Membaca Realitas

 Gelas Plastik dan Ancaman bagi Konsumen

Gelas plastik sudah hadir meroket di kalangan konsumen. Kemasan ini menjadi perabotan krusial masyarakat yang digunakan sebagai wadah untuk minum. Plastik mengandung bahan yang fleksibel, tidak mudah pecah atau robek, serta cukup kuat terhadap benda-benda tajam. Plastik yang digunakan untuk mengemas produk minuman bersifat lebih lentur dan tahan tekanan. Jika jatuh dari ketinggian tertentu tidak akan pecah. Berbeda dengan kaca, walaupun tebal, namun jika terkena tekanan atau jatuh dari ketinggian tertentu akan pecah.

Karena menjadi perabotan yang selalu menerjang konsumen, perindustrian dituntut untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen yang terus meningkat. Seiring dengan meningkatnya penggunaan gelas plastik dikalangan konsumen, kebutuhan cetak gelas plastik juga terus meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2018), masyarakat Indonesia banyak sekali menggunakan produk kemasan plastik (gelas plastik).Hal ini dapat dilihat dari sampah plastik pasca konsumsi masyarakat Indonesia mencapai 81,4%. Sementara, masyarakat yang menghindari penggunaan plastik sebesar  18,8%.

Sudah banyak variasi gelas plastik yang diproduksi dan dibeberkan, akibatnya gelas plastik menjadi produk minuman unik yang trend hingga saat ini. Gelas plastik bisa dibuat hiasan dengan printing (sablon), sehingga tampilan gelas tidak lagi polos dan jadi lebih menarik. Kemasan dengan tampilan menarik dan dapat digunakan berulang kali.

Selain unik, gelas plastik mudah dibawa ke manapun. Salah satu alasan konsumen memilih produk yang dikemas menggunakan gelas plastik unik karena tidak mudah pecah dan  juga lihat dari kepraktisannya—ukuranya yang tidak terlalu besar sehingga tidak membutuhkan ruang yang lebih untuk dibawa ke mana-mana. Selain itu, gelas plastik juga relatif murah dalam hal biaya. Dibandingkan dengan bahan kaca atau aluminium (kaleng), gelas plastik lebih menghemat biaya karena produksinya jauh lebih kecil.

Sebab itulah, produsen saling bersaing untuk mempercantik tampilan kemasan agar konsumen selalu menggunakan gelas plastik, dan berupaya untuk memudahkan konsumen dalam menikmati produk yang digunakan dengan cara membuat kemasan yang simple tetapi memiliki daya tarik tersendiri.

 

Efek Samping Penggunaan Gelas Plastik

Di samping kemudahan yang didapat oleh konsumen, ternyata penggunaan gelas plastik mempunyai dampak yang bisa mempengaruhi kekebalan tubuh. Plastik bukan saja hanya meracuni lingkungan, tetapi bisa juga meracuni tubuh manusia.

Tubuh setiap hari membutuhkan cairan agar tidak dehidrasi. Maka dari itu, kita dianjurkan untuk minum delapan gelas setiap hari. Sering kali kita bingung memilih antara gelas kaca atau gelas plastik ketika hendak mengisi cairan dalam tubuh. Kebingungan ini biasanya didasari karena ketidakpahaman kita mengenai wadah mana yang paling aman dan baik, serta tidak berdampak buruk bagi kesehatan tubuh.

Kemasan yang bisa digunakan berulang kali ini, menimbulkan efek samping yang menjadi musuh nomor satu bagi tubuh manusia. Kebiasaan minum dari gelas plastik bisa memengaruhi kekebalan tubuh.

Kekebalan tubuh bisa menurun secara terus menerus, sebab gelas plastik mengandung zat kimia atau racun yang berbahaya, seperti Bisphenol-A (BPA), yakni benda padat tidak berwarna yang larut dalam pelarut organik, tetapi sukar larut dalam air. Bahan ini menjadi bahan kimia industri yang dapat masuk ke makanan dan minuman, dan dikenal beracun. Umumnya dari wadah plastik yang biasa kita pakai.

Banyaknya BPA yang masuk ke dalam tubuh akan memengaruhi kesehatan tubuh, bisa meningkatkan risiko: berkurangnya kekebalan tubuh serta bisa menimbulkan penyakit seperti gangguan fungsi hati, asma, gangguan fungsi tiroid, hingga gangguan fungsi otak,  seiring dengan seringnya penggunaan gelas plastik yang digunakan untuk minum. Problem inisering kali dikaitkan sebagai efek dari penggunaan wadah plastik yang mengandung BPA.

Selain faktor BPA, ada juga hal yang bisa memengaruhi kesehatan tubuh, terutamasaat memakai gelas bekas minum orang lain. Hal ini sesuai dengan perkataan Lisa Richards, ahli gizi The Candida Diet, bahwa jika sengaja maupun tak sengaja menggunakan gelas plastik bekas orang lain, maka kuman dapat masuk ke dalam tubuh. Sebab, bibir pada gelas plastik sering dibuat dengan ruang kecil di bawahnya, di mana kuman dan air liur dapat berkumpul (Kompas.Com, 7/6/2021).

Selain itu, bila kita sudah menggunakan gelas ini sepanjang hari atau beberapa hari, maka menyebabkan pertumbuhan bakteri yang berisiko terjangkit penyakit. Pasalnya, gelas plastik mudah terkontaminasi dengan zat kimia (mikroplastik) dibandingkan dengan botol dan gelon plastik. Karena sifat material pada gelas plastik tidak mampu menjaga stabilitas suhu serta stabilitas mineral dalam setiap cairan yang hendak dikonsumsi.

Hal ini sesuai riset yang dilakukan oleh peneliti dari Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP), Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, bekerja sama dengan lembaga FMCG Insights. Hasil riset itu menemukan bahwa mikroplastik lebih banyak ditemukan pada gelas plastik jika dibandingkan dengan kemasan botol dan galon plastik. Konsentrasi partikel mikroplastik yang ditemukan berkisar antara 1,67–12,00 partikel/L (Viva.Co.Id,2/1/2023).

Untuk itu, sudah seharusnya kita bijak dalam memilih gelas yang aman untuk kita gunakan. Jangan sampai usaha kita untuk memenuhi kebutuhan cairan harian untuk tubuh, malah menjadi petaka karena zat kimia berbahaya yang larut dalam minuman dan masuk ke dalam tubuh. Karena itu kita perlu meminimalisir penggunaan gelas plastik sebisa mungkin. Salah satu jalan adalah menggunakan gelas kaca demi menjaga kekebalan tubuh agar kesehatan tetap terjaga.***