HALTENG, Kalesang – Kekayaan sumber daya alam dan kemampuan fiskal Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, dinilai perlu diimbangi dengan investasi di bidang pendidikan tinggi. Gagasan pendirian Universitas Fagogoru (UNFAG) pun didorong sebagai upaya memperluas akses pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia lokal.
Gagasan tersebut disampaikan Adam Basirun, mahasiswa Program Doktor Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Ia menilai, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan investasi industri, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga harus mempersiapkan generasi muda yang berpendidikan dan berdaya saing.
“Halmahera Tengah tidak boleh hanya dikenal sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam dan memiliki aktivitas industri yang berkembang pesat. Halteng juga harus menjadi daerah yang melahirkan sumber daya manusia unggul melalui pendidikan tinggi,” ujar Adam.
Menurutnya, pendirian Universitas Fagogoru dapat menjadi investasi jangka panjang untuk mempersiapkan generasi muda agar mampu mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah.
Ia menegaskan, kekayaan alam, termasuk sektor pertambangan, semestinya memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, salah satunya melalui peningkatan akses terhadap pendidikan tinggi.
“Jangan sampai daerah kita kaya akan nikel dan sumber daya alam lainnya, tetapi anak-anak daerah masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan tinggi. Kekayaan alam harus mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, salah satunya melalui investasi pendidikan,” katanya.
Mengangkat Identitas dan Potensi Fagogoru
Adam menjelaskan, gagasan Universitas Fagogoru tidak sekadar berkaitan dengan pembangunan kampus, tetapi juga upaya memperkuat identitas sejarah dan kebudayaan masyarakat Fagogoru yang berakar pada tiga wilayah adat, yakni Mobon (Maba), Poton (Patani), dan Were (Weda).
Ia berharap universitas tersebut nantinya menjadi ruang pendidikan yang menghubungkan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai adat, keagamaan, teknologi, ekonomi, serta kebutuhan pembangunan daerah.
“Fagogoru bukan hanya identitas budaya, tetapi juga memiliki potensi menjadi kekuatan intelektual. Kita perlu menjadikan nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial sebagai landasan untuk membangun universitas yang berpihak pada kepentingan masyarakat,” jelasnya.
Selain membuka kesempatan bagi generasi muda Halmahera Tengah untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus selalu keluar daerah, keberadaan kampus juga dinilai berpotensi menjangkau mahasiswa dari Halmahera Timur, Halmahera Selatan, wilayah Oba di Kota Tidore Kepulauan, dan daerah lain di Maluku Utara.
Namun, menurut Adam, potensi tersebut harus didukung perencanaan matang, mulai dari akses transportasi, ketersediaan lahan, fasilitas pendidikan, tenaga dosen, hingga tata kelola perguruan tinggi yang profesional.
Beasiswa dan Universitas Bisa Berjalan Bersamaan
Adam juga menyoroti dukungan Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah terhadap pendidikan melalui program beasiswa bagi mahasiswa.
Menurutnya, kebijakan beasiswa perlu berjalan beriringan dengan upaya memperkuat ekosistem pendidikan di daerah, termasuk mengkaji kemungkinan pendirian perguruan tinggi sendiri.
“Pemerintah daerah telah menunjukkan perhatian terhadap pendidikan melalui program beasiswa. Sekarang perlu ada pemikiran jangka panjang, bagaimana membangun ekosistem pendidikan yang lebih kuat di daerah sendiri,” ujarnya.
Ia menegaskan, beasiswa dan pendirian universitas bukan dua kebijakan yang harus dipertentangkan. Beasiswa tetap dibutuhkan untuk membantu mahasiswa mengakses perguruan tinggi di luar daerah, terutama untuk program studi yang belum tersedia secara lokal.
Sementara itu, Universitas Fagogoru diharapkan dapat menjadi pilihan pendidikan tinggi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan Halmahera Tengah.
Adam mengusulkan sejumlah bidang studi yang dapat dipertimbangkan, antara lain teknik pertambangan, teknik lingkungan, agribisnis, perikanan dan kelautan, hukum, ekonomi, pendidikan, kesehatan, teknologi informasi, serta pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
Meski demikian, pembukaan program studi harus didasarkan pada kajian kebutuhan tenaga kerja, ketersediaan dosen berkualifikasi, fasilitas laboratorium, serta pemenuhan persyaratan perizinan.
Kampus Diharapkan Menjawab Persoalan Daerah
Lebih jauh, Adam menilai Universitas Fagogoru perlu diarahkan menjadi pusat penelitian yang mampu menjawab berbagai persoalan di Halmahera Tengah.
Sejumlah isu yang dapat menjadi fokus penelitian meliputi pengelolaan pertambangan, perlindungan lingkungan, konflik agraria, pengembangan pertanian dan perikanan, pengolahan hasil perkebunan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
“Universitas jangan hanya mengajarkan teori di ruang kelas. Kampus harus turun ke desa, mendengar persoalan petani, nelayan, pelaku UMKM, dan masyarakat lingkar tambang. Hasil penelitian harus dapat membantu pemerintah dan masyarakat menemukan solusi,” katanya.
Selain riset, kampus juga diharapkan berperan dalam mendokumentasikan sejarah lokal, bahasa daerah, hukum adat, tradisi lisan, nilai-nilai keagamaan, dan kearifan masyarakat Fagogoru.
Di sisi lain, keberadaan perguruan tinggi berpotensi mendorong aktivitas ekonomi masyarakat melalui kebutuhan hunian mahasiswa, transportasi, konsumsi, perdagangan, serta tumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah di sekitar kampus.
Namun, manfaat tersebut perlu dihitung melalui studi kelayakan agar pendirian universitas didasarkan pada kebutuhan nyata dan perencanaan yang realistis.
Minta Pemkab Susun Kajian Kelayakan
Adam mengingatkan bahwa besarnya anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tidak secara otomatis menjamin keberhasilan pendirian perguruan tinggi. Pemerintah daerah perlu melakukan kajian komprehensif sebelum mengambil keputusan.
Kajian tersebut mencakup kebutuhan pendidikan tinggi, proyeksi jumlah mahasiswa, kemampuan fiskal daerah, biaya pembangunan dan operasional, kebutuhan tenaga pengajar, sarana-prasarana, serta keberlanjutan pembiayaan.
Ia juga mendorong Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah menjalin komunikasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, perguruan tinggi berpengalaman, serta lembaga terkait untuk menentukan model kelembagaan yang memungkinkan.
Pilihan yang dapat dikaji, kata dia, antara lain mendirikan perguruan tinggi baru sesuai ketentuan perizinan, mengembangkan kerja sama dengan perguruan tinggi yang sudah ada, atau membangun model pendidikan tinggi secara bertahap.
“Jangan sampai kita membangun kampus hanya karena memiliki anggaran besar, kemudian kesulitan membiayai operasionalnya. Yang kita inginkan adalah universitas yang benar-benar hidup, memiliki dosen berkualitas, menghasilkan lulusan yang kompeten, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia turut menekankan pentingnya keterlibatan DPRD, tokoh adat, tokoh agama, akademisi, organisasi kepemudaan, dunia usaha, dan masyarakat dalam merumuskan gagasan tersebut.
Menurut Adam, pendirian Universitas Fagogoru harus menjadi agenda pembangunan lintas generasi, bukan sekadar program yang bergantung pada kepemimpinan seorang kepala daerah.
Dorong Diskusi dan Penyusunan Naskah Akademik
Sebagai langkah awal, Adam mengusulkan pembentukan tim kajian yang melibatkan pemerintah, akademisi, tokoh adat, dan masyarakat. Tim tersebut diharapkan menyusun naskah akademik sebagai dasar untuk menilai kelayakan akademik, hukum, kelembagaan, pembiayaan, serta keberlanjutan operasional universitas.
Ia juga mengingatkan agar pengembangan UNFAG mempertimbangkan keberadaan perguruan tinggi lain di Maluku Utara sehingga tidak terjadi duplikasi program studi tanpa perencanaan yang jelas.
“Ini bukan hanya gagasan Adam Basirun, bukan pula semata-mata kepentingan satu kelompok. Ini adalah ajakan untuk mulai memikirkan masa depan pendidikan anak-anak Halmahera Tengah. Kita harus berani merancang masa depan yang lebih besar, tetapi tetap realistis, terukur, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Adam berharap gagasan tersebut dapat menjadi bahan diskusi serius bagi pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat.
Baginya, kekayaan sumber daya alam tidak akan selamanya menjadi penopang pembangunan. Karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan perlu dipersiapkan sejak sekarang.
“Kalau hari ini kita mampu membangun industri dan infrastruktur, maka kita juga harus mulai berpikir membangun pusat ilmu pengetahuan. Sudah saatnya Halteng memiliki cita-cita besar untuk menghadirkan Universitas Fagogoru. Sebab, masa depan daerah tidak cukup diwariskan melalui kekayaan alam, tetapi harus diperjuangkan melalui pendidikan,” tutupnya.
