Bangunan Kios Kuliner di Kota Ternate Mulai Rusak, Ini Tanggapan DPRD
Nurlaela: Jangan Sekali-sekali Menambah Bangunan Lain
TERNATE (kalesang) – Bangunan kios kuliner di belakang Jatiland Mall Kota Ternate, Maluku Utara terlihat mulai rusak.
Padahal, kios yang ditangani Dinas Koperasi dan UKM serta Dinas PUPR Kota Ternate yang menyerap anggaran sebesar Rp1,5 miliar itu, saat ini belum difungsikan.
Atas hal itu, anggota Komisi III DPRD Kota Ternate, Nurlaela Syarif harus angkat bicara. Menurunya, Pemerintah Kota Ternate harus terlebih dahulu mengikhtiarkan terkait pembangunan kios kuliner di belakang Jatiland Mall, maupun yang ada di Kelurahan Kampung Makasar agar kiranya ada pertimbangan.
“Penyelesaian pekerjaan fisiknya harus sesuai waktu dan saat penyerahan aset pastikan seluruh pekerjaan sesuai dengan nilai pekerjaan dan jika terjadi kerusakan dalam fase waktu satu tahun, segera dilakukan pemeliharaan dan dipastikan berjalan sesuai aturan.” Katanya, Jumat (2/6/2023).
Nurlaela mengatakan, yang paling penting adalah sebelum penyerahan kepada pedagang, Pemkot Ternate harus benar-benar membangun komitmen kepada pedangan agar wajib menjaga kebersersihan, jangan sekali-kali membuang sampah di pantai, baik pedangang maupun para konsumen yang datang makan dan santai di lokasi tersebut.
“Jangan sekali-kali menambah bangunan lain di luar arsitektur pembangunan aslinya, karena ini sering terjadi bangunan yang dibangun bagus, begitu pedagang atau penjual masuk, tambah bangunan sana sini keindahan arsitektuknya terlihat kotor.” Ujarnya.
“Sekali lagi, ini penting agar Pemkot harus bangun komitmen pendampingan dan pembinaan selama pedagang menempati dua titik lokasi kuliner tersebut.” Tegas Nurlaela.
Tentu, Nurlaela menambahkan, semangat membangun tidak hanya asal membangun, Ternate ini kota kecil yang indah, kedua titik kuliner baik di belakang mall dan di lapak Lelong ini adalah dua tempat kuliner yang sangat mahal view atau pemandangannya, dan ini bisa menjadi kebanggan Kota Ternate.
“Jadi jangan sampai salah urus, pedagang atau penjual kuliner di tempat itu harus dibina secara baik, sehingga ada kesadaran lingkungan, kesadaran estetika, kesadaran menjaga keindahan perwajahan kota ini. Pusat kuliner dibangun dengan anggaran miliaran pasti akan terlihat kotor, sampah di laut dan di jalan berhamburan, sedih rasanya kota ini sulit menjadi kota destinasi wisata domestik maupun asing.” Tandasnya (tr-01)
Reporter: Juanda Umaternate
Redaktur: Junaidi Drakel
