Membaca Realitas

Cerita Singkat Tentang Mayangsara

Sepanjang usia perjalanan yang semakin senja, tua, bahkan purba. Sepotong nama kecil yang indah, Mayangsara, tertulis di langit-langit putih yang tak hendak menanti hujan. Mayangsara begitu terang, meskipun sebagai sepotong nama kecil, ia menjelma galaksi dan seperangkat tata surya di langit.

Matahari, bulan, bintang, dan planet-planet siap hidup dan mati bersama Mayangsara. Tapi Mayangsara tak sekadar nama, ia salah satu perempuan yang terciptamungkin benarketika Tuhan sedang tersenyum.

Mayangsara memulai perjalanan penuh tenang. Ia bahkan tak pernah risau terhadap tumpukan masalah-masalah. Bisa jadi, ia adalah penjelmaan dewi yang kebal terhadap segala persoalan. Perjalanan yang Mayangsara tapaki adalah perjalanan memperoleh sejumlah mimpi. Meskipun baginya, mimpi hanyalah setumpuk halusinasi yang mengganggu pikiran dan perasaan, tapi ia tetap berjalan, terus berjalan, bak tuan Alexander di Yunani masa lampau.

Sejak perjalanannya dimulai, mimpi-mimpi Mayangsara seolah tak memberi jarak. Mayangsara dan sejumlah mimpinya begitu berdekatan. Meskipun dekat, Mayangsara rupanya agak kesulitan menggenggam mimpi.

Hingga suatu waktu Mayangsara mendapati dirinya berada pada suatu pertemuanTepat saat matahari memerah, kailaun senja memenuhi ruang angkasa, Mayangsara yang elok rupa duduk di sebuah bangunan tua bersama kawanannya. Bersama kawanannya, mereka sehabis berkegiatan di sebuah pantai yang lumayan jauh dari tempat mereka duduk sekarang.

Tubuh mereka lelah, wajah lesuh, tetesan keringat jelas tecurah di wajah. Rupanya, kegiatan itu telah menghabiskan separuh tenaga dan senyuman. Kendatipun dari semua tubuh yang lelah, dan wajah yang tak nampak bahagia, keelokan wajah Mayangsara masih terbit pada sepotong senyumannya yang malu-malu.

“Kau terlihat begitu lelah. Tiada tersisakah sedikitpun tenaga padamu?”

Seonggok kalimat tanya itu menghampiri Mayangsara pada jarak yang kurang begitu jauh. Ia menoleh, tepat di belakang punggungnya berdiri seorang laki-laki biasa yang hendak basa-basi.

Dengan senyuman yang diusahakan, Mayangsara berbenah dan menjawab sebisanya, “maaf, kak. Dua hari berkegiatan, sepertinya tenagaku hampir terbenam.”

Seusai memberi jawaban, Mayangsara tak luput menerbitkan kembali semburat senyum di wajahnya. Hari kian sore, sembari menunggu mobil jemputan, lelaki yang sejak tadi berdiri di belakang punggung Mayangsara terus mencoba mencipta percakapan.

Benar, kegiatan ini memang wajar menghabiskan tenagaSudah sejak dahulu, Mayangsara! Lelaki itu membenarkan Mayangsara. Sudikah kau memberi sesuatu untuk dapat memulai kembali percakapan setelah pertemuan ini?” lanjut laki-laki itu.

Seperti biasa, Mayangsara tersenyum malu-malu ketika ungkapan laki-laki itu menghampiri telinganya. Namun, tidak ada jawaban, rupanya senyum Mayangsara adalah sinyal untuk dapat dimengerti oleh laki-laki itu. Sehabis memberi sinyal melalui senyuman, Mayangsara beralih dan meninggalkan percakapan. Pertemuan yang tak berkepanjangan itu meninggalkan sejumlah mimpi baru yang harus kembali digapai oleh Mayangsara.

Mayangsara sadar, singkat pertemuan bersama seorang laki-lakiasing itu menghendaki hatinya untuk mencipta penasaranSelama dua hari berkegiatan, terlalu banyak laki-laki yang merayunya, tapi tak sesaat pun ia mendapati laki-laki yang baru saja berbicara dengannya di depan bangunan tua tadi.

Rasa penasaran bermuara di pikiran Mayangsara. Hendak ia berdialogdengan angin, tapi angin hanyalah fana. Ia ingin menemui senja, tapi senja terlalu pendek umur untuk berdialog. Mayangsara tenang. Sebagai penjelmaan seorang dewi, Mayangsara cukup pandai untuk menolak segala masalah.

Ia mengambil sesuatudipegangnya sebuah telepon untuk mencari kontak laki-laki yang ditemunya tadi. Atas rasa penasaran dan sikap gengsi perempuan, terjadilah pemberontakan dalam pikiran yang akhirnya menjadi dingin. Mayangsara tiba pada sebuah keberanian sang dewi, bahwa cinta tak sebenarnya dipendam.

“Halo, kak. Saya Mayangsara. Kita bisa memulai kata-kata sekarang.” Ucap Mayangsara melalui telepon seluler yang digenggamnya.

Sejak saat itu, satu di antara mimpi-mimpi Mayangsara e igapainya. Perjalanan menjadi semakin panjang dan bahagiaKeikutsertaan semesta membantu Mayangsara memudahkannya menjadi sang Dewi. Tapi Mayangsara bukan sebenar-benarnya dewi, ia hanya perempuan biasa yang tidak terlalu senankapada kebanyakan kata-kata.

Mayangsara terbiasa dengan sebuah sikap dingin. Kepribadian Mayangsara tak tertembus oleh apapun, ia perempuan yang dihendaki semesta untuk menjadi kuat.

Hingga pada sebuah malam yang paling gelap, paling dingin terhembus angin, Mayangsara dan seorang laki-laki itu memulai pertemuan yang kelak menjadi cerita abadiCerita yang kekal oleh malam, oleh siang, oleh rembulan, oleh matahari, dan oleh sejumlah mata yang pernah menemui mereka.***