Membaca Realitas

Kabupaten Kepulauan Sula Butuh Telinga Elite Politik

 

Separuh para pengamat budaya Indonesia mengatakan masyarakat Indonesia berorientasi lisan. Tidak mengherankan sejak dulu, juga setelah Indonesia merdeka, masyarakat kita lebih gemar berbicara daripada mendengarkan. Padahal menurut pepatah lama, fakta bahwa kita punya dua telinga dan satu mulut mengisyaratkan seharusnya kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.

Seringkali kita temukan bahkan praktekkan dalam upacara memperingati hari nasional, banyak peserta upacara berbicara ketika pembina upacara memberikan sambutan. Kegemaran berbicara pun terlihat dalam seminar meskipun moderator mengingatkan sebelumnya agar penanya berbicara singkat, penanya sering menjadi pembicara tandingan dan mengkuliahi hadirin. Tidak aneh juga di suatu universitas banyak guru besar yang mengobrol dengan sekawannya sementara seorang guru besar lainnya sedang menyampaikan orasi ilmiah.

Berbagai kajian menujukkan bahwa ketidakmampuan mendengarkan ini berisiko, berbahaya, dan terkadang menimbulkan akibat yang fatal, terutama dalam dunia ekonomi dan dunia politik. Karena itu, bukan tidak mungkin krisis ekonomi dan politik di Indonesia belakangan ini juga disebabkan oleh ketidakmampuan para pemimpinnya untuk mendengarkan orang lain, khususnya rakyat.

Kabupaten Kepulauan Sula sendiri untuk membangunnya lebih maju, kita perlu mengubah gaya kepemimpinan elite kita dari banyak bicara menjadi lebih banyak mendengarkan. Para pemimpin dan perwakilan kita lembaga eksekutif dan legislatif seyogianya memupuk sikap baru ini dalam komunikasi mereka.Baik dengan sesame elite politik maupun dengan masyarakat.

Tentu para elite harus banyak berkaca dari para pengasuh acara bincang-bincang (talkshow) seperti Alvin Adam dalam acara Just Alvin (Metro TV) dan Najwa Sihab di acara Mata Najwa untuk menjadi pendengar yang baik, sepenuh hati dan perasaan.

Kunci bagi kesuksesan Najwa sangat sederhana, yakni kemampuannya berkomunikasi dan berhubungan dengan orang-orang yang membuatnya tampak dapat diakses oleh siapapun dan juga intuitif. Ketika Najwa berbicara orang-orang mendengarkannya. Dari perspektif marketing ada nilai yang dapat mempengaruhi. Ia seorang komunikator yang baik dan berpengalaman.

Diperlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk mengembangkan kebiasaan mendengarkan sebagai unsur budaya baru di daerah yang dalam kategori tertinggal seperti Kabupaten Kepulauan Sula sebagai unsur budaya baru elite dalam komunikasi politiknya.

Alih-alih bupati dan Dewan Perwakilan Rakyat bertemu dengan masyarakat bahkan mahasiswa yang melakukan demonstrasi untuk mendengarkan aspirasinya saja susah. Padahal orang/masyarakat Sula kita sudah terbiasa melakukan komunikasi bersifat verbal berupa pemberian nasihat, petunjuk, wejangan, arahan, dsb. Yang telah terwarisi dari para moyang kita. Bahkan selain warisan itu komunikasi yang nonverbal sangat berpotensi tidak maksimal karena SDM dan jaringan internet yang tidak memadai.

Mendengarkan (listening) berbeda dari mendengar (hearing). Yang pertama bersifat aktif, sedangkan yang kedua bersifat pasif (sekadar proses fisiologis dan bersifat mekanis). Mendengar terjadi ketika gelombang bunyi menggetarkan gendang telinga dan otak menangkap getaran atau bunyi tersebut, sedangkan mendengarkan terjadi ketika impuls yang dikirimkan ke otak ditafsirkan dan dipahami (Abrams, 1986:76).

Sebagaimana dikatakan Goleman (2006:88), kemampuan mendengarkan lebih penting lagi bagi orang yang profesinya membantu orang lain seperti dokter dan pekerja sosial. Menurutnya lima menit mendengarkan boleh jadi merupakan momen kemanusiaan yang sangat bermakna, asal saja anda bersedia menghentikan apa yang sedang anda lakukan, meletakkan memo yang sedang anda baca, mengalihkan perhatian anda dari laptop, meninggalkan lamunan anda, dan memusatkan perhatian kepada orang yang bersama anda (masyarakat).

Berdasarkan penelitian William Ickes, psikolog Universitas Texas, kemampuan mendengarkanlah yang menandai penasihat paling taktis, oficial paling diplomatis, perunding paling efektif, politisi terpilih, penjual paling produktif, pengajar paling sukses, dan terapis terbaik.

Perlu diingat mendengarkan adalah perilaku komunikasi paling awal yang dipelajari manusia, dan baru kemudian berbicara, membaca dan menulis, anehnya pemimpin dan wakil rakyat khususnya di Kepulauan Sula lebih senang omong kosong daripada mendengarkan kebutuhan dan keinginan masyarakatnya. Jelaslah bahwa elite politik kita hanya jadikan ucapannya sebagai sarana menarik perhatian orang lain, aktualisasi diri, dan untuk memperoleh pengakuan sosial bahwa mereka cerdas, intelektual, berwibawa, atau berkuasa. Sebaliknya mendengarkan adalah bentuk kepasifan, kelemahan, dan kekurangan yang dimiliki elite politik kita.

Sebenarnya mendengarkan apa yang dibutuhkan konstituen adalah suatu bentuk komunikasi politik yang baik dan bijaksana dalam memajukan daerah sehingga dapat bersaing dengan daerah yang lain. Pemimpin (bupati) adalah telinga dari mulutnya orang yang sedang ia pimpin. Sedangkan wakil rakyat (DPR) adalah mulut dari kebutuhan dan keinginan masyarakatnya.

Sebagai catatan bahwa kegiatan menyerap aspirasi masyarakat atau reses anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Sula hanyalah sebuah instrument yang dimanfaatkan untuk memperpanjang periodesasi.