Pengaruh Edukasi Berbasis Simulasi Terhadap Kesiapsiagaan Pemuda dalam Menghadapi Bencana Erupsi Gunung Api Gamalama
Oleh :
Aminudin Muhammad, S.Kep.,M.Kes dan Fitriyanti N. Idrus, S.Kep.Ns., M.Kep
Latar Belakang
Kota Ternate merupakan salah satu daerah di Indonesia yang masuk dalam kategori rawan bencana. Hal ini dapat dilihat dari gambaran wilayah Kota Ternate yang berada pada tiga interaksi lempeng besar dunia dan dilewati Pacific Ring oF Fire.
Kondisi ini menyebabkan aktivitas tektonik dan vulkanik yang sangat tinggi dimana sebagian besar terdapat di bawah laut, sehingga berpotensi menghasilkan gunung berapi. Tercatat hingga saat ini telah terjadi 72 kali letusan gunung api dalam kurun waktu 435 tahun.
Kelurahan Tobolo dipilih sebagai salah satu lokasi penelitian karena merupakan kelurahan yang letaknya berada pada Kawasan rawan bencana II. Kawasan rawan bencana adalah Kawasan disekitar gunung api dengan radius 3,5 Km. Kondisi ini membuat posisi kelurahan tersebut memiliki tingkat kerawanan ancaman tertinggi bagi erupsi gunung Gamalama, gelombang ekstrem dan gempa bumi bahkan tsunami.
Pemahaman tentang kesiapsiagaan bencana perlu dimengerti oleh seluruh kalangan masyarakat guna mengurangi berbagai dampak baik materi maupun non materi yang ditimbulkan dari ancaman bencana gunung berapi. Salah satu komunitas yang berperan dalam penanggulangan bencana adalah pemuda.
Pemuda dapat berperan dalam pengetahuan dan sikap mengenai bencana. Oleh karena itu, upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan kesiapsiagaan dalam mengurangi resiko bencana adalah melalui edukasi berbasis simulasi. Hal ini yang mendorong Peneliti Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Ternate, Aminudin Muhammad, S.Kep., M.Kes. dan Fitriyanti N. Idrus, S.Kep.Ns., M.Kep., melakukan penelitian di Kota Ternate sesuai dengan Mata Kuliah yang diampuh di Jurusan Keperawatan yaitu Gawat darurat dan Bencana.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi Simulasi bencana terhadap tingkat kesiapsiagaan pemuda menghadapi bencana letusan gunung api Gamalama Ternate di Kelurahan Tobololo Ternate.
Metode
Desain penelitian ini menggunakan Quasi experiment dengan one group pretest-posttest design melibatkan 63 responden dari kalangan pemuda di Kelurahan Tobololo.
Penelitian Dilakukan dalam 2 Segmen
-Segmen Pertama, responden diberikan pemahaman mengenai konsep dasar bencana dan manajemen penanggulangan bencana, mitigasi dan kesiapsiagaan bencana termasuk bencana letusan gunung api, Bertempat di kantor lurah Tobololo. Kegiatan ini di awali dengan mengukur tingkat kesispsiagaan responden mengenai bencana letusan gunung api Gamalama melalui pretest.
-Segmen Kedua, responden di latih untuk melakukan simulasi upaya kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana letusan gunung api Gamalama. Kegiatan simulasi di pusatkan di pantai Tobololo. Kegiatan ini di akhiri dengan mengukur tingkat kesiapsiagaan responden mengenai bencana letusan guning api Gamalama Ternate melalui post test menggunakan kuesioner kesiapsiagaan yang sdh baku yang di adaptasi dari LIPI/UNESCO.
Waktu
Pelaksanaan penelitian ini yaitu dari bulan Agustus sampai dengan November 2022.
Hasil
hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas (30,2%) responden mendapatkan nilai kesiapsiagaan 50 sebelum dilakukan edukasi berbasis simulasi bencana. Dan nilai kesiapsiagaan setelah dilakukan edukasi berbasis simulasi bencana mayoritas (76,7%) responden mendapatkan nilai 85,90 Hasil uji statistik T-test dengan (ɑ = 0,05) didapatkan p value 0,000.
Artinya ada pengaruh edukasi berbasis simulasi bencana terhadap kesiapsiagaan menghadapi bencana letusan gunung api pada Pemuda di Kelurahan Tobololo Kecamatan Kota Ternate Barat.
Kesimpulan
Edukasi berbasis simulasi bencana berpengaruh terhadap kesiapsiagaan Pemuda dalam menghadapi bencana letusan gunung api. Saran: Saran untuk penelitian selanjutnya agar penelitian ini dilengkapi dengan penelitian kualitatif terkait kesiapsiagaan masyarakat setempat dalam menghadapi bencana, sehingga parameter kesiapsiagaan dapat diukur secara menyuluruh dan terstruktur.(*)
