Membaca Realitas

Garam Lokal Pulau Gebe Mulai Berkembang, Hasil Panen Capai 361 Kilogram

Halteng, Kalesang – Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) Kabupaten Halmahera Tengah kembali mencatat capaian positif melalui pengembangan demplot tambak garam di Desa Umiyal, Kecamatan Pulau Gebe. Pada panen kedua yang dilakukan baru-baru ini, produksi garam yang dihasilkan mencapai 361 kilogram.

Capaian tersebut menjadi langkah penting dalam pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal, mengingat usaha tambak garam yang dijalankan masyarakat Desa Umiyal merupakan salah satu inovasi ekonomi baru yang dikembangkan melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat desa.

Ketua Kelompok Gasi Talaga Ijo, Rahmat Sabtu, mengatakan keberadaan demplot garam telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Selama ini warga masih bergantung pada pasokan garam dari luar daerah untuk kebutuhan rumah tangga maupun pengolahan ikan asin.

“Keberadaan demplot garam ini sangat membantu masyarakat. Dulu kami harus membeli garam dari luar daerah, sementara sekarang sudah bisa diproduksi sendiri di desa. Selain memenuhi kebutuhan warga, kegiatan ini juga memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi kelompok dalam mengelola usaha produksi garam,” ujarnya.

Menurut Rahmat, meskipun produksi saat ini masih dalam skala terbatas, masyarakat mulai melihat peluang besar dari usaha tersebut. Apalagi, kondisi geografis Desa Umiyal yang berada di wilayah pesisir dinilai sangat mendukung pengembangan tambak garam ke depan.

Kepala Desa Umiyal, Buharai Gasim, menyampaikan apresiasi kepada Program TEKAD yang telah menghadirkan peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Ia menegaskan pemerintah desa akan terus mendukung keberlanjutan usaha tambak garam tersebut.

“Program seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat karena mampu membuka peluang usaha baru yang sesuai dengan potensi desa. Produksi garam yang dihasilkan saat ini memang masih terbatas, tetapi prospeknya sangat baik untuk dikembangkan lebih besar lagi,” kata Buharai.

Ia menjelaskan, pemerintah desa telah berkoordinasi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) agar hasil produksi garam dapat diserap terlebih dahulu sebelum dipasarkan kembali kepada masyarakat.

“Saya sudah berkomunikasi dengan pengurus BUMDes agar hasil panen garam ini dibeli dan dikelola oleh BUMDes, kemudian dijual kembali kepada masyarakat yang membutuhkan. Langkah ini dilakukan agar perputaran ekonomi tetap berada di desa dan memberikan manfaat langsung kepada warga Umiyal,” tambahnya.

Hasil panen garam di Pulau Gebe. (Foto: ist)

Buharai berharap produksi garam ke depan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Desa Umiyal, tetapi juga dapat dipasarkan ke desa-desa lain di Kecamatan Pulau Gebe.

Sementara itu, Fasilitator Pengembangan Ekonomi Kabupaten Halmahera Tengah, Adam Basirun, menjelaskan bahwa total produksi panen kedua sebesar 361 kilogram berasal dari dua unit tambak garam yang saat ini beroperasi.

“Tambak pertama menghasilkan 177 kilogram garam, sedangkan tambak kedua menghasilkan 184 kilogram. Jika digabungkan, total produksi mencapai 361 kilogram. Ini merupakan hasil yang cukup baik mengingat jumlah tambak yang ada saat ini baru dua unit,” jelas Adam.

Menurutnya, hasil tersebut menunjukkan bahwa usaha tambak garam memiliki prospek yang menjanjikan untuk dikembangkan di Desa Umiyal. Karena itu, Program TEKAD akan terus mendorong peningkatan kapasitas produksi melalui pengembangan Rumah Inovasi dan Teknologi Desa (RITD).

“Kami berharap melalui dukungan Program TEKAD dan Rumah Inovasi dan Teknologi Desa, jumlah tambak garam dapat ditambah menjadi empat hingga lima unit. Dengan penambahan tersebut, produksi garam diperkirakan bisa meningkat hingga mendekati satu ton setiap periode panen,” ujarnya.

Selain peningkatan produksi, Adam mengatakan pengembangan usaha garam juga akan diarahkan pada peningkatan nilai tambah produk melalui pengolahan dan pengemasan yang lebih baik.

“Kami ingin garam yang dihasilkan nantinya tidak hanya dijual sebagai bahan baku, tetapi juga diolah menjadi garam premium dengan kemasan yang menarik. Untuk itu perlu dipersiapkan pengurusan izin PIRT, sertifikasi halal, desain kemasan, hingga strategi pemasaran agar produk garam Umiyal mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” katanya.

Menurut Adam, apabila pengembangan ini berjalan optimal, usaha garam berpotensi menjadi salah satu produk unggulan Desa Umiyal yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi desa secara berkelanjutan.

Di sisi lain, Fasilitator Kecamatan Pulau Gebe, Firdana dan Nursita, menegaskan bahwa pendampingan kepada kelompok penerima manfaat akan terus dilakukan agar usaha produksi garam dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Kami terus memberikan motivasi dan pendampingan kepada kelompok agar tetap semangat mengembangkan usaha ini. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi juga komitmen kelompok untuk terus belajar dan memperbaiki pengelolaan usaha,” ujar Firdana.

Nursita menambahkan, kekompakan dan kerja sama kelompok menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha yang telah dirintis tersebut.

“Potensi usaha garam di Desa Umiyal sangat besar. Jika dikelola dengan baik, usaha ini dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekaligus menjadi contoh pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal di wilayah kepulauan,” ungkapnya.

Keberhasilan panen kedua demplot garam dengan produksi 361 kilogram ini menjadi bukti bahwa inovasi ekonomi berbasis potensi lokal mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Dukungan Program TEKAD, pemerintah desa, BUMDes, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi modal penting dalam mewujudkan kemandirian ekonomi Desa Umiyal.

Dengan rencana penambahan tambak, peningkatan kapasitas produksi, serta pengembangan produk garam premium yang dilengkapi izin usaha dan sertifikasi halal, Desa Umiyal berpeluang menjadi salah satu sentra produksi garam rakyat di Maluku Utara pada masa mendatang.

“Keberhasilan ini bukan sekadar angka produksi, melainkan simbol tumbuhnya harapan baru bagi masyarakat dalam membangun ekonomi desa yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan.l,” pungkasnya.