Oleh: Ramli Lahaping
Sungguh pilu perasaan Humam setelah mengetahui kalau bosnya ingin membangun kandang kuda yang besar menyusul kepulangan kuda kesayangannya. Dari penjelasan sang bos, ia tahu kalau kandang kuda yang akan dibangun sekitar empat puluh meter dari kediamannya itu, akan cukup megah untuk seekor binatang. Karena itu, ia jadi berat hati menerima kenyataan bahwa kandang tersebut akan lebih layak disebut rumah daripada rumahnya.
“Kandangnya akan sebesar ini?” tanya Humam, heran, setelah mengamati denah bangunan tersebut.
Sang bos mengangguk. “Kuda-kuda terbaik, memang pantas mendapatkan hunian yang baik.”
“Apakah tidak kemewahan, Bos?” singgung Humam, mengesankan keberatannya.
Sambil tersenyum, sang bos menggeleng. “Itu sudah sepantasnya.” Ia lalu menepuk-nepuk pundak Humam. “Pokoknya, kau harus mengawasi pembangunannya baik-baik. Jangan segan mengabari aku kalau ada hal yang kurang dan dibutuhkan untuk pembangunannya.”
Dengan penuh kepasrahan, Humam mengangguk, menyanggupi.
Memang wajar kalau Humam enggan menuruti kehendak sang bos untuk membangun kandang kuda yang baru. Rumahnya sendiri jelas sangat sederhana, layaknya gudang barang bekas. Itu karena dahulu, kediamannya itu adalah bekas kandang kuda yang pertama sebelum dibangunnya kandang kedua yang sederhana. Tetapi dua tahun lalu, setelah ia menikah dan ingin tinggal di kediaman tersendiri, kandang itu pun dibenahi agar layak menjadi huniannya.
Sejak saat itu, tinggallah Humam di rumah bekas kandang yang terletak di tepi lahan peternakan milik sang bos. Ia menetap di situ, sembari merawat dan menjaga kawanan sapi dan kuda. Setiap hari, waktunya akan habis untuk mengurusi penyediaan pakan, pemeliharaan kebersihan, hingga pengandangan ternak. Ia menunaikan pekerjaan itu secara serius, sebab ia senantiasa mendapatkan imbalan yang cukup menggembirakan dari sang bos.
Tetapi setelah mendengar rencana sang bos untuk membangun kandang baru menyusul kepulangan seekor kuda andalan, Humam pun jadi uring-uringan. Ia tak habis pikir atas ketegaan sang bos membuat kandang yang tampak lebih pantas untuk menjadi huniannya. Ia merasa iri karena sang bos ternyata lebih memerhatikan kepentingan kuda-kuda itu ketimbang kesejahteraannya sebagai pesuruh.
Humam memang memahami kalau sang bos sangat memedulikan empat ekor kudanya. Apalagi, kuda-kuda itu dipelihara bukanlah untuk dijual sebagai hewan sembelihan. Kuda-kuda itu lebih dimaksudkan sebagai hewan pacuan atau hewan peraga untuk berbagai kontes. Kuda-kuda itu tak ubahnya lambang kemewahan bagi sang bos yang merupakan pengusaha toko bangunan yang hobi beternak sapi dan menunggang kuda.
Tetapi di antara empat kuda tersebut, sang bos memang lebih menyukai seekor kuda jagoan yang acap kali dibawanya selama berhari-hari. Kuda itu merupakan kuda dari pulau seberang yang kerap diandalkan sang bos untuk mengikuti perlombaan. Karena itu, setiap kali menjelang kontes, sang bos akan membawa kuda kesayangannya itu ke rumahnya untuk berlatih di arena pacuan pribadinya. Dan untuk kuda itu pula, sang bos ingin membangun kadang yang baru.
Humam memang menyadari kalau ia tak punya hak untuk menentang rencana sang bos. Apalagi, dana pembangunan kandang itu tidak juga mengganggu jatah upahnya. Bahkan atas tugasnya sebagai mandor, ia dijanjikan bonus khusus setelah pembangunan selesai. Tetapi meski begitu, Humam tetap merasa kalau pembangunan kandang yang megah untuk kuda-kuda adalah tindakan yang berlebihan kala ia sendiri butuh hunian yang lebih layak.
Akhirnya, Humam memberontak. Di tengah tugasnya sebagai pengawas pembangunan kandang, ia pun melakukan perbuatan kotor. Ia nekat menggelapkan sejumlah uang proyek untuk kepentingannya sendiri. Ia ingin menggunakannya untuk mengganti papan dinding rumahnya yang sudah lapuk, juga mengganti seng atap rumahnya yang sudah bocor. Ia akan melakukan itu setelah pembangunan kandang selesai, agar aksinya tidak terendus.
Tidak cukup begitu. Demi mendapatkan ongkos pembenahan rumah yang lebih banyak, juga untuk membalaskan kecemburuannya kepada kuda-kuda kesayangan sang bos, ia pun nekat mengorting ongkos pangan dan pemeliharaan hewan-hewan tersebut. Tetapi ia tetap mengupayakan agar aksinya itu tidak sampai membuat kuda-kuda jatuh dalam bahaya, apalagi sampai sakit dan mati, sebab itu akan membuat sang bos curiga.
Namun akhirnya, terjadilah apa yang tak diinginkan Humam. Dua hari yang lalu, seekor kuda sang bos, jatuh sakit dan terpaksa mendapatkan penanganan khusus dari seorang dokter hewan. Kuda itu hanya terus berbaring dengan kondisi yang makin memburuk. Tetapi atas perawatan Humam yang cukup menyesali perbuatannya, berdasarkan saran penanganan dan resep obat dari dokter, kuda itu masih terus berjuang untuk sehat.
Dan akhirnya, hari ini, kandang kuda yang baru telah rampung setelah dibangun selama sekitar satu setengah bulan. Seperti dugaan Humam pada awalnya, secara kasat mata, bangunan itu lebih layak disebut rumah daripada rumah yang ia huni bersama istri dan seorang anaknya. Sebuah bangunan seluas 11×6 meter yang terdiri dari 1 ruangan besar dan 3 ruangan kecil. Sebuah bangunan yang tersusun dari tembok, dengan jendela di setiap dindingnya.
Atas keheranannya pada kemurahan hati sang bos kepada kuda-kuda, Humam kemudian menghampiri sang bos yang tampak memeriksa hasil pembangunan para pemborong. Dengan segan, ia lantas bertanya, “Apakah bangunan ini benar-benar akan diperuntukkan untuk kuda-kuda, Bos?”
Sang bos tergelak pendek. “Memangnya kenapa kau bertanya begitu?”
Humam menelan ludah di tenggorokannya, lalu memberanikan diri untuk berterus terang, “Maksudku, bangunan ini terlalu bagus untuk jadi kandang kuda. Kalau kulihat-lihat, ini lebih layak untuk menjadi rumah. Ini bahkan lebih bagus daripada rumahku itu,” tuturnya, sambil menuding kediamannya yang luasnya hanya setengah dari luas bangunan baru tersebut.
Seketika, sang bos tertawa lepas. “Tetapi sebenarnya, memang begitulah akhirnya, Humam.”
“Maksud, Bos?” selisik Human, tak mengerti.
“Ya, bangunan ini akan menjadi rumah baru untukmu sekeluarga, dan rumah lamamu itu akan kembali menjadi kandang kuda yang khusus untuk kuda andalanku,” terang sang bos, dengan raut gembira, seolah senang telah berhasil mengerjai karyawannya.
Tak pelak, Humam terkejut. “Bos tidak bercanda, kan?”
Sang bos mengangguk dan tersenyum. “Ya. Aku memang membangun ini untuk menjadi rumah barumu. Ini merupakan bentuk terima kasihku atas kesungguhanmu memelihara ternak sapiku dan menjaga kuda pacuanku.”
Humam pun tersenyum bahagia dengan perasaan bersalah yang perlahan-lahan menggerayangi batinnya, sebab ia telah mengorupsi uang pendirian bangunan yang tak pernah ia sangka akan menjadi hunian barunya tersebut.
“Tetapi kau harus berjanji kepadaku, bahwa kau akan terus giat menjaga semua hewan-hewanku, terutama kuda andalanku, oke?” tagih sang bos.
Tanpa keraguan, Humam mengangguk tegas. “Tentu, Bos. Aku berjanji.“
“Baguslah. Apalagi, memang seharusnya begitu, sebab kuda andalanku itulah yang membuat aku memutuskan untuk membangunkan rumah baru untukmu. Dua bulan yang lalu, kuda itu telah menjadi tungganganku dalam memenangkan kontes pacuan kuda, dan aku pun mendapatkan hadiah uang yang turut kugunakan untuk membangun rumah barumu ini,” terang sang bos, lantas penepuk-nepuk punggung Human.
Sontak saja, Humam terenyuh. Perlahan-lahan, perasaan bersalah menyeruak di dalam hatinya atas apa yang telah ia lakukan kepada kuda-kuda sang bos. Karena itu, diam-diam, ia bertekad untuk benar-benar memperhatikan kuda-kuda sang bos, termasuk dengan mengupayakan kebugaran bagi seekor kuda sang bos yang sedang sakit, juga membenahi kandang kuda andalan sang bos dengan uang yang telah ia gelapkan sebelumnya.***
