Membaca Realitas
728×90 Ads

BPKN-RI Edukasi Warga Ternate soal Perlindungan Konsumen dan Pencegahan Stunting

TERNATE, Kalesang – Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia (BPKN-RI) menggelar edukasi penguatan perlindungan konsumen di Auditorium Bappelitbangda Kota Ternate, Rabu (21/10/2026). Kegiatan ini berfokus pada perlindungan konsumen di sektor layanan kesehatan untuk mendukung percepatan penurunan angka stunting.

Kegiatan bertajuk “Perlindungan Konsumen Sektor Layanan Kesehatan dalam Mendukung Percepatan Penurunan Stunting” tersebut diikuti puluhan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), TP-PKK Kota Ternate, tokoh masyarakat, kader Posyandu, Lembaga Kemasyarakatan Desa/Kelurahan (LKD/LKM), komunitas, hingga sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

Hadir sebagai narasumber, anggota Komisi Komunikasi dan Edukasi BPKN-RI, Novriansyah dan Malona Sri Repelita Manurung.

Dalam pemaparannya, Malona Sri Repelita Manurung mengatakan, Kota Ternate memiliki potensi sumber pangan bergizi yang melimpah, terutama ikan. Namun, kekayaan sumber daya pangan tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan pemenuhan gizi, mengingat masih ditemukan anak-anak dan balita yang mengalami stunting.

Menurutnya, edukasi mengenai pemenuhan gizi menjadi langkah penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kebutuhan nutrisi yang cukup dan seimbang, terutama bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan.

“Untuk itu, diperlukan dukungan semua pihak, baik orang tua, konsumen, maupun pihak lainnya agar anak-anak terhindar dari stunting,” katanya.

Malona juga mengungkapkan, dalam diskusi bersama peserta, muncul masukan terkait penyediaan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai masih didominasi daging ayam.

Padahal, kata dia, Ternate memiliki potensi ikan lokal, seperti tuna dan cakalang, yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak.

Masukan tersebut, lanjutnya, akan disampaikan kepada pihak terkait di tingkat pusat, termasuk Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Kementerian Kesehatan, untuk menjadi bahan pertimbangan dalam penguatan kebijakan pemenuhan gizi masyarakat.

Sementara itu, anggota Komisi Komunikasi dan Edukasi BPKN-RI, Novriansyah, mengatakan pihaknya memberikan perhatian terhadap wilayah pulau-pulau terluar Indonesia dalam mendukung upaya percepatan penurunan angka stunting.

Ia menegaskan, edukasi kepada masyarakat diperlukan untuk meningkatkan pemahaman tentang dampak stunting, khususnya bagi perempuan dewasa, ibu hamil, ibu menyusui, serta keluarga yang memiliki anak balita.

Menurut Novriansyah, pemahaman mengenai pemenuhan gizi harus diperkuat agar masyarakat mampu melakukan pencegahan sejak dini dan memastikan anak-anak memperoleh asupan nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka.

“Edukasi ini penting agar masyarakat memahami persoalan stunting, mulai dari perempuan dewasa, ibu hamil, ibu menyusui, hingga anak-anak balita. Jangan sampai mereka mengalami kekurangan gizi yang dapat mengganggu pertumbuhan anak-anak Indonesia,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, BPKN-RI berharap kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perlindungan konsumen di sektor layanan kesehatan semakin meningkat, sekaligus mendorong pemanfaatan potensi pangan lokal sebagai bagian dari upaya pemenuhan gizi dan pencegahan stunting di Kota Ternate.

728×90 Ads