Membaca Realitas

Demi Nafkahi Anak Istri, Pria 55 Tahun Ini Nekat ke Ternate

Isnain: Saya Rela Kerja Apa Saja

TERNATE (kalesang) – Isnain, salah satu pedagang pentolan di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, yang rela tinggalkan anak istrinya di Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
Lantaran kekurangan ekonomi, pria 55 tahun ini ikut saudaranya mengadu nasib di Ternate sejak Juni 2021.

Sebelum datang di Ternate, Isnain bekerja sebagai petani di sawah milik orang lain. Jadi, pendapatan yang didapatkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Pilihan yang diambil oleh Isnain ini terbilang cukup berat. Karena di usia yang sudah setengah abad lebih itu, dia masih berhadapan dengan panasnya matahari dan dinginnya hujan.

Baca Juga: Siswa SMAN 3 Kota Ternate Wakili Maluku Utara Ikut Pra POPNAS

Jadi, setiap pagi, dari Kelurahan Santiong, Kecamatan Ternate Tengah, Isnain dorong gerobaknya menuju ke salah satu SD yang ada di Kelurahan Salero, Kecamatan Ternate Utara.

Meski sudah berulang kali lakukan pekerjaan, tetapi kaki kanan Isnain yang sering menghambat perjalanannya, karena kaki kanannya sering sakit. Jika berjalan terlalu jauh, pasti akan merasakan nyeri di kaki kanan. Jadi, harus istrahat sebentar untuk hilangkan rasa sakit itu.

“Kalau pagi saya jualan di Salero, kemudian di sore hari saya jual di depan Benteng Oranje.” Katanya saat ditemui kalesang.id, Jumat (20/1/2023).

Baca Juga: Ini Profil Warga Kepulauan Sula yang Meninggal di Luar Negeri

Isnain menceritakan, pentolan dan gerobak ia gunakan untuk berjualan ini milik orang lain. Jadi, dari pendapatan akan dibagi dengan dengan pimiliknnya.

“Saya rela kerja apa saja, asalkan bisa kirim uang kepada istri dan anak saya.” Ucapnya.

Isnain mengaku pernah tidak bisa memberikan uang kepada kedua anaknya yang saat ini masih duduk di bangku SD dan SMP. Hal itu, membuat dia sangat sedih.

“Anak saya ada 3 orang. Yang pertama sudah menikah. Tinggal kedua dan ketiga yang masih di sekolah. Anak saya pernah minta uang untuk kebutuhan sekolah, tetapi saya tidak bisa penuhi karena tak punya uang.” Bebernya.

Yang paling menyedihkan, hari ini anak Isnain baru saja telepon minta uang. Tetapi ia belum ada rezeki untuk dikirim.

“Tidak setiap hari jualan saya terjual. Kadang tidak ada yang beli sama sekali. Kalau sudah begitu, yang jelas saya juga tidak bisa beli nasi untuk dimakan.” Pungkasnya.(tr-04)

 

Reporter: Halima Duwila 
Redaktur: Junaidi Drakel