Tiga Desa Lingkar Tambang Halmahera Tengah, Dikepung Sampah
Volume Sampah Dalam Sehari Mencapai 50 Ton
HALTENG (kalesang) – Sampah berserakan di sepanjang jalan memasuki Desa Lelilef Woebulen,Sawai hingga Desa Gemaf, di Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara, membuat pengendara harus menutup hidung dan mulut, ketika melintasi jalan utama tiga desa tersebut karena aroma tak sedap.
Ketiga desa tersebut merupakan desa yang diapit oleh industri tambang raksasa seperti PT Weda Bay Nickel (WBN), PT Tekindo Energi, PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) yang merupakan program strategi nasional program dari Presiden Joko Widodo.
Ketika melintasi jalan ketiga desa tersebut tak hanya, debu yang menutupi jarak pandangan setiap pengendara. Namun sampah terlihat berserakan dimana-mana hingga mengeluarkan bau busuk.
Sampah yang diduga berasal dari pemilik kos-kosan hingga sampah rumah tangga tersebut, dibungkus kantong plastik warna merah, hitam, putih dan biru memenuhi bahu jalan, sebagian hingga berserakan di badan jalan.
Risman (30) warga Desa Lelilef Woebulen, saat ditemui Senin (9/10/2023) ia mengaku, sampah-sampah dibuang di bahu jalan dikarenakan desa-desa di area tambang ini hanya memiliki beberapa tempat pembuangan, dengan banyaknya jumlah penduduk seperti saat ini membuat orang dengan sembarangan membuang sampah.
“Bagaimana tidak membuang sampah sembarang. Karena jumlah penduduk begitu banyak tidak ada tempat pembuangan sampah yang memadai mau tidak mau orang hanya membuangnya di bahu-bahu jalan.”Ungkapnya.
Risman mengaku, kebanyakan orang yang menempati dua desa seperti Desa Lelilef Woebulen dan Desa Lelilef Sawai ini kebanyakan karyawan dari PT IWIP.
Menurut Risman, dulunya masyarakat hanya bermukim pada pesisir pantai, dan jalan yang digunakan saat ini (jalan utama) itu masih merupakan hutan rimba. Namun setelah masuknya Perusahan tambang di Desa Lelilef ini, hutan dibabat habis.
Lokasi dulu yang merupakan rawan-rawan saat ini sudah disulap menjadi kosan, perumahan dan penginapan. Sudah pasti pertumbuhan penduduk meningkat sampah rumah tangga ikut meningkat.
“Saat ini yang kalian lihat sudah berkurang, karena banyak mendapat protes dari warga asli, sehingga ketika sampah menumpuk kadang dibakar.”Jelas Risman.
Sementara Kepala Desa Lelilef Sawai, Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara, Frilex Arbaben, membenarkan bahwa sampah menumpuk sepanjang jalan di Desa Lelilef tersebut.
Frilex mengaku. sampah ini juga masalah yang tak pernah habis untuk dibahas, karena ini merupakan sampah dari kos-kosan dan juga sampah rumah tangga.
“Masalah sampah sampai sekarang ini kepala saya pusing, karena jumlah jiwa banyak dan tidak ada tempat sampah, mau tidak mau orang buang di pinggir jalan.”Ungkap Frilex.
Pengakuan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Halmahera Tengah Rivani Abdurrajak, saat dikonfirmasi. Senin (23/10/2023) mengaku permasalahan sampah di Weda Tengah merupakan ketidak sadaran pendatang yang menempati wilayah tersebut.
Sementara Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dalam ketentuannya itu hanya ada satu dalam satu kabupaten, hanya ada di Kota Weda.
Untuk Weda Tengah sendiri telah disiapkan sebanyak 12 Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di area Perusahan PT Trakindo Energi dan PT IWIP, namun tingkat kesadaran penduduk yang menaungi wilayah tersebut masih sangat minim.
“TPS itu ada di dekat PT Trakindo Energi dan PT IWIP, tapi masyarakat ini malas, tidak mau tau dan kesadaran lingkungannya masih rendah, hidup mau enak.” Ungkap Rivani.
Rivani mengaku, TPS itu ada sejak tahun 2018, sebelum manusia-manusia tidak tau berterimakasih datang, mencari hidup di Weda Tengah tapi tidak menjaga lingkungan.
Sistem pelayanan sampah di Weda Tengah, telah menggunakan sistem trans depo, artinya masyarakat yang hendak membuang sampah cukup dengan membuang ke trans depo, kemudian bakal diangkut oleh tenaga kebersihan.
“Kita sudah siapkan kontainer pembuangan sampah malah buang diluar, ketika mereka buang di dalam kontainer, malah membuang kontainer, namun kami terus melakukan sosialisasi agar penduduk ini memiliki kesadaran tidak asal buang sampah.” Beber Rivani.
“Tapi pada dasarnya memang orang-orang ini pangkotir memang, manusia dengan ribu ini, memang tidak ada kesadaran.” Lanjut Ruvani.
Untuk volume sampah di Weda Tengah mencakupi 12 trans depo dalam sehari mencapai 50 hingga 55 ton, ini merupakan sampah rumah tangga yang bersumber dari kos-kosan dan rumah tangga.
“Untuk satu hari volume sampai mencapai 50 hingga 55 ton sampah.” Kata Rivani.
Untuk sejauh ini berbagai upaya telah dilakukan DLH Halmahera Tengah, seperti sosialisasi, memberi edukasi, memberikan surat edaran kepada pelaku usaha, pemerintah Desa dan Kos-Kosan agar tidak membuang sampah, namun tidak membuahkan hasil.
Rivani mengaku, dalam waktu dekat bakal ada penindakan, dengan sanksi berupa denda.
“Jadi ada yang kedapatan membuang sampah di bahu jalan, maka kita akan proses, dan kita bakal lebih tegas lagi, sudah tak bisa pake cara lama, yang hanya menegur, kali ini harus tegas.” Tandas Rivani.
Penulis : Yunita Kaunar
