Oleh: Dofi Dika
Keluarga, banyak orang mendefenisikan dengan seindah yang dibayangkan.
Tapi, tidak denganku,
Suara itu, melukaiku.
Suara itu membangunkanku pada malam yang gelap dan dingin.
Suara yang sama di 10 tahun yang lalu.
Aku tidak lagi benar-benar nyaman dengan suara itu.
Hidup di antara dinding-dinding tembok yang kejam, menghantui alam pikiran dan batin hinggah tak sadarkan diri.
Iyah, mungkin separah itu menjadi aku.
Ketika suara itu bising dalam telingaku, separuh dari tubuhku hilang dalam ketakutan.
Suara bising itu, tak lagi ramah denganku hingga kini. Trauma panjang dari suara itu menjadikanku tak berdaya berkepanjangan.
Akulah saksinya betapa sakitnya aku, di antara suara-suara itu.
Tak ada dari mereka yang menginginkannya, sama halnya aku hidup dalam ketakutan yang dibalut lembut dalam rumah.
Aku tak menginginkan hidup jika hidup hanya mendatangkan luka.
