TERNATE, Kalesang – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku Utara melalui Seksi Wilayah I Ternate menelusuri dugaan gangguan terhadap satwa endemik yang terjadi di Kelurahan Loto, Kecamatan Ternate Barat.
Penelusuran ini dilakukan menyusul adanya laporan kejadian yang diterima BKSDA dalam beberapa waktu terakhir. Meski demikian, pihak BKSDA masih menunggu informasi yang akurat dari lapangan sebelum mengambil langkah hukum lebih lanjut.
Perwakilan Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Maluku Utara, Ahmad Yahya, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian setempat, khususnya Bhabinkamtibmas Kelurahan Loto, guna menelusuri detail peristiwa tersebut.
“Saya sudah konfirmasi ke sana. Sementara Bhabinkamtibmas Loto berjanji akan menelusuri terlebih dahulu dan mencari tahu perkembangan di lapangan, setelah itu baru mengabari saya,” ujar Ahmad, Rabu (7/1/2026).
Ia menjelaskan, informasi awal diterimanya dari seorang warga bernama Rafli pada malam kejadian. Ahmad bahkan sempat turun langsung ke lapangan hingga ke wilayah Takome untuk menggali informasi dari anggota kepolisian yang bertugas.
“Saya masih menunggu kabar dari Bhabinkamtibmas. Kalau sudah ada informasi yang akurat, baru disampaikan ke saya. Saat ini saya hanya mewakili Kepala Seksi, sehingga langkah-langkah prinsipil tetap harus dikomunikasikan dengan pimpinan,” jelasnya.
Menurut Ahmad, saat ini internal BKSDA Wilayah I tengah berada dalam masa transisi pergantian pejabat struktural. Meski demikian, ia memastikan pengawasan terhadap satwa dilindungi tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Terkait perlindungan jangka panjang, Ahmad menekankan pentingnya penguatan regulasi di tingkat daerah, mengingat satwa yang menjadi sasaran perburuan merupakan identitas dan kekayaan hayati asli Maluku Utara.
“Kami memang memiliki rencana untuk duduk bersama Pemerintah Daerah membahas Perda, karena ini menyangkut satwa endemik Maluku Utara. Nanti setelah Kepala Seksi yang baru ada, kejadian ini akan saya laporkan kembali untuk menentukan langkah pimpinan selanjutnya,” tambahnya.
Sementara itu, meski masih menunggu arahan pimpinan, BKSDA memastikan patroli rutin tetap dilakukan di wilayah-wilayah rawan, termasuk di Pulau Tareba.
“Kami tetap menjalankan patroli di wilayah Ternate hingga Pulau Tareba. Di sana sebelumnya pernah dilakukan penahanan pelaku dan sudah dibuat pernyataan. Namun kejadian seperti ini muncul kembali, sehingga akan terus kami tindak lanjuti,” pungkas Ahmad.
Reporter: Nur Imaniar Naraya
Editor: Wendi Wambes
