Membaca Realitas

Tekan Biaya Produksi, Petani Maluku Utara Dilatih Digital Farming

TERNATE (kalesang) – Upaya peningkatan produksi pangan strategis di Provinsi Maluku Utara melalui program Digital Farming mulai digencarkan.

Tenaga Ahli Pengandalian Inflasi Pangan Bank Indonesia (BI), Nugroho Widiasmadi mengatakan, melalui workhsop Digital Farming ini, kemandirian petani akan dibentuk dengan konsep yang terintegrasi dan terukur.

“Dengan konsep ini, biaya produksi pertanian akan turun 70 persen. Dan hasil produksinya bisa meningkat 2 kali lipat atau 200 persen.” Katanya, Selasa (21/11/2023).

“Kemandirian petani dibentuk berbasis Mikroba Alfaafa atau MA-11.” Tambahnya.

Lanjutnya, selain kemandirian petani, pertanian yang diproduksi itu, akan disiapkan untuk dapat menghadapi perubahan iklim global yang sedang terjadi.

“Tanaman insya allah bisa tahan iklim ekstrim, hujan maupaun panas.” Ujarnya.

Ia mengungkapkan, terdapat 3 masalah besar yang sedang dihadapi oleh petani, baik seluruh Indonesia maupun wilayah Maluku Utara, yakni perubahan iklim global dan tekanan ekonomi global.

“Harusnya hujan dan keringnya biasa saja tapi ini panjang waktunya dan di lapangan juga petani masih sulit dapat pupuk.” Jelasnya.

Untuk itu, ia berharap dengan adanya konsep dan berbasis MA-11 ini, petani di Maluku Utara bisa mengolah pupuk secara mandiri agar tanaman menjadi kuat.

“Semoga petani di Maluku Utara bisa membangun multiplier effect, selain jadi petani, mereka juga bisa jadi pengusaha pangan.” Tutupnya.

Reporter: Sitti Muthmainnah
Redaktur: Wawan Kurniawan