Guru Terapi di Ternate Sukses Bangun Kuliner dengan Modal Rp200 Ribu
Pemerintah Diharapkan Berikan Bantuan Tepat Sasaran
TERNATE (kalesang) – Semua orang pasti mempunyai keinginan dalam membuka sebuah usaha. Entah itu kuliner maupun fashion. Namun, hal itu tentu membutuhkan kerja keras.
Seperti yang dilakoni Dewi Sari Ekawati, seorang pelaku usaha kuliner di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara.
Dari banyaknya jenis usaha makanan yang ada, cup cake atau kue menjadi pilihan Dewi Sari Ekawati dalam membuka usahanya.
Merasa peluang itu cukup diminati oleh pelanggan, perempuan empat anak itu tidak tanggung-tanggung memulainya dengan modal yang sangat terbatas.
Dalam membuka usaha tersebut, Dewi hanya mempunyai modal sebesar Rp200 ribu untuk membeli bahan yang akan digunakan.
Usaha yang dikenal dengan nama D’Gorie ini, adalah marga ibunya. Bisnisnya ini dimulai sejak tahun 2016. Yang saat ini berada di Tanah Tinggi, Kecamatan Ternate Selatan.
Meski keseharian sebagai seorang terapi khusus bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Yayasan Pembina Anak Cacat (YPAC), istri dari Imam ini tidak pernah lengah untuk jalankan usaha.
Dewi mengakui, harus membagi waktu agar tugas di sekolah dan usahanya berjalan lancar secara bersamaan. Baginya, dengan pengaturan waktu yang baik merupakan kunci sukses.
Ia sangat menyadari hal ini, untuk itu, ia menerapkan sistem skala prioritas. Jika beberapa kali menerima banyak pesanan tanpa meninggalkan kewajiban.
“Pertama kali itu, saya buat cup cake. Namun, seiring berjalannya waktu banyak yang pesan kue ulang tahun. Akhirnya, saya putuskan untuk fokus buat kue ulang tahun.” Katanya saat ditemui reporter kalesang.id, Minggu (27/3/2023).
Mungkin, terlihat mudah untuk buat kue. Namun, kata Dewi, ia harus lebih kreatif. Karena pesanan kue ulang tahun masing-masing punya karakter yang berbeda.
Ia sering kesulitan ketika kue yang dibuatnya harus berbeda, tampilan berupa gambar yang menarik sesuai dengan permintaan.
“Biasanya yang pesan kue, saya harus sesuaikan dengan gambar, itu bagian tersulit. Tapi makin kesini sudah biasa.” Ucapnya.
Tak hanya itu, usaha yang dibuat oleh perempuan 41 tahun itu mulai buat roti bakar varian rasa, seperti coklat dan keju dengan topping kopi.
“Buat roti ini, karena saya suka makan, kalau makan saja baiknya buat sendiri dan jual, hitung-hitung agar ada pemasukan saja. Alhamdulillah banyak yang suka roti ini.” Ujarnya.
Dari usaha roti, Dewi pun diajak oleh salah satu teman untuk bergabung di Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), beberapa persyaratan pun ia penuhi agar bisa bergabung.
“Akhirnya saya beranikan diri untuk titip roti di Pasar Swalayan Tara Noate waktu itu.” Ujarnya.
Tentunya, perempuan yang bergelar sarjana Sst. Ft ini sering terima pesanan makanan. Tak hanya itu, jika di bulan puasa ia sering kebanjiran pesanan menu batal seperti risoles smoke beef, risoles sayur dan es lumut.
“Pelanggan saya sudah tahu dan sering order pesanan di bulan puasa.” Ucapnya.
Menurut Dewi, bangun usaha kuliner seperti ini tidaklah mudah, harus punya banyak waktu, tenaga begitu pun dengan ide yang kreatif.
“Sebenarnya kalau banyak ide, saya yakin usaha tidak akan berhenti. Meskipun banyak orang punya usaha yang sama.” Katanya.
Memang, Dewi menuturkan, usaha seperti ini cukup banyak dibuat dan peminatnya pun banyak. Hal ini menjadi tantangan tersendiri. Meski begitu, sampai saat ini pelanggan-pelanggan tidak pernah pindah ke lain hati. Karena, kualitas rasa yang diutamakan.
Untuk penjualan, saat ini Dewi sangat memanfaatkan media sosial (Medsos), dengan adanya medsos, usaha bisa dipromosikan lebih menarik. Seperti Facebook, Instagram dan WhatsApp.
“Manfaatkan medsos untuk jualan online seperti ini, hampir semua orang gunakan. Jadi, kita juga harus lebih pandai melihat peluang pasar.” Imbuhnya.
Bagi Dewi, usaha seperti ini harus menarik, mulai dari kemasan bahkan tampilan menu dan rasa pun tak boleh kalah enak.
“Harapan ke depan, untuk pemerintah ketika beri bantuan, seharusnya lebih tepat sasaran, agar bisa digunakan sebaik mungkin.” Harapnya. (tr-04)
Reporter: Siti Halima Duwila
Redaktur: Junaidi Drakel
