Membaca Realitas

Jasa Pahlawan

Ira Gai (mahasiswa sastra Indonesia)

Pahlawan,

Puisi ini kubuat untukmu,

Untuk mengenang kembali jasa-jasamu.

Mungkin ini hanya sekadar kata,

Namun bagiku, ini sangat berarti dan bermakna.

 

Pahlawan,

Jasa dan perjuanganmu

Tak bisa kita ukur,

Tak bisa kita hitung.

Jika hendak dihitung,

Dari mana hingga ke mana harus kita mulai?

Jika hendak diukur,

Dari mana hingga ke mana harus kita ukur?

Karena apa? Karena semua itu terlalu banyak dan terlalu berarti.

 

Pahlawan,

Tanpa jasa-jasa dan perjuanganmu,

Mungkin kita tak akan bisa berdiri seperti sekarang ini,

Tak akan pernah bisa menghirup udara bebas seperti saat ini.

Tanpa semua itu, mungkin sekarang kita masih dijajah,

Masih ditindas, dan masih diperbudak oleh negara-negara lain.

 

Resah

Resah… resah… dan resah…

Pahlawan kita mungkin akan menangis,

Mereka akan kecewa, mereka akan resah,

Jika mereka melihat keadaan negeri kita saat ini,

Jika mereka melihat generasi kita saat ini,

Mereka akan resah… dengan semua ini.

 

Yang aku lihat saat ini,

aku merasa negara kita seperti sudah hancur,

tidak lagi damai seperti dulu.

Kita seperti masih tertindas,

seperti masih dijajah.

Tapi bukan oleh negara lain,

melainkan oleh bangsa kita sendiri.

 

Karena apa?

Karena orang-orang sudah tidak ingin bersatu,

lebih mementingkan diri sendiri.

Pada saat upacara kenaikan bendera saja,

banyak yang bermain-main, tidak serius,

dan menganggap remeh.

 

Adat istiadat kita, budaya kita,

perlahan-lahan mulai hilang,

seakan mereka dilupakan.

 

Padahal, mereka tidak sadar

bahwa para pahlawan kita

rela mati, rela berkorban,

rela mempertaruhkan segala hal.

 

Untuk apa?

Demi bangsa kita,

demi generasi kita.

Tapi apa? Kita malah menghancurkan semua itu.

 

Saudara-saudara……..

Sudah saatnya kita bangkit,

sudah saatnya kita berdiri,

sudah saatnya kita membangun kembali generasi kita.

 

Kita tidak bisa terus begini;

jika kita terus seperti ini,

siapa yang akan peduli pada negeri kita?

Siapa yang akan

peduli pada generasi kita?

Siapa, siapa, siapa lagi kalau bukan kita?