Indonesia merupakan salah satu negara terluas yang memiliki kepulauan terbesar, mempunyai banyaknya suku, ras dan budaya yang berbeda-beda baik dari aspek kultur dan bahasa, di setiap daerah masing-masing. Namun dengan nilai kebangsaan dan nasionalisme untuk Indonesia bahasa Indonesia digagas menjadi bahasa ibu atau bahasa nasional hal ini dinilai sebagai bahasa yang kokoh.
Bahasa Indonesia diistimewakan di seluruh negara bukan saja pada skala nasional, namun telah diakui sebagai bahasa internasional dan resmi hadir di tengah negara lain, dan juga identitas Indonesia sebagai negara yang mempunyai berbagai kepulauan setiap pulau atau suatu daerah itu memiliki kebudayaannya masing-masing, di antaranya juga memiliki sastra daerah tersendiri.
Luasnya Indonesia dapat dikenal asal-usul seseorang berdasarkan sastra daerahnya sehingga perlu hadir bahasa tersebut di tengah-tengah budaya agar kepastian atau eksistensi slogan “berbeda-berbeda tetap satu” terlihat damai karena perbedaan adalah suatu keniscayaan yang indah dan patut di syukuri.Sastra Indonesia tumbuh dan berkembang dari budaya Indonesia yang beraneka ragam.
Oleh karena itu, keberadaan sastra di Indonesia pun beraneka ragam, mulai keragaman genre hingga ke masalah sosial, politik, dan budaya etnik. Genre sastra di Indonesia tidak hanya yang tampak general, seperti prosa, puisi, dan drama, tetapi juga yang spesifik, seperti dongeng, legenda, mitos, epos, tambo, hikayat, syair, pantun, gurindam, macapat, karungut, mamanda, dan geguritan.
Keberagaman genre sastra tersebut juga menyebabkan keberagaman dalam hal gaya hidup, semangat inilah yang harus mendasari.
Membangun ke-Indonesiaan tidak pernah selesai selama hayat masih dikandung badan. Selama masih ada negara yang bernama NKRI dan masih ada rakyat yang mendukungnya, pembangunan di Indonesia terus akan tetap berkelanjutan.
Namun, mau dibawa ke arah mana pembangunan Indonesia dalam era global dan pasar bebas dunia ini, dalam hal masalah keberagaman sastra di Indonesia dalam membangun ke-Indonesiaan, dengan keberagaman laras bahasa, keberagaman budaya etnis, dan pengaruh budaya asing dan global. Ketiga hal itulah kiranya yang menjadi masalah krusial dalam menentukan arah pembangunan Indonesia pada masa depan, khususnya pembangunan dan pembinaan sastra di Indonesia.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang secara umum dapat dimengerti dan dipahami oleh warga negara Indonesia yang memiliki bahasa turunan dengan wujud sastra bahasa daerah yang secara khusus hanya dapat dimengerti bagi segelilintir orang, sastra daerah adalah alat komunikasi khusus dan tidak mudah terbaca oleh orang lain ia menjadi identitas lokal yang mengatasnamakan jati diri kebudayaan, karena masyarakat Indonesia yang menjadi bagian dari komunitas global mengalami berbagai perubahan sosio-kultural dengan cepat seiring perubahan kehidupan dunia global.
Dinamika kehidupan masyarakat Indonesia yang mulai bergeser dari kehidupan agraris menuju kehidupan modern dalam waktu yang drastis singkat, sehingga berpengaruh pada perilaku sosial, solidaritas sosial, dan peradaban suatu bangsa.
Oleh karena itu, karya sastra Indonesia dan daerah diharapkan mampu berperan aktif dalam membanggun tatanan ideal memberikan sumbangsih yang dapat mendobrak keberhasilan pada penanaman nilai-nilai yang dirawat dalam rangka membangun peradaban bangsa.
Dengan sastra daerah kelompok tertentu dapat mengekspresikan hidupnya dengan nada dan gaya berbahasa yang berwarna-warni, komponen sastra daerah ini juga perlu dilestarikan agar tetap hidup untuk Indonesia yang berkemajua dan kepribadian bangsa yang lebih baik sebab bahasa Indonesia dan sastra daerah memiliki kesinambungan yang erat, di antaranya sastra bahasa yang lahir dari sudut daerah atau suatu kebudayaan tertentu yang tersatu untuk membentuk Indonesia dengan motif yang unik dari negara-negara lain.Yakni, sebagai negara kepulauan yang memiliki banyaknya keberagaman.
Berpegang pada sastra daerah akan lebih mudah menampakkan siapa kita, itu sebabnya bagi banyak orang terdapat satu kebanggan yang dalam apabila sastra daerahnya terus mengalir dan kedudukannya mendapatkan respon yang baik di kalangan sosial, walaupun sastra bahasa dapat diklaim sebagai budaya rahasia namun antara kedua ini nilainya dapat diakomodir sekaligus, di antaranya nilai kemanfaatan dan kesempatan, memiliki derajat yang berbeda antara bahasa Indonesia sebagai bahasa bangsa dan sastra daerah sebagai tampilan ciri khas kebudayaannya namun keduanya hadir dengan reaksi yang tidak saling menjatuhkan bahasa tubuh yang satu dengan yang lain.
Dapat diartikan bahwa bangsa dan sastra daerah sama-sama lahir dengan kelebihannya untuk secara kompleks dapat berdiri tegak agar bisa menyatukan perbedaan yang mudah merajut kembali kasih dan sayang kebangsaan ini, kemudian sastra daerah mempunyai keistimewaan yang secara turun-temurun mengalir dalam keabadian budaya, dalam pelaksanakan kebiasaan suatu daerah mungkin memiliki pembaharuan, karena bisa saja dipengaaruhi oleh zaman dan kemajuan teknologi namun berbeda dengan bahasa atau sastra daerah ia selamanya tidak akan diubah bahasanya, dikonsumsi utuh sejak lahirnya hingga kapanpun itu.
Bangsa Indonesia memiliki materi yang menghubungkannya dengan sastra daerah. Mungkin saja sastra daerah tidak mudah berinteraksi dengan kelompok sosial lainnya, sebab bahasanya adalah bahasa yang lahir hanya pada ruang lingkup masyarakat dan memiliki beraneka bumbu-bumbu dalam tutur bahasanya, sastra daerah juga sebagai bahasa penyelamat yang notabene menjadi panggung seseorang meluapkan puncak seni hidupnya.
Karya sastra adalah salah satu hasil karya sastra seni yang sekaligus menjadi bagian dari kebudayaan. Hal ini karena sastra daerah tidak terpisahkan dengan bahasa Indonesia. Berdasarkan letak dan kedudukannya, sastra dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu sastra dunia, sastra nasional, dan sastra daerah. Sastra daerah memiliki kedudukan yang sangat signifikan ditengah masyarakat.
Hal ini dikarenakan sastra daerah dapat menjadi wahana pembelajaran untuk memahami masyarakat dan budayanya. Dalam pelajaran bahasa Indonesia juga memiliki materi yang menghubungkannya dengan sastra daerah. Sastra daerah dapat ditemukan dalam dongeng, syair, cerita rakyat, pantun, dan juga hikayat.
Kebanyakan muatan sastra daerah dalam pelajaran bahasa Indonesia ditemukan cerita rakyat yang memang sudah populer di Indonesia. Sastra daerah yang populer tersebut terus diulang-ulang untuk dijadikan cerita rakyat, sehingga mengakibatkan muatan sastra daerah ketika dilihat dalam pelajaran bahasa Indonesia sama sekali tidak bervariasi dan statis.
Kelangsungan sastra daerah memiliki ketergantunggan pada antusias masyarakat untuk terus mempertahankannya. Jika masyarakat pemilik sastra di suatu daerah mempertahankannya, maka sastra daerah pun akan terus ikut berkembang dan tetap terjaga eksistensinya.
Namun apabila, jika sebaliknya masyarakat di suatu daerah sudah tidak lagi antusias mempertahankan sastra daerahnya sendiri, maka bukan hal yang tidak mungkin, sastra daerah lama kelamaan hanya akan tinggal nama dengan keping-keping yang tak bernilai. Jika hal demikian tidak segera diantisipasi, maka niscaya sastra daerah akan terkikis habis, mati, dan punah di tanahnya sendiri.
Sastra mempunyai peranan sangat penting dalam membangun peradaban bangsa.
Melalui karya sastra, seseorang tidak hanya mengembangkan imajinasi yang bisa digunakan untuk membangun bangsa, tetapi juga sebagai media untuk mewariskan nilai kearifan lokal kepada generasi muda. Kearifan lokal inilah yang membentuk jati diri bangsa Indonesia. Sehingga itu sastra daerah dapat memiliki peran penting dalam upaya meningkatkan budaya literasi di kalangan generasi muda.
Bahasa dan sastra daerah bisa punah jika keberadaannya tidak dilestarikan, oleh karena itu, bagi masyarakat atau generasi setempat untuk merajut keberagaman medium ekspresi-ekspresi sastra yang menggunakan bahasa-bahasa lokal itu agar mampu memperkaya pemahaman tentang konsep kebinekaan dan ketunggalikaan.
Merangkul dan sama-sama melestarikan sastra daerah untuk menjunjung nilai luhur nenek moyang yang penuh dengan karakter. Karena seyogyannya sastra daerah dan bahasa Indonesia perlu penyatuan secara utuh agar dapat menggambarkan kebudayaan dengan konkrit yang berhasil membawanya menuju bangsa yang dicita-citakan.
