Membaca Realitas

Miris, Guru Honorer di Kepulauan Sula Dipecat Secara Lisan

Kalesang – Seorang guru honorer di Desa Buya, Kecamatan Mangoli Selatan, Kepulauan Sula, Maluku Utara, berinisial RS harus menanggung pilu lantaran diberhentikan secara lisan oleh Kepala Sekolah SD Ngeri 1 Desa Buya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh media ini, pemberhentian sepihak yang dilakukan oleh kepala sekolah bernama Sarfudin Umamit itu lantaran diancam oleh ketua kelompok srikandi Desa Buya bernama Kalasum Tomia.

RS saat dikonfirmasi mengatakan, masalah itu bermula ketika tim bakal pasangan calon bupati dan wakil bupati, Hendrata Thes dan M. Natsir Sangadji sedang lakukan rapat di Desa Buya pada Senin 14 September sekitar pukul 20:30 WIT.

Kata dia, saat itu kebutulan orang tuanya sedang lewat sehingga dipanggil untuk mengikuti rapat tersebut. Namun karena diketahui oleh kelompok srikandi yang merupakan pengikut dari Bupati Sula saat ini sehingga diberitahukan kepada Kepala Sekolah SD Negeri 1 Buya.

“Kalu tidak salah sekitar pukul 23:00 kepala sekolah datang di rumah bangunkan orang tua saya yang sudah tidur. Di situ kepala sekolah bilang dia hanya datang tegur saja kenapa sampai orang tua saya ikut rapat.” Katanya, Selasa, (17/9/24).

Rupanya, lanjut RS, kedatangan kepala sekolah di rumah mereka itu lantaran sudah mendapat teguran dari ketua srikandi. tidak hanya itu, kepala sekolah juga takut dimarahi oleh Bupati Sula sehingga tega berhentikan dirinya tanpa ada salah apapun.

“Pagi tadi (Selasa red) saya dipanggil oleh salah satu guru, dia sampaikan kalau kepala sekolah minta untuk saya berhenti dari sekolah ini, karena ada laporan kalau orang tua saya ikut rapat dengan tim Pak Heng.” Ucapnya.

RS menambahkan, dengan adanya masalah ini tentu sangat disayangkan, karena kedepannya ia sudah tidak bisa mengikuti tes PPPK kalau namanya sudah dihapus didapodik. Belum lagi, ia sudah mengabdi di sekolah tersebut selama 3 tahun lebih.

“Kalau memang ini menyangkut dengan politik, bukannya setiap warga negara punya hak untuk memilih, sehingga kalau saya dipecat karena masalah sepele ini saya rasa tidak masuk akal. Karena itu orang tua saya yang ikut rapat bukan saya.” Ujarnya.

RS mengaku, pekan lalu ada seorang guru meminta kepada mereka untuk mencari 10 suara demi memenangkan Bupati dan Wakil Kepualauan Sula, Fifian Ade Ningsi Mus dan Muhammad Saleh Marasabessy sebagai calon petahana.

“Minggu kemarin kepala sekolah ada menyuru seorang guru agar meminta kami mencari 10 suara untuk menangkan Bupati Sula dan Wakil Bupati Sula. Satu orang dibebankan harus cari 10 suara.” Tandasnya.

Sementara, Kepala Dinas Pendidikan Kepulauan Sula, Marini Nur Ali, belum bisa dihubungi hingga berita ini dipublikasikan. Padahal, kalesang.id telah mencoba konfirmasi melalui telepon maupun pesan WhatsaApp.

Reporter: Djuanda

Editor: Redaksi