Membaca Realitas

Hidupilah Hidup

Oleh: Achmad Gani Pelupessy, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

______

Dewasa ini pemahaman tentang hidup menjadi berbeda dengan waktu kanak-kanak. Apabila dahulu mengartikan hidup sekadar pola main sehari-hari, di usia dewasa hidup bermakna sebagai keniscayaan berbuat dan bertahan.

Fenomena hidup orang dewasa tampak pada cara masing-masing orang berbuat, jika baik akan bernilai positif, jika buruk akan diberi stigma negatif. Tapi perihal hidup tidak sekadar bergantung pada dikotomi nilai, resultansi perbuatan manusia ialah untuk dapat bertahan dan tidak menyerah pada hidup.

Hal ini dibuktikan pada sejarah manusia lampau hingga saat ini. Bahwa, setiap perbuatan yang dilakukan, baik bernilai positif atau negatif, terpenting adalah untuk bertahan hidup.Oleh karena itu, walaupun manusia hidup dalam lingkaran yang kotor, korup, dan jahat, asalkan kepentingan hidupnya bisa diperoleh. Begitupun sebaliknya, apabila ada sejumlah manusia yg hidup di dalam lingkungan yang baik, ramah, dan santun, tetapi tidak dapat menjamin kelangsungan hidupnya, akibatnya akan sia-sia.

Mengenai hidup, kebanyakan manusia memiliki persepsi yang berbeda-beda. Hal ini tergantung pada kelangsungan hidup masing-masing. Jika hidup diartikan sebagai kebaikan, kenikmatan, kebahagiaan, maka hidup orang tersebut dalam keadaan baik dan serba berkecukupan, kaya dan tidak merasakan susah. Sebaliknya, jika hidup diartikan sebagai masalah, perang, kesusahan, maka hidup orang tersebut dalam keadaan terpuruk, orang miskin, jabatan rendah, dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan perihal hidup, ada sebuah buku yang mengurai tentang kisah Guru Sun (Sun Tzu), seorang ahli strategi perang di Cina. Buku tersebut diberi judul oleh penulis, Hidup Adalah Perang dan Bersiaplah untuk Menang. Meskipun membahas tentang kisah dan strategi perang ala guru Sun, di dalam buku tersebut tidak luput menguraikan hakikat hidup yang sebenarnya. Terdapat penjelasan kisah guru Sun yang ditantang raja untuk membuktikan semua strategi-strategi yang dia tulis. Guru Sun, karena dianggap rendah oleh raja akhirnya mampu membuktikan kepiawaiannya dalam mengatur strategi perang. Bahkan dianggap sebagai salah satu ahli strategi perang yang ada di Cina. Tidak sekadar itu, di dalam buku yang berjudul Hidup Adalah Perang dan Bersiaplah untuk Menang menjelaskan bahwa dalam hidup manusia seringkali dihadapkan dengan masalah-masalah, baik masalah yang kecil atau paling besar. Hal ini sehingga oleh guru Sun mengartikan hidup itu sebagai perang.

Oleh sebab hidup itu perang, maka manusia semestinya mampu bersikap solutif, punya kemampuanmenyelesaikan masalah, memiliki kemampuan mengatasi serta meredahkan dengan pendekatan seni. Akibatnya, tidaklah heran apabila strategi perang ala guru Sun dikenal dengan istilah the art of war (seni dalam berperang). Kisah guru Sun dalam buku tersebut bukan sekadar untuk menunjukkan keahlian mengatur strateginya, melainkan berbuat dan untuk bertahan. Sebab apabila tantangan yang diberikan raja tersebut gagal dibuktikan oleh guru Sun, niscaya guru Sun tidak akan dikenal bahkan tidak dapat bertahan hidup. Maka, hakikat hidup ialah keniscayaan berbuat dan bertahan.

Sehubungan dengan kisah guru Sun di atas, kehidupan temporal manusia seyogyanya adalah kebebasan berbuat, bertindak, dan berperilaku. Manusia diamanahkan oleh tuhan untuk menjadi Khalifah dan untuk menjaga alam semesta. Amanah tersebut berupa kebebasan yang tidak mampu dibebankan kepada langit, bumi, dan gunung, hanya manusia yang bersedia menerima amanah tersebut.

Kebebasan yang dimaksud ialah ikhtiar atau usaha berbuat manusia untuk memperoleh kebaikan. Sebagai subjek yang bertugas menjaga alam semesta, usaha manusia dalam berbuat adalah agar alam tetap terjaga serta hidup manusia dapat bertahan. Simpulan kehidupan temporal ialah berbuat dan bertahan. Manusia dapat bertahan hidup ditentukan dari usaha yang diperbuat oleh manusia itu sendiri. Meskipun pada mulanya manusia diciptakan dan diberi kebebasan dengan tujuan agar dapat berbuat baik dan menghindari keburukan (amar makruf nahi munkar), faktanya tuntutan kehidupan menghendaki manusia untuk berbuat dengan segala cara agar dapat bertahan hidup. Secara faktual, menjadi baik saja tidak cukup untuk bertahan hidup.

Manusia perlu mencurangi kehidupan dengan tindakan-tindakan yang bahkan dilarang oleh syarat-syarat agama dan sosial. Korupsi, mencuri, transaksi ilegal, dan jenis perbuatan haram lainnya dilakukan manusia supaya bisa bertahan hidup. Novel Mochtar Lubis yang berjudul Senja di Jakarta misalnya, seorang pegawai negeri sekalipun harus berbuat korup agar hidup keluarganya dapat bertahan.  Di samping itu, banyak fakta yang terjadi di sekeliling kita ketika pejabat-pejabat publik rela mencoreng mukanya sendiri dengan berbuat korup agar hidupnya dan keluarga bisa terjamin dan tidak mengalami kesusahan. Tentu tidak hanya itu, masih banyak fenomena lainnya yang membuktikan bahwa hidup ialah upaya manusia berbuat agar hidupnya dapat bertahan.

Pengisahan tentang hidup di atas merubah semua pikiran dan pemahaman kita sewaktu masih kanak-kanak. Sewaktu menjadi kanak-kanak, pikiran tentang hidup yang susah pun senang belum sama sekali terlintas. Kita hanya mengetahui saat waktu makan kita makan, waktu tidur kita tidur, waktu bermain kita main. Sependek itu pemahaman kanak-kanak kita. Setelah usia dewasa, semua kalimat-kalimat bijak dari para ahli tentang hidup hanya sebatas teori yang tidak memiliki relevansi dengan kehidupan yang kita rasakan sendiri.

Salah satu kalimat bijak yang seringkali kita baca ialah tentang hidup yang bermakna. Secara teoritis, hidup yang bermakna bisa jadi ialah hidup yang baik dan bisa bermanfaat untuk kebanyakan orang. Tetapi kalimat ini bisa bertentangan dengan hidup sejumlah orang yang merasakan susahnya hidup. Hal ini kemudian diartikan bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang bisa menjamin manusia untuk tetap bertahan.

Pasalnya, menjadi bermanfaat untuk banyak orang belum tentu bisa menjamin kebertahanan seseorang dalam menjalani hidup. Hidup yang bermakna adalah hidup dengan cara hidup kita sendiri, dengan cara berbuat kita sendiri, yang tujuannya untuk bertahan, dapat makan, minum, dan lain sebagainya. (*)