Ada orang yang dikenang karena jabatan, ada pula yang tetap hidup dalam ingatan karena pengabdiannya. Gagasan ini lahir dari kesadaran sekaligus harapan seorang yang pernah menyaksikan secara langsung dedikasi seorang putra terbaik Maluku Utara. Sebab, pengabdian yang begitu panjang semestinya tidak berhenti pada kenangan, melainkan diabadikan menjadi warisan yang terus menginspirasi generasi.
Di Ternate, Maluku Utara, hampir semua kalangan mengenal almarhum Abdul Kadir D. Arief. Semasa hidupnya, ia nyaris tak pernah absen dari ruang-ruang edukasi, terutama ketika berbicara tentang geologi, mitigasi kebencanaan, dan pentingnya menjaga warisan alam.
Bagi para jurnalis di Maluku Utara, termasuk saya, ia bukan sekadar narasumber. Setiap kali informasi dibutuhkan, pintu diskusinya selalu terbuka. Bahkan di luar forum resmi, obrolan santai di warung kopi atau kafe hampir selalu bermuara pada pembahasan mengenai geologi, ancaman bencana, hingga pentingnya membangun kesadaran masyarakat terhadap risiko yang hidup berdampingan. Dari perbincangan sederhana itulah, banyak pengetahuan lahir dan menyebar.
Kepergiannya pada Maret 2026 meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan. Bukan semata karena keahliannya, tetapi karena ia menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bentuk pengabdian kepada.
Semasa hidup, Abdul Kadir D. Arief pernah memimpin Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Maluku Utara. Kiprahnya tidak hanya dikenal di lingkungan akademik, tetapi juga menjadi rujukan pemerintah daerah dalam berbagai isu geologi, mitigasi kebencanaan, hingga pengembangan potensi geopark.
Salah satu jejak penting yang patut dikenang adalah perannya dalam mendorong kawasan wisata Batu Angus di Kota Ternate hingga ditetapkan sebagai Warisan Geologi Nasional. Berkat perjuangan itu, Batu Angus tidak lagi sekadar destinasi wisata, tetapi juga menjadi laboratorium alam yang menyimpan nilai pendidikan, penelitian, dan konservasi.
Sesungguhnya, kontribusi yang ditinggalkan jauh lebih luas dari ulasan singkat ini . Namun, justru karena besarnya pengabdian itu, jejaknya layak dirawat agar tidak hilang ditelan waktu.
Penamaan Jalur Geologi Batu Angus
Sudah saatnya Pemerintah Kota Ternate memberikan penghormatan yang layak kepada almarhum Abdul Kadir D. Arief. Salah satu bentuk penghargaan yang dapat diwujudkan ialah menamai salah satu jalur interpretasi atau jalur geologi di kawasan Wisata Batu Angus dengan namanya.
Penamaan tersebut bukan sekadar memasang nama pada sebuah lokasi. Lebih dari itu, ini menjadi penanda sejarah yang mengingatkan setiap pengunjung bahwa kawasan tersebut berkembang berkat dedikasi seorang ahli geologi yang mengabdikan hidupnya bagi ilmu pengetahuan dan keselamatan masyarakat.
Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman, pernah menyebut almarhum sebagai sosok yang memiliki keahlian langka di Maluku Utara. Penilaian itu bukan tanpa alasan. Selain dipercaya sebagai Tenaga Ahli Wali Kota Bidang Geologi, pandangan dan analisisnya kerap menjadi dasar pemerintah daerah dalam membaca potensi risiko geologi serta merumuskan langkah-langkah mitigasi bencana.
Penghormatan juga dapat diwujudkan melalui penghargaan anumerta “Penjaga Bumi” yang diberikan setiap tahun kepada tokoh yang berjasa dalam bidang geologi, lingkungan, dan mitigasi kebencanaan. Penghargaan tersebut dapat diterima oleh keluarga sebagai simbol penghormatan atas dedikasi yang telah diwariskan.
Gagasan lain yang tak kalah penting ialah penyelenggaraan “Memorial Lecture” sebuah forum ilmiah tahunan yang menghadirkan para ahli geologi, peneliti, akademisi, dan pemerhati kebencanaan untuk meneruskan semangat keilmuan yang selama ini di perjuangkan.
Di lingkungan akademik, khususnya Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), tempat yang pernah ia mengabdi, sudah selayaknya dibangun Pojok Geologi. Ruang sederhana itu dapat memuat koleksi batuan, peta geologi, dokumentasi penelitian, foto-foto pengabdian hingga catatan perjalanan hidupnya. Kehadiran wadah itu bukan hanya menjadi pusat informasi, tetapi juga ruang inspirasi bagi mahasiswa untuk memahami bahwa ilmu pengetahuan memperoleh makna tertinggi ketika diabdikan bagi masyarakat.
Mengabadikan nama Abdul Kadir D. Arief bukan semata mengenang seseorang yang telah berpulang. Lebih dari itu, ini adalah ikhtiar merawat ingatan kolektif tentang pentingnya ilmu pengetahuan, kepedulian terhadap lingkungan, dan budaya mitigasi bencana. Sebab, seseorang tidak pernah benar-benar pergi ketika gagasan, pengabdian, dan nilai-nilai yang ditinggalkannya terus hidup, menginspirasi, serta memberi manfaat bagi generasi yang datang kemudian.(*)
