TERNATE, Kalesang – Komunitas Seventh Workshop on the Languages of Papua (WLP7) yang terdiri dari 17 peneliti dari berbagai negara mengunjungi Depot Arsip di Benteng Oranje, Kota Ternate, Rabu (14/1/2026). Para peneliti tersebut berasal dari Jepang, Australia, Inggris, Belanda, dan Spanyol.
Dalam kunjungan itu, rombongan WLP7 menyaksikan pameran foto yang menampilkan berbagai peninggalan sejarah Kota Ternate. Pameran tersebut memberikan gambaran mengenai jejak sejarah dan budaya Ternate yang berkaitan erat dengan dinamika bahasa dan perkembangan peradaban di wilayah Maluku Utara.
Koordinator Komunitas WLP7, Laura Arnold, mengaku tertarik pada keberagaman bahasa daerah di kawasan Indonesia timur. Ia menyebutkan bahwa terdapat sejumlah rumpun bahasa Papua yang digunakan dan berkembang di Ternate dan wilayah sekitarnya.
“Saya berharap masyarakat di Ternate, Maluku Utara, dapat terus melestarikan bahasa daerah untuk generasi masa depan,” ujar Laura.
Sementara itu, peneliti WLP7 sekaligus Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Dalan Perangin, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian lokakarya bahasa Papua. Menurutnya, selain diskusi akademik, pertemuan langsung dengan masyarakat menjadi momen penting untuk saling berbagi pengetahuan, khususnya terkait pelestarian bahasa daerah.
“Kami mengajak masyarakat untuk peduli dan tidak meninggalkan bahasa daerah. Kami juga berharap lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah dapat bekerja sama dalam upaya pelestarian bahasa daerah,” katanya.
Dalan menambahkan, setelah kegiatan di Ternate, agenda komunitas WLP7 akan berlanjut ke Papua dengan melibatkan lebih banyak peneliti yang fokus pada kajian bahasa Papua guna mengedukasi masyarakat.
Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kota Ternate, Nona Lethulur, mengapresiasi kunjungan para peneliti ke Depot Arsip Benteng Oranje. Ia menegaskan bahwa Kota Ternate memiliki arsip bersejarah yang penting dan harus dijaga serta dilestarikan.
“Kami berharap melalui kunjungan ini para peneliti dapat belajar banyak hal, terutama terkait bahasa daerah. Selain itu, masyarakat juga semakin menyadari bahwa Ternate sebagai Kota Sejarah dan Kota Rempah memiliki arsip yang sangat penting sebagai bukti sejarah,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan WLP7 didampingi oleh Kepala Bidang Arsip Nurlela Rahman, Kepala Bidang Alih Media Minarni M. Saleh, serta sejumlah staf Dispersip Kota Ternate.
