Membaca Realitas

Ribuan Warga Rayakan Malam Lailatul Qadar, Begini Prosesi Adat yang Dilakukan Kesultanan Ternate

Sebanyak 36 Pasukan Doi Doi yang Menandu Sultan Ternate

 

TERNATE (kalesang) – Ribuan warga antusias memeriahkan malam ela-ela atau malam Lailatul Qadar yang dipusatkan di Kedaton Kesultanan Ternate, Provinsi Maluku Utara, pada Senin (17/4/2023) malam.

Fanyira Kadaton Kesultanan Ternate, Rizal Effendi mengatakan, prosesi menyambut malam Lailatul Qadar dimulai usai salat Ashar, terdapat mulia yang turun dan diambil para perangkat adat.

“Para perangkat adat ini mengambil beberapa pusaka-pusaka leluhur dan barang-barang kebesaran lainnya dan menempatkan di Masjid Kesultanan Ternate atau Sigi Lamo.” Ucap Rizal saat diwawancarai kalesang.id, Senin (17/4/2023).

Kemudian usai salat Maghrib, lanjutnya, Sultan Ternate Hidayatullah Sjah melakukan pembakaran ela-ela yang diikuti para perangkat adat serta Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate.

“Pembakaran ela-ela itu menandakan kita semua selaku ummat muslim menantikan malam yang dinanti-nantikan, yaitu malam Lailatul Qadar.” Katanya.

Baca Juga: Ramaikan Festival Ela-Ela, Pemuda Kelurahan Tanah Raja Ternate Tampilkan Tarian Cakalele

Usai pembakaran ela-ela tersebut, Rizal menambahkan, Sultan Ternate bersama perangkat adat melaksanakan prosesi Uci Sabea, Sultan Ternate ditandu pasukan pengawal kedaton menuju Masjid Sigi Lamo untuk melaksanakan salat Isya dan tarawih diiringi suara gending khas Jawa-Ternate, yaitu tembang Cika Momo.

Konon, kata Rizal, gamelan yang dipukul atau masyarakat setempat menyebutnya dengan tatabuang itu merupakan pemberian dari Sunan Giri kepada Sultan Ternate, Zainal Abidin sebagai kenang-kenangan yang kala itu Sultan Zainal Abidin mondok di Jawa Timur.

“Yang menandu Sultan Ternate disebut pasukan Doi Doi berjumlah 36 orang, Sultan Ternate dipayungi dua payung kebesaran berwarna kuning keemasan bagian kiri kanan dan satu payung pelangi di bagian belakang.” Jelas Rizal.

Baca Juga: Sambut Lailatul Qadar, Kesultanan Tidore Gelar Sejumlah Ritual Adat

Setelah melakukan salat Isya dan tarawih, dia menyampaikan, prosesi adat ini kemudian kembali dilakukan, Sultan Ternate kembali ke Kedaton Ternate, dan sultan naik lalu sesampainya di balkun dilakukan prosesi Oro Barakat.

“Prosesi ini dilakukan ketika sultan di depan balkun mengangkat kedua tangannya dengan makna memberikan syafaat kepada warga dan warga membalas dengan Suba Jou.” Pungkasnya.

Sekadar diketahui, selain Sultan Ternate ditandu yang duduk pada kursi ukiran indah dengan dua payung kerajaan berwarna kuning keemasan tersebut, ada pula arak-arakan bunga lilin.

Di halaman Kedaton Ternate, terdapat obor besar berdiri yang ditancapkan di tanah yang dibuat dengan batang pisang dengan panjang kurang lebih satu meter dan ditaruh damar di atas batang pisang tersebut.

 

Reporter: Tim Redaksi

Redaktur: Junaidi Drakel