Dari Hobi Melukis Berani Bangun Usaha Sablon di Ternate
TERNATE (kalesang) – Etnik Marchindese, adalah salah satu tempat sablon yang dikenal masyarakat Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara.
Etnik Marchindese ini mulai berdiri sejak tahun 2010, bertempat Kelurahan Makassar Barat, Kecamatan Ternate Tengah. Diketahui, pemilik usaha Etnik Marchindese, adalah M. Rahmat Sugeng Santoso, asal Lamongan, Jawa Timur.
Rahmat menceritakan, sejak masih SD ia sudah menekuni seni rupa seperti melukis. Setelah lulus SD, ia pun melanjutkan pendidikan di salah satu SMP di Lamongan.
Selama di SMP, lanjutnya, ia pernah mengikuti kegiatan di sekolah. Hingga akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti lomba antar sekolah yang dilaksanakan di Bali.
Sejak di Bali, Rahmat mengunjungi beberapa toko yang menjual pakaian khas oleh-oleh dari Bali. Melihat hal tersebut, keinginan pun muncul di benaknya. Dan berharap ke depannya bisa membuat hal tersebut.
“Dulu saya pikir itu pakaian dari luar negeri, padahal bukan. Dari situ saya sudah punya keinginan yang nantinya bisa buat sendiri.” Katanya saat ditemui reporter kalesang.id, Kamis (9/2/2023).
Baca Juga: Di Hadapan Wakapolda Maluku Utara, Walikota Tidore Mengaku Siap Bangun Pagar SPN
Setelah lulus dari SMP, Rahmat melanjutkan SMA di Lamongan. Namun, kedua orangtuanya, yakni Sutono dan Yatmuna, yang sudah lebih dulu pindah ke Ternate, sehingga membuatnya harus mengikuti mereka.
“Datang ke Ternate waktu itu tahun 2000, kemudian orang tua daftar di salah satu SMA yang ada di Kota Ternate ini.” Ucapnya.
Di waktu SMA, Rahmat mulai belajar sablon kaos dengan mantan Walikota Ternate, almarhum Syamsir Andili. Rasa ingin tahu membuatnya semakin semangat untuk belajar dengan siapapun.
Selain bakat dalam seni rupa. Ia juga suka membuat kerajinan tangan. Dari bakat tersebut, ia beranikan diri untuk sewa tempat agar bisa melukis. Meski masih anak-anak, Rahmat selalu manfaatkan waktu kosongnya agar bisa mencari uang sendiri.
“Jadi setelah pulang sekolah, saya langsung pergi ke tempat sewa itu. Orang-orang biasa datang untuk lukis wajah mereka ataupun bisa titip foto. Biasanya langsung dibayar.” Bebernya.
Sablon dan melukis sudah tak bisa lepas pisahkan dengan kesehariannya waktu itu. Namun, setelah lulus SMA di tahun 2003, ia mulai jualan aksesoris, seperti tas dan dompet.
Hal ini dilakukan karena Rahmat mempunyai keinginan memiliki tempat sendiri untuk bisa jualan apapun. Lambat laun, dari proses yang tak mengkhianati hasil itu, ia kemudian sewa tempat untuk jualan di terminal Gamalama.
Baca Juga: Ayo Merapat! Kedai Kopi 66% Punya Promo Menarik dan Ruang Bagi Komunitas
Di tempat tersebut, lanjut lelaki kelahiran 1984 itu, ia mulai lanjut melukis. Namun kali ini ia tak lagi lukis di kertas maupun kain kanvas. Tapi mulai melukis di kaos yang dibelinya secara eceran di pasar.
“Dari situ permintaan mulai banyak. Saya mulai buat terus. Selain itu, saya juga buat ukiran nama di kalung.” Katanya.
Dari usahanya tersebut, dengan keinginan awal yang terinspirasi dengan baju oleh-oleh khas Bali. Rahmat pun memutuskan untuk buat produk yang sama, namun mengangkat ikon Maluku Utara. Keinginannya ini agar orang-orang yang datang ke Kota Ternate bisa bawa pulang sesuatu. Ia pun buat kaos sablon berupa gambar Maluku Satu Darah.
“Waktu itu sablon masih manual, belum seperti sekarang yang sudah pakai mesin.” Ujarnya.
Saat ini, Rahmat menambahkan, ia sudah punya desain kaos sendiri yang dikenal dengan Torang Semua Basudara. Pakai nama itu, punya makna filosofi walaupun beda agama dan budaya, namun tetap satu, tetap bersaudara.
“Jadi, saya cantumkan ide di kaos. Biar orang-orang yang berkunjung ke Kota Ternate bisa bawa pulang oleh-oleh kaos khas Kota Ternate.” Terangnya.
Bagi Rahmat, untuk bangun sebuah usaha hal yang utama adalah punya keinginan untuk jalani usaha tersebut. Sebab, baginya anak muda Kota Ternate punya talenta yang sangat luar biasa.
“Kalau mau usaha itu apa saja, yang penting dijalankan dan konsisten.” Ucapnya.
Baca Juga: Ayo Mampir, Pekan Ini Coconutkai Punya Menu Favorit
Sugeng mengaku tidak pernah menutup diri ketika ada yang datang untuk belajar sablon ataupun membuat kerajinan tangan. Apapun ia lakukan secara sukarela, asalkan orang tersebut mau belajar dan sungguh-sungguh.
Untuk pasaran saat ini, lanjut Sugeng, sudah punya langganan sendiri. Apalagi ada momen, rezekinya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Pertama buka sablon itu, masih manual. Kalau ada permintaan banyak saya kewalahan. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah ada mesin. Jadi bisa produksi banyak.” Katanya.
Kata Rahmat, saat ini produknya tidak hanya kaos sablon saja, ada juga gantungan kunci, topi, gelas dan beberapa kerajinan lainnya. Sejak adanya Covid-19, pendapatan sangat menurun, namun tak membuatnya putus asa.
Dari usaha yang terbilang maju itu, Rahmat selalu mendapat dukungan dari istrinya, Marya Ulfa, keluarga dan kerabatnya. Dan saat ini bisnis tersebut dijalankan bersama keluarganya.
Saat ini lanjut lelaki tiga anak itu, ia sudah punya toko sendiri dan beberapa produknya di titip di Pasar Swalayan Tara Noate pusat oleh-oleh khas Maluku Utara.
“Kalau pendapatan alhamdulilah. Ke depannya saya punya keinginan tempat sendiri agar pelaku usaha yang lain bisa menitipkan barang di tempat saya.” Harapnya.(tr-04)
Reporter: Siti Halima Duwila
Redaktur: Junaidi Drakel
