Membaca Realitas

Literasi Harus Turun ke Jalan

“pada dasarnya saya suka baca. Mengisi waktu luang di saat jualan, karena dari buku dapat banyak hal.” Raja Sinaga, Penjual Cinlok.

Kalimat sederhana dari Raja Sinaga, seorang pedagang Tukang Cinlok di Bandung, menyimpan pesan yang begitu kuat. Di sela kesibukannya mencari nafkah, ia tetap menjadikan buku sebagai teman sekaligus sumber pengetahuan. Bahkan, ia membuka lapak baca buku gratis di tempatnya berjualan.

Saya menemukan kisah itu secara tidak sengaja saat berselancar di Instagram. Namun, cerita tersebut menyisakan satu pertanyaan penting: mengapa ruang-ruang literasi seperti itu belum banyak hadir di Kota Ternate?

Literasi seharusnya tidak hanya hidup di dalam gedung perpustakaan atau ruang kelas. Ia perlu hadir di ruang publik, berdampingan dengan aktivitas masyarakat sehari-hari. Pedagang kaki lima, taman kota, kawasan wisata, hingga pusat keramaian dapat menjadi ruang belajar yang menyenangkan sekaligus mencerdaskan.

Fenomena menjamurnya pedagang muda atau Gen Z di pusat Kota Ternate menjadi peluang besar. Di kawasan trotoar kawasan Lapangan Ngara Lamo, Kelurahan Salero, Kota Ternate misalnya, deretan penjual kopi dengan gerobak motor listrik kini menjadi wajah baru ekonomi kreatif kota. Tempat-tempat seperti ini selalu dipadati anak muda, terutama pada sore hingga malam hari.

Bayangkan jika di setiap lapak kopi tersedia rak kecil berisi buku yang bisa dibaca secara gratis sambil menikmati secangkir kopi. Pengunjung tidak hanya pulang dengan pengalaman kuliner, tetapi juga memperoleh pengetahuan baru. Aktivitas sederhana itu perlahan dapat membangun budaya membaca di ruang publik.

Inspirasi dari Raja Sinaga menunjukkan bahwa gerakan literasi tidak selalu membutuhkan anggaran besar. Yang dibutuhkan adalah kemauan, kreativitas, dan kepedulian. Buku dapat menjadi jembatan yang mempertemukan masyarakat dengan ilmu pengetahuan, bahkan di tempat yang selama ini tidak pernah dibayangkan sebagai ruang belajar.

Di sisi lain, pemerintah daerah, khususnya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispersip) Kota Ternate, memiliki peran strategis dalam memperluas jangkauan gerakan literasi. Program literasi tidak cukup hanya berpusat di perpustakaan melalui kegiatan rutin yang bersifat formal. Sudah saatnya pendekatan jemput bola dilakukan dengan menghadirkan perpustakaan mini, pojok baca, atau program literasi bergerak yang menyasar pusat-pusat aktivitas masyarakat, terutama ruang berkumpulnya generasi muda.

Literasi harus mengikuti ke mana masyarakat bergerak, bukan menunggu masyarakat datang ke perpustakaan. Hal lainnya misalanya, Setiap hari Minggu, Forum Studi Independensia secara konsisten membuka lapak baca buku gratis di kawasan Taman Nukila. Komunitas ini membuktikan bahwa ruang terbuka juga dapat menjadi ruang belajar.

Kehadiran mereka patut diapresiasi dan diperkuat melalui kolaborasi bersama pemerintah, komunitas, pelaku usaha, sekolah, hingga perguruan tinggi. Kolaborasi inilah yang akan menjadikan slogan “Ternate Kota Literasi” kedepan.

Dua Momentum Besar Menguatkan Gerakan Literasi

Tahun 2026 menghadirkan dua momentum penting yang dapat menjadi titik akselerasi gerakan literasi di Ternate. Pertama, Festival Buku (Book Fest) Maluku Utara 2026 yang akan digelar di Benteng Oranje pada Agustus mendatang. Festival ini bukan sekadar pameran buku, melainkan ruang kolaborasi yang mempertemukan penulis, pembaca, pegiat literasi, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

Berbagai kegiatan telah disiapkan, mulai dari pameran karya penulis Maluku Utara, Bacarita Buku, Meet and Greet bersama para penulis, pelatihan Basic Writing, peluncuran 100 buku karya anak-anak Maluku Utara, penyusunan Ensiklopedia Penulis Maluku Utara, pemberian penghargaan bagi pegiat literasi, hingga pementasan seni dan budaya. Festival ini menjadi kesempatan emas untuk memperluas budaya membaca sekaligus memperkuat ekosistem literasi di Maluku Utara.

Momentum kedua adalah pelaksanaan Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2026 di Ternate yang mengusung tema “Ternate Episentrum Rempah Dunia.” Saat ini pemerintah tengah membenahi berbagai infrastruktur dan ruang publik untuk menyambut kegiatan tersebut.

Di balik pembangunan fisik, JKPI juga dapat menjadi panggung literasi. Kekayaan sejarah rempah, warisan budaya, hingga perjalanan Ternate sebagai kota perdagangan dunia merupakan sumber pengetahuan yang sangat kaya. Dipikirkan berbagai diskusi, pameran, peluncuran buku hingga pojok baca bertema rempah dapat menjadi bagian dari rangkaian kegiatan JKPI.

Dengan demikian, literasi tidak hanya berbicara tentang kemampuan membaca, tetapi juga menjadi upaya mengenalkan identitas, sejarah, dan kekayaan budaya Ternate kepada masyarakat maupun para tamu yang datang.

Gerakan literasi tidak akan tumbuh jika hanya bergantung pada perpustakaan. Ia harus hadir di ruang-ruang tempat masyarakat beraktivitas, mulai dari lapak pedagang, kedai kopi, taman kota, hingga kawasan wisata. Kisah Raja Sinaga membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana menyediakan buku di tempat orang berkumpul.

Memiliki peluang besar untuk membangun budaya membaca melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, pelaku usaha, kampus, dan masyarakat. Festival Buku Maluku Utara 2026 dan pelaksanaan JKPI menjadi dua momentum strategis untuk menggerakkan literasi sebagai bagian dari pembangunan peradaban. Sebab, kota yang maju bukan hanya kota yang membangun jalan dan gedung, melainkan juga kota yang berhasil menumbuhkan masyarakat yang gemar membaca, berpikir kritis, dan terus belajar.