Orang-orang memanggilku Kilandanu, bukan nama Eropa dan bukan pula nama yang harus dipuja-puja. Lingkungannya saja sedikit ku pahami, tapi tidak untuk bahasa mereka. Aku tak punya banyak teman, apalagi seorang guru. Negeri ku, biar saja menjadi misteri.
Di Eropa, ilmu dan pengetahuan sudah lahir sejak lama. Buku-buku pelayaran, ilmu perbintangan, dan teknologi perkapalan sudah dipelajari. Eropa melihat pengetahuan sebagai jalan menuju Tuhan, menuju kejayaan, berbeda dengan benua lainnya. Kalau dipikir-pikir, Eropa memang gila kalau soal buku.
Sebagai manusia, haruslah patuh dan tunduk kepada apa yang dia baca, dengar, lihat atau pelajari, itu yang dipegang oleh orang-orang Eropa. Mereka menjunjung tinggi nilai-nilai pengetahuan.
Pemikiran modern pun lahir dari sana. Mereka yang temukan semua-muanya. Kita harus pelajari apa yang mereka sudah perbuat, dari situ pastilah kita mengerti akar masalahnya. Setidaknya itu yang aku pernah dengar dan ketahui.
Aku sedikit mengagumi tentang Eropa!!
Kalau dihitung-hitung, Wilson telah mengeluarkan tiga ribu lima puluh dua kata dari mulutnya. Menghakimi ku dan tuan ku sejak pagi. Ia melampiaskan kekesalannya tentang jalan becek di pertigaan yang tak jauh dari rumahnya;
“Memang kau dan tuan mu tak peduli, Klan. Lihat saja jalan becek itu,” tuduh Wilson yang memanggilku dengan nama Klan, sebutan itu seperti orang-orang yang mengklaim punya keturunan sama.
“Anak muda seperti mu harusnya sudah pandai melihat apa yang benar dan salah, tapi……”
“Tapi, kenapa?”
“Kau memang tak mungkin punya nyali melawan tuan mu yang katanya bijaksana itu, begitu kan Klan?”
“Tidak,” aku mengelak. “Apa yang kau pahami tentang bijaksana?”
“Mengambil keputusan yang tepat…. diikuti pikiran, ucapan, dan tindakan yang selaras….memperbaiki apa yang rusak….”
“Apa lagi?”
“Sedikit turun ke jalan temui penduduknya, bukan kah begitu orang-orang Eropa mengajar kan kita….”
“Kita?…. Eropa?”
“Kau tak pelajari tentang Eropa? Sungguh kau sedikit ketinggalan. Ahh, aku lupa kau hanya seorang…..” ia tak melanjutkan ucapannya yang agak menghina itu.
“…..Sekarang Eropa sudah bangkit, Klan. Banyak yang mereka bikin! Meriam-meriam terbuat dari besi, bentuknya kecil panjang, tapi tenaganya buat badanmu menghancur…..Lupa aku di mana membaca itu…..memang orang-orang kulit putih itu belajar banyak hal, Klan,”
“Kau tak akan tahu tentang Eropa! Apalagi ke sana, kau hanya ikut-ikut jari telunjuk tuan mu saja…..Eropa, tepat orang-orang menyematkan panggilan untuk negeri itu!” tudingnya.
Jujur aku ingin menyuruh Wilson diam, tapi itu tidaklah mungkin, usianya jauh lebih tua dariku. Kata orang, hidup itu harus punya aturan, yang muda harus menghargai yang tua. Peraturan macam apa itu? Bukankah semua sama? Tapi aku tetap saja mengikuti aturan moyang, meski begitu, aku sendiri tak tahu sejak kapan aturan semacam itu disepakati.
Tentang Wilson, dia adalah teman ku satu-satunya, orangnya sederhana, tapi mulutnya tidak. Darahnya mengalir Eropa – Cina, tak tahu berapa banyak gumpalan darah atau daging menyatu ditubuh lelaki berwajah Eropa itu. Aku cukup paham otaknya; pandai menuding, melecehkan, merayu perempuan, bahkan tidak segan-segan untuk menghina orang. Walau begitu, Wilson takut dengan istrinya.
Juga sama; istri Wilson banyak berbicara. Namanya Helena, orang lokal. Kalaupun bercerita, ia lebih banyak menyudutkan suaminya, kalau apa-apa yang dikerjakan tak selesai dan pergi tanpa memberitahu tahu, Wilson siap-siap kena getahnya. Bisa saja perempuan itu mengusir suaminya dari rumah. Tapi hatinya baik, itu yang kuketahui.
Itu pula yang membikin aku bertemu kali pertama dengan Wilson! Ketika dia pergi keluar rumah tanpa seizin istrinya, saat menonton sebuah sayembara mengerikan. Sungguh, begitu kuat kedudukan perempuan. Ia akan pegang kendali dan genggam seluruh kelemahan seorang laki-laki.
“Kau mau ke sana?” tanya Wilson.
“Ke mana?”
“Eropa!”
Aku tak menjawab. Diam!
“……Kau memang tak mungkin ke sana, kau ditakdirkan mati di negeri istriku Klan, di bawa telunjuk tuan mu yang bijak itu,” kali ini ia kembali mengejek.
Aku masih diam.
Aku sedikit tersinggung. Seakan-akan dia tahu semua tentang diriku, tentang kelemahan ku, seperti istrinya yang tahu kelemahannya. Padahal, belum kuceritakan sepenuhnya, apalagi tentang dari mana aku berasal, tentang negeri ku yang lebih kaya dari negeri istrinya. Wilson; hanya pandai menghakimi, tapi ucapannya sedikit aku timbang-timbang.
Dan Wilson terus membantah dan berbicara, tidak lupa juga menghina ku, yang katanya terus patuh dan tunduk terhadap telunjuk tuannya.
“Aku akan ke sana!” Jawabku tegas.
Tapi aku tak menyesal kenal dengan Wilson. Tentu bukan karena dia terus menghinaku. Tapi, ilmu dan pengetahuannya lebih tinggi. Ia tak melihat ku seperti orang-orang pada umumnya, mau berbagi pengetahuan. Aku banyak belajar darinya, bukan soal perempuan, melainkan tentang Eropa, perkataan Wilson belum pasti benar adanya. Dan belum tentu ia sudah sampai ke sana, hanya moyangnya saja memang lahir di sana. Biar kuceritakan kali pertama bertemu dengan orang yang suka menghakimi ini;
Suatu waktu, tepatnya Jumat Kliwon, pagi. Genap dua tahun aku bekerja untuk tuan ku Sang Raja. Sikapnya seperti raja-raja Eropa. Padahal, darahnya tak ada setetes pun mengalir dari orang-orang kulit putih itu. Negeri yang dipimpin tuanku ini sangat masyhur di telinga orang Cina dan Arab. Mereka juga menjalin hubungan perdagangan, tempatnya memang strategis.
Benar ucapan Wilson, menjadi seorang budak tugasnya hanya mengikuti perintah tuannya. Tunduk kepada mulut dan telunjuk pemberi perintah. Tapi aku sedikit beruntung dari budak yang lain. Tidak bekerja di ladang, tidak dicambuk kalau bikin kesalahan, atau bahkan tidak dibunuh dengan sengaja. Persisnya, aku budak yang bisa dibilang punya kebebasan, tetapi adakah budak yang punya kebebasan di dunia yang luas ini? Kata Wilson, budak tetaplah budak.
Setiap awal tahun bulan ketiga kalender, negeri tuan ku ini banyak dikunjungi orang-orang. Mereka datang berdagang. Menukar barang-barang berharga hanya dengan mutiara hitam. Pernah sekali Raja Cina mengunjungi negeri tuanku. Kala itu, bertepatan akan dihelatnya sayembara. Sayembara atau permainan ini beda dari yang lain, di mana prajurit yang ingin naik pangkat akan mengikuti permainan ‘bermain’ dengan para budak. Ini digelar tiap tahun, tanggal 13 Maret.
Pagi-pagi, penduduk sekitar mulai berkumpul menyaksikan. Tempatnya di belakang istana, pintu masuk untuk penduduk ada dua, terletak di sebelah selatan dan utara. Luas tempatnya tak berbeda seperti lapangan sepak bola. Bedanya, di tempat itu tak ada sedikitpun rumput. Tanahnya keras, kalau para prajurit dan budak sudah ikut dalam permainan, abunya akan terbang sampai ke lubang-lubang hidung para penduduk yang sedang berdiri. Penduduk dibatasi dengan tali lingkaran yang berbentuk bulat, jaraknya sekitar lima sampai enam meter dengan para pemain. Di sisi barat dan timur luar lingkaran itu, berdiri bangunan yang terbuat dari kayu. Tingginya hanya dua meter, mungkin juga lebih.
Sementara Sang Raja, akan duduk dengan kursi kebesarannya, dua dayang-dayang terus mengibaskan kipasnya meski Raja tak merasa kepanasan. Di samping-samping dan belakang kursi Raja, berjejer kursi yang terbuat dari anyaman rotan. Di situ, tamu-tamunya akan duduk ikut menyaksikan permainan. Raja akan menyaksikan permainan itu dengan nyaman, tenang dan gembira, ia melihat dari atas. Memang sempurna, apa yang kita lihat dari atas selalu kecil, dan tentu menyenangkan. Perempuan dan laki-laki yang sudah menikah diharuskan ikut menyaksikan. Kecuali perempuan tua, perempuan yang sedang hamil, serta anak-anak di bawah lima belas tahun, mereka tidak diperbolehkan ikut.
Permainannya dimulai dengan membagi tim menjadi dua; masing-masing tim diisi sembilan orang. Waktu permainan hanya lima belas menit. Tim pertama akan diisi prajurit yang memegang pedang, sumpit panjang, disertai dengan baju perang lengkap seperti prajurit-prajurit Romawi. Sedang tim kedua adalah para budak-budak laki-laki yang dianggap tidak bisa lagi bekerja; budak tua, pemalas, dan hanya banyak makan, mereka tak memegang apa-apa.
Gong berbunyi. Tanda permainan dimulai, sembilan budak mulai ditutup matanya dengan kain hitam, mereka kemudian ditenteng masuk ke tengah lingkaran. Di lepas begitu saja, seperti ayam yang akan bertarung. Tiga prajurit maju dengan pedang di tangan, juga matanya tertutup. Sedang enam prajurit lainnya naik ke bangunan yang berdiri dua meter di sebelah barat dan timur, masing-masing diisi dengan tiga orang. Mereka memegang sumpit atau senjata tradisional yang terbuat dari buluh bambu kecil.
Gong kembali dipalu. Diikuti dengan sang Raja yang berdiri. Ini pertanda prajurit sudah diperbolehkan ‘bermain’. Tiga dari sembilan budak tak mengenakan baju, hanya celana putih ada pakai pendek ada juga yang panjang, satu di antaranya sudah tidak muda lagi. Di situ, seluruh budak berlarian tak tentu arah, mereka harus menghindar dari hantaman pedang tiga prajurit dan anak sumpit yang ditiup.
Ketika berlari, para budak kadang-kadang saling bertabrakan. Kalaupun bertabrakan dengan salah satu prajurit, matilah dia. Dengan nafas yang tak beraturan, para budak terus berlari. Meski tak tentu arah, mereka tak boleh berhenti. Sedang Sang Raja terbahak-bahak menyaksikan tontonan itu. Wajahnya memerah saking senangnya. Jari telunjuknya menunjuk ke salah satu budak tua diikuti tertawanya. Budak tua itu tak kuat lagi untuk menghindar. Alhasil, kepalanya sobek akibat hantaman pedang. Mati.
Satu menit lagi permainan selesai. Tersisa dua budak. Jika waktu selesai tapi masih ada yang hidup, maka para budak dianggap menang. Dalam aturan, yang menang digantung hidup-hidup. Dua budak menjerit kesakitan, sebab merekalah pemenangnya. Digantung di depan raja-raja dan tamunya. Gong ketiga berbunyi, permainan selesai.
Dan sekelilingku masih tetap saja ramai, bendera-bendera kerajaan berdiri disetiap sudut, tak ada meriam di negeri tuanku ini. Hatiku, tetap saja tidak senang. Pergilah aku dari keramaian gila itu. Masih di lingkungan kerajaan, ku duduk di bawah bangku panjang yang terbuat dari kayu jati. Di belakang kursi panjang itu, ada dua gambar naga saling berhadapan.
Sekitar sepuluh meter dari tempat ku duduk. Laki-laki tua dengan celana pendek merah kecoklatan sedang asyik menikmati rokok. Asapnya terbang meng-udara kian kemari. Aku mendekatinya, tentu harus basa-basi;
“Kau suka dengan permainan tadi pak tua,” pandangan ku kubuang ke matanya yang cipit. Ia sedikit terheran-heran.
Ia kembali menatap…”Orang sini?”
“Bukan…..”
“Darimana kau….tampangmu seperti budak,” ia memvonis.
“Aku sudah dua tahun menjadi budak sejak dibeli dari negeri seberang,”
“Namamu?…… Hey anak muda aku tak suka kau panggil aku pak tua. Tampangku memang demikian, hatiku tidak,”
Posisi duduknya diperbaiki, seperti sedang dalam kegelisahan, kemudian melanjutkan:
“Kau takut perempuan? Semoga saja tidak……Istriku marah, aku takut pulang,”
“………Ayo ikut aku anak muda, nanti kuceritakan tanggapan ku dan sejarah soal permainan itu,” ajaknya.
Kami melewati jalan setapak. Sesekali, kami dapati jalan-jalan berlubang yang belum diperbaiki. Di sini masih tumbuh pohon-pohon besar, rumah-rumah penduduk tak begitu banyak. Sepanjang perjalanan pak tua bercerita sejarah berdirinya kerajaan. Dari raja pertama yang berkuasa, hingga raja sekarang. Sebelumnya, ia sudah beritahukan darah keturunannya, tapi tidak dengan namanya. Namaku sendiri, sudah kusebutkan.
Setelah berjalan kaki tiga ratus lima puluh meter. Kami mendapati pertigaan. Bukan pertigaan seperti di kota-kota. Wajah pak tua cemas-cemas. Tak tahu kenapa. Aku pun demikian. Sebab, ini kali pertama aku pergi jauh. Kalaupun Sang Raja atau bawahannya tahu, matilah aku di negeri asing ini. Kami singgah di rumah berdinding papan, di belakangnya, ada dinding yang terbuat dari bambu. Terasnya tak terlalu luas. Di depan rumah, tiang dengan papan kecil diujungnya tertancap di tanah bertuliskan; Wilson Gerard Both.
“Tunggu….duduk di situ,” ia menunjuk kursi di sebelah kanan teras, tepat di bawa jendela. Sedang pak tua, ia masuk ke dalam rumah. Rumahnya sendiri.
Belum lama masuk. Suara perempuan terdengar marah-marah. Suara Wilson; namanya kuketahui sejak membaca papan di depan teras, terlalu kecil. Meski begitu, suaranya kadang-kadang terdengar jelas, kadang juga tidak. Perkelahian mulut terjadi cukup lama. Aku masih duduk. Tak lupa untuk menguping, sembari bola mataku berkeliaran ke sana kemari memastikan tak ada bawahan atau prajurit tuan raja lewat.
Tak lama, Wilson keluar dari dalam rumah bersama istrinya yang sedang hamil lima bulan. Wajahnya menggambarkan bahwa dia orang lokal. Wilson memperkenalkan ku. Baru kutahu ajakan pak tua ini adalah menutupi kemarahan istrinya, Helena. Demikian aku bertemu Wilson dan istrinya. Sejak saat itu aku sering pergi ke rumah mereka dengan sembunyi-sembunyi.
DAN SEKARANG aku sudah punya Raja Baru. Menjadi budak untuk tuan baru. Tuan ku ini orang Eropa. Ya, aku telah berada dan menginjakan kaki ke tanah Eropa, aku sudah dijual. Tak tahu berapa harga jual ku. Beruntung aku tak dibunuh dengan sengaja. Ceritaku di atas terjadi selama masih di negeri jauh. Bukan di Eropa, bukan pula di negeri ku. Tentang tanggapan dan sejarah pak tua Wilson soal permainan dan sayembara gila tak pernah kuketahui.
Wilson, aku membuktikan ucapanku. Aku sampai di negeri lahirnya orang-orang berilmu dan berpengetahuan, EROPA! ***
