kebencian sesama kelompok di Indonesia, kita membutuhkan bentuk wacana tandingan dengan cara yang mudah, lucu, mencair dan peran-peran orang di luar politisi dan elit pemerintah di ruang publik digital. Kita butuh wacana publik yang “mendamaikan” pembilahan politik antar kelompok. Bahwa etnis, budaya, suku, ras dan agama bukanlah “milik”. Kita hanya perlu menyadari dan melakukan rekayasa kultural tanpa menyinggung atau merampas keberadaan “yang lian”.
Kita hidup dalam suatu negara yang keras secara politik. Saya menganggap “permainan bahasa” oleh ibu-ibu dan cewek-cewek bukan sepele. Dalam Sosiologi, segalanya dilihat sebagai proses. Baku hujat, baku singgung, nyiyir dan semua adalah hasil konstruksi. Ia tidak hadir dari ruang hampa perilaku dan pembicaraan sosial. Tetapi pembilahan hujatan dan nyinyir antar pendukung melebur dalam satu lakon; menggemar dan menyukai foto wajah Ziyech.
Lebih menarik ketika sebuah video viral memperlihatkan seorang ibu di Patani mengenakan jersey Brasil. Beliau geram setelah kalah dari Kroasia dalam laga perempat final World Cup Qatar. Emosinya tumpah. Ketika Tite menarik keluar dua pemain sayap Brasil Rapinha dan Vini Jr. Bagi ibu itu, “pelatih pe bodoh ini”, ia percaya kecepatan Vini dan Rapinha melakukan “over lapping” ke pertahanan lawan. Harusnya pelatih memikirkan strategi, bukan mengganti punggawa Real Madrid dan Barcelona itu. Bayangkan saja, ibu-ibu berbicara taktik permainan Brasil. Bentuk partisipasi yang unik, lucu dan syarat sarkasme dari belahan lain dunia.
Kalau kita memeriksa metode kerja dekonstruksi, dua oposisi biner tidak akan diperhadapkan. Tugas dekonstruksi adalah mendamaikan pembilahan tersebut. Fakta ibu-ibu dan cewek-cewek dengan komentar sarkas dan guyonan memainkan peranan ini. Di satu sisi pendukung Brasil kecewa karena kalah, di sisi lainnya kita menerima segalanya sebagai penuh emosi, lucu, ngakak, dan sebagainya.
Kehadiran wajah Ziyech pemain Maroko dalam postingan singel mom 1 atau 2 anak, atau cewek-cewek di Ternate, adalah wujud bahwa kita tak pernah punya identitas murni. Oleh karena itu, dalam makna yang politis, tidak pantas kita berkelahi atas nama identitas suku dan agama. Melalui media sosial, tugas kita semua mendamaikan semua pembilahan sosial dan politik atas nama identitas. Dimana dan kapan saja.(***)
