Membaca Realitas

Orang Tua Calon Paskibraka Asal Kota Tidore Pertanyakan Hasil Seleksi

Sang Anak Lolos 7 Besar Seleksi Paskibraka Nasional Namun Dikembalikan ke Tidore

TIDORE (kalesang) – Asrul Dahlan, siswa SMA Negeri 6 Kota Tidore Kepulauan dikembalikan ke Kota Tidore Kepulauan setelah gagal lolos seleksi tingkat provinsi, untuk dikirim mewakili Maluku Utara masuk dalam formasi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional.

Perwakilan Kota Tidore yang mengikuti seleksi ialah Asrul bersama Darmanto Mandar dari SMA Negeri 8 Kota Tidore Kepulauan.

Keduanya tak lolos, namun Darmanto dipersiapkan untuk bergabung dengan Paskibraka tingkat provinsi, sementara Asrul dikembalikan ke Kota Tidore.

Hal ini membuat, orang tua Asrul tak menerima. Sebab mereka mengaku tidak penjelasan dari panitia kenapa anak mereka dibalikan ke Tidore .

“Kami dari orang tua tidak terima, anak kami mengalami trauma karena dia dan temannya yang lolos ke tingkat provinsi, kenapa hanya dia yang kembali ke kota.”Tegas Rahmatia Karaeng, di taman Universitas Nuku Tidore.

Dia bilang, bukan tidak menerima dengan hasil tersebut akan tetapi ia dan suaminya, Dahlan Fabanyo yang berprofesi sebagai motoris Speedboat Rum-Bastiong, ingin kejelasan mengapa hanya anaknya yang turun ke tingkat kota.

“Seharusnya ketika masuk di tujuh besar, ketika tidak lolos harusnya balik ke tingkat provinsi, kenapa kembali ke tingkat kota. Ini yang kami pertanyakan.”Tambah Dahlan.

Walau begitu, ia mengaku bahwa hingga sejauh ini, dirinya bersama sang istri belum melakukan koordinasi dengan panitia di provinsi, namun pasangan ini berharap agar dilakukan seleksi ulang secara transparan.

“Jadi kami minta agar seleksi dilakukan ulang secara transparan, dan kami diundang agar menyaksikan kemampuan anak kami secara langsung.”Tukasnya.

Terpisah, pendamping Paskibraka Kota Tidore, Him Haris Mustafa bilang, sesuai petunjuk teknis (juknis), harusnya Asrul sudah terhitung masuk dalam formasi pasukan Paskibraka di provinsi, ketika gagal di level nasional.

“Ini malah dikembalikan ke tingkat kota.”Katanya heran.

Kata dia, panitia provinsi berpendapat bahwa Asrul tidak lolos tes intelegensi umum (TIU) dan Tes Intelegensi Kebangsaan (TIK). Namun katanya, tahapan tersebut harus lebih dulu daripada psikotes, tetapi yang terjadi saat ini tahapannya terbalik.

Karena itu ia mengaku, ngotot mempertanyakan nilai tes Kesehatan, PBB, serta tes pengetahuan, namun hingga kini tidak ada peryataan apapun dari panitia provinsi.

Reporter: M. Rahmat Syafruddin
Redaktur: Wawan Kurniawan