Ketika Air Gurabunga Menghilang, Perempuan Menjadi Tumpuan
TIDORE, Kalesang — Perlahan-lahan, Mama Maya Sababu (54) mengangkat gayung sederhana yang terbuat dari daun woka kering dengan pegangan bambu. Air yang terkumpul di dalamnya kemudian dipindahkan ke sebuah ember hitam berukuran kecil. Di antara bebatuan sungai, sejumlah jeriken berkapasitas lima liter berjajar, menunggu giliran untuk terisi.
Pemandangan itu menjadi bagian dari keseharian Mama Maya dan warga lainnya di sumber mata air Ake Goa, RT 04 RW 03, Kelurahan Gurabunga, Kecamatan Tidore, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara.
Untuk mencapai sumber air tersebut, warga harus berjalan sekitar 600 meter dari permukiman. Letaknya tidak jauh dari perkebunan warga. Namun, perjalanan itu belum tentu berakhir dengan jeriken yang terisi penuh.
Gurabunga berada di lereng Gunung Kie Matubu, pada ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini kerap diselimuti kabut sehingga dijuluki negeri di atas awan. Namun, di balik keindahan alamnya, masyarakat masih menghadapi persoalan mendasar, yakni kesulitan memperoleh air bersih.
Jauh sebelum kemarau panjang yang berlangsung sejak Agustus 2026, warga Gurabunga telah menghadapi persoalan ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari. Kini, ketika hujan semakin jarang turun dan kemarau berlangsung berlarut-larut, beban tersebut semakin berat.
Sebanyak 160 kepala keluarga (KK) di kelurahan itu harus berjuang memenuhi kebutuhan air. Di tengah kemarau berkepanjangan dan fenomena El Nino, sumber-sumber air yang selama ini diandalkan warga mulai menyusut.

Ake Goa menjadi salah satu sumber mata air yang masih mengalir. Namun, debit airnya terus berkurang. Sementara itu, sumber air lainnya, seperti Ake Tagayoba, Ake Buru, Ake Hula, Ake Tui, dan Ake Balibunga, umumnya kembali mengalir ketika hujan turun.
Di Ake Goa, air yang tersisa harus dibagi kepada banyak orang. Warga datang sejak subuh dengan membawa jeriken, kemudian menunggu hingga air terkumpul cukup untuk dibawa pulang. Antrean bahkan berlangsung hingga siang dan malam hari.
“Ini masih antri lagi. Torang (kami) menunggu air yang ada ini takumpul (terkumpul) dulu, baru diisi ke jeriken. Butuh berjam-jam untuk air bisa full di kolam kacil ini. Setelah ini, besok torang akan antre lagi. Saya tadi datang habis salat Subuh, jam lima saya so kamari antri,” tutur Mama Maya saat ditemui di mata air Ake Goa, Sabtu (11/10/2026), pukul 11.45 WIT.
Hari itu, Mama Maya membawa 19 jeriken. Namun, banyaknya wadah yang dibawa tidak menjamin semuanya segera terisi. Ia harus menunggu air mengalir sedikit demi sedikit, sementara warga lain juga membutuhkan sumber air yang sama.
Bahkan, Mama Maya mengaku pernah menghabiskan satu malam di lokasi mata air demi mendapatkan air untuk dibawa pulang.
“Hari ini saya bawa 19 jeriken. Saya bahkan pernah tidur di sini selama satu malam hanya untuk antri. Kami berharap pemerintah bisa membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat agar beban ini lebih ringan,” katanya.
Di rumahnya, Mama Maya tinggal bersama satu keluarga lainnya. Total ada delapan orang yang harus dipenuhi kebutuhan airnya.
Sebanyak 19 jeriken berkapasitas lima liter menghasilkan sekitar 95 liter air. Jumlah tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka selama sehari. Karena itu, antrean menjadi rutinitas yang sulit dihindari.
“Yang antri hari ini ada dua KK. Jadi, tunggu sampai jeriken saya sudah penuh, baru yang lain antri. Antrian ini pakai giliran. Saya antri dari subuh, pulang sore. Nanti yang antri sore pulang malam, dan seterusnya,” jelasnya.
Bagi Mama Maya, menunggu air bukan lagi kejadian sesekali. Aktivitas itu telah menjadi rutinitas yang harus dijalani demi memenuhi kebutuhan rumah tangga. Di tengah keterbatasan tersebut, setiap tetes air memiliki arti penting.
Di Gurabunga, ketika air semakin sulit diperoleh, perempuan seperti Mama Maya harus memastikan kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi. Waktu dan tenaga mereka tersita untuk mendapatkan sesuatu yang seharusnya mudah dijangkau, air bersih.
Air Menyusut, Kehidupan Berubah

Pengalaman serupa dirasakan Hajar Ibrahim (50), warga Gurabunga lainnya. Ia mengatakan, dahulu sumber mata air Ake Goa memiliki persediaan air yang lebih banyak. Warga dapat memanfaatkannya untuk mandi dan mencuci pakaian, selain memenuhi kebutuhan minum dan memasak.
Namun, kondisi itu berubah ketika kemarau berkepanjangan melanda pada 2026. Air semakin sulit diperoleh, sedangkan kebutuhan sehari-hari terus berjalan.
“Antrian itu setiap hari, setiap malam. Bahkan, ada yang tidur di lokasi. Awalnya air cukup banyak, digunakan untuk mencuci pakaian dan mandi setiap hari. Sekarang tidak bisa lagi. Selama lima bulan musim kemarau ini, warga biasa mengantri,” ungkap Hajar.
Keterbatasan air memaksa warga mengubah kebiasaan sehari-hari. Pekerjaan rumah tangga yang biasanya dapat diselesaikan dengan mudah kini harus menyesuaikan persediaan air.
Untuk mencuci pakaian, misalnya, Hajar terkadang harus mendatangi rumah keluarganya di Kelurahan Gamtufkange. Itu pun ia harus memastikan terlebih dahulu apakah tersedia air yang bisa digunakan.
Di tengah kesulitan tersebut, bantuan pasokan air dari Perumda Air Minum Kota Tidore Kepulauan dan inisiatif warga menjadi penopang bagi sebagian masyarakat.
Air juga didatangkan dari Kelurahan Tomagoba. Warga berinisiatif mengumpulkan uang untuk mengganti biaya transportasi pengangkutan. Dengan cara itu, air dapat dibagikan kepada masyarakat tanpa diperjualbelikan.
“Air yang diambil ini bukan untuk mencuci pakaian, hanya untuk kebutuhan minum. Kalau untuk mencuci, kami harus pergi ke rumah keluarga di Gamtufkange. Itu pun ditanya dulu apakah ada air,” kata Hajar.
Menurut dia, kebutuhan air rumah tangga bisa mencapai sekitar 120 liter sehari, bergantung pada jumlah anggota keluarga dan pola pemakaian. Dalam kondisi terbatas, air harus dihemat agar persediaan yang ada dapat digunakan selama mungkin.
Hajar tinggal bersama enam anggota keluarga. Bantuan air yang diterimanya selama sekitar empat bulan terakhir bisa bertahan hingga dua hari.
“Bantuan dari pemerintah untuk memasukkan air bersih ini sudah berjalan empat bulan. Di rumah saya ada enam orang, air bisa bertahan dua hari,” ujarnya.
Pengalaman Hajar memperlihatkan bahwa persoalan air bersih bukan sekadar tentang ada atau tidaknya sumber air. Persoalan ini juga menyangkut kemampuan masyarakat mendapatkan air dalam jumlah cukup, secara teratur, dan tanpa harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengantre.
Bagi perempuan yang mengurus kebutuhan rumah tangga, keterbatasan air menambah beban pekerjaan sehari-hari. Mereka harus mengatur penggunaan air, menentukan kebutuhan yang harus diprioritaskan, hingga mencari alternatif ketika persediaan di rumah tidak mencukupi.
Di tengah situasi itu, air bukan hanya kebutuhan dasar, melainkan juga persoalan waktu, tenaga, dan ketahanan keluarga menghadapi kemarau berkepanjangan.
Menanti Air Mengalir ke Permukiman

Di tengah keterbatasan tersebut, Tamrin Yunus, warga yang berinisiatif mengangkut air bersih untuk masyarakat, berharap jaringan perpipaan dapat menjangkau Gurabunga.
Menurut Tamrin, sejak dahulu masyarakat berharap layanan Perumda Air Minum bisa masuk ke wilayah mereka. Namun, rencana tersebut terkendala jaringan distribusi.
“Dulu mereka bilang belum bisa karena kendala jaringan. Sebenarnya sudah ada pembahasan agar air masuk ke sini. Rencananya dua bak penampung air, dan sekarang masih dalam pembahasan lahan,” katanya.
Selama kebutuhan air bersih belum sepenuhnya teratasi, Tamrin menggunakan mobil pikap pribadi untuk mengangkut air dari Tomagoba. Air tersebut berasal dari layanan Perumda Air Minum yang, menurut dia, dapat diperoleh secara gratis untuk keperluan pengangkutan tersebut.
Jumlah perjalanan disesuaikan dengan kebutuhan warga. Dalam sekali kegiatan distribusi, Tamrin biasanya harus bolak-balik tiga hingga empat kali untuk membawa air yang kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Namun, upaya itu tetap membutuhkan biaya operasional. Tamrin mengaku harus membayar rekening air Perumda setiap bulan dengan jumlah sekitar Rp100 ribu hingga mendekati Rp200 ribu.
Inisiatif tersebut menjadi bentuk solidaritas warga dalam menghadapi krisis air. Akan tetapi, upaya swadaya itu belum dapat menggantikan kebutuhan akan sistem penyediaan air bersih yang mampu menjangkau seluruh rumah tangga secara berkelanjutan.
Tamrin berharap masyarakat Gurabunga dapat menikmati layanan air bersih sebagaimana warga yang tinggal di pusat kota.
Bagi masyarakat yang tinggal di negeri di atas awan itu, harapan tersebut bukanlah permintaan berlebihan. Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang menentukan keberlangsungan kehidupan sehari-hari.
Selama jaringan air belum menjangkau permukiman secara memadai, warga masih harus mengandalkan mata air yang debitnya terus menyusut, bantuan pasokan air, dan upaya mandiri untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Di Ake Goa, Mama Maya dan warga lainnya masih harus menunggu. Mereka datang membawa jeriken, berdiri di antara bebatuan, lalu mengumpulkan air sedikit demi sedikit. Ketika satu jeriken terisi, masih ada jeriken lain yang menanti giliran.
Di tempat yang dianugerahi udara pegunungan dan bentang alam yang indah itu, waktu seolah berjalan mengikuti lambatnya aliran air. Sementara itu, kebutuhan hidup tidak pernah berhenti.
Gurabunga mungkin dikenal sebagai negeri di atas awan. Namun, keindahan alam belum cukup menjawab kebutuhan paling mendasar masyarakatnya.
Di tengah krisis air yang semakin membebani kehidupan sehari-hari, perempuan seperti Mama Maya dan Hajar terus menjadi tumpuan dalam memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Mereka mengantri sejak subuh, menghemat setiap liter air, dan mencari cara agar persediaan yang terbatas dapat bertahan.
Namun, beban itu tidak seharusnya terus mereka tanggung sendiri.
Warga Gurabunga kini menanti langkah nyata agar air bersih dapat mengalir lebih dekat, lebih mudah dijangkau, dan tersedia setiap hari. Sebab, di balik setiap jeriken yang dibawa pulang, ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi dan waktu berharga yang terpaksa dikorbankan hanya untuk mendapatkan air. (*)
Reporter : Yunita Kaunar
Liputan ini merupakan hasil kolaborasi Kalesang.id dan Project Multatuli untuk koleksi jendela.projectmultatuli.org

